All language subtitles for Panggonan Wingit 2 Miss K 2024 WEB.DL 1080p

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam Download
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian Download
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian Download
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish Download
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Semua dimulai 4 hari yang lalu.

Berawal dari plafonku yang bocor.

Rahmi.

Saya minta kamu pastiin lagi dong.

Karena saya yakin saya taruh di situ.

- Ya? - Nggih, Bu.

Bu.

Iya?

Unit aku bocor lagi.

Unit 510.

Deres airnya.

Ini gimana?

Udah capek saya complain.

Iya, maaf ya, Mbak.

Coba dicek lantai enam.

Unitnya pas persis di atas aku.

Pasti asalnya dari situ, Bu.

Maaf, tapi lantai enam itu ditutup,

dan gak boleh ada yang masuk, Mbak.

Tapi gapapa, gapapa.

Besok saya akan panggilkan teknisi,

dan akan memperbaiki plafon Mbak yang bocor, ya?

Ini bocor udah ketiga kalinya loh, Yun.

Maaf, Mbak.

Mereka terus aja begitu.

Kesel aku.

Masa bodoh dimarahi.

Aku cuma mau masalahnya cepat beres.

Jadi,

aku cek ke unit yang persis di atas unitku.

Siapa?

Ada orang di dalem?

Miss K.

Masuk saja.

Empat hari.

Maghrib.

Empat hari. Maghrib?

Iya.

Setelah itu,

setiap harinya,

rasanya ada yang aneh, Yun.

Seperti ada yang mengikutiku.

Aku pernah terkunci sendirian di gudang.

Kalau tidak ada yang lewat, habis aku.

Rasanya seperti mau mati.

Habis nafasku.

Waktu aku berenang,

seperti ada yang menarikku.

Aku ditenggelamkan, Yun.

Tapi yang menarik aku tidak kelihatan.

Sekarang sudah hari keempat.

Aku takut, Yun.

Mbak.

Mbak Tika tidak minum obat dari Dokter Rani, ya?

Mbak harus tetap minum obat.

Supaya penyakit halusinasi Mbak tidak kambuh lagi.

Mbak segera minum obat,

terus mandi,

lalu makan.

Mbak Tika?

Mbak?

Mbak!

Mbak!

Mbak!

Mbak Tika!

Mbak!

Monggo, Mbak, Mas.

Soto Lamongannya.

Tahu teknya enak loh.

- Kamu mau? - Ngga dulu deh, Kak. Makasih, ya.

Permisi.

- Hai. - Mau coba makanan khas Surabaya?

- Khas Jawa. - Makanan Indonesia?

- Iya. - Oh, maaf.

Kami tidak suka. Terima kasih.

Terima kasih.

Maaf, Mbak Alma.

Gaji kami bulan ini

dibayar penuh atau setengah?

Kami mengerti,

rumah makan sedang sepi.

Mbak juga kebutuhannya banyak.

Untuk bayar perawatan jantung Ibu,

bayar sekolahnya Mbak Mia.

Tapi saya dan yang lainnya

juga butuh, Mbak.

Aku usahakan

kalian semua dibayar penuh.

Terima kasih banyak, Mbak Alma.

Iya, sama-sama.

Mari.

Halo?

Allahummaghfirlaha

warhamha

wa'afiha

wa'fuanha

rabbana aatinaa fiddunya hasanah

wa fil aakhirati hasanah

waqinaa adzabannaar.

Subhana rabbika rabbi izzati ama yasifuun

wasalamun ala mursalin

walhamdulillahirabbil alamin.

Maaf aku terlambat.

Pesawatku delay.

Alma.

Alma.

Kamu harus istirahat.

Kata Mia kamu belom istirahat sama sekali

sejak kamu ngurus rumah sakit dan pemakaman.

Kamu ikut pengajian sampai selesai kan?

Atasanku cuma ngasih aku waktu sebentar.

Aku kan baru tiga bulan pindah ke Surabaya.

Aku harap kamu ngerti.

Bagaimana kalau kamu dan Mia pindah ke Surabaya?

Kalau kita masih satu kota,

begitu kamu butuh, aku bisa cepet bantu.

Trus rumah makan Ibu gimana?

Kalau rumah makan sepi seperti yang kamu bilang…

Kamu mampu tanggung operasionalnya gak?

Aku tahu,

tempat ini penting buat kamu.

Buat Ibu.

Tapi kamu dan Mia juga harus bertahan hidup.

Surabaya kotanya nyaman.

Kamu bisa cari pekerjaan di sana.

Dan kamu dan Mia

bisa mulai kehidupan yang baru.

Yan.

Masih banyak yang harus aku urus di sini.

Aku banyak utang.

- Tagihan rumah sakit… - Aku bantu.

- Tapi… - Gak usah dijawab sekarang.

Sekarang, kamu fokus ke Mia.

Saat ini Mia lebih butuh kamu.

Dan Alma,

saat kita menikah nanti,

aku janji.

Kita gak akan seperti orang tua kamu.

Beberapa hari kemudian

KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA

Apartemen Sasmaya?

Iya.

Jadi, kebetulan mereka lagi nyari manager apartemen.

Cocok kan sama kualifikasi aku?

Halo?

Iya, udah dua mingguan lebih

aku lagi selidiki kasus pembunuhan mutilasi.

Dan korbannya itu

penghuni dari Apartemen Sasmaya.

Pembunuhannya sendiri sih gak terjadi di apartemen itu, ya.

Terjadi di rumah dari adiknya kalau gak salah.

Yan, aman gak aman hanya tempat ini yang nerima aku.

Dan gajinya juga lumayan kok.

Jadi, mudah-mudahan aku bisa lunasin semua utang-utangku.

Ya, sejauh ini sih aman-aman aja ya.

Apartemennya juga lumayan bagus, kok.

Oke.

Alma.

Iya?

Kalau aku berhasil beresin kasus ini…

Aku naik pangkat.

Artinya,

aku bisa kredit rumah untuk kita.

Yan.

Bisa gak, gak bahas itu dulu?

Kamu kan tahu Mia fokus aku sekarang.

Iya.

Ya udah.

Kamu kasih tahu aja kapan kamu ke sini,

biar aku bisa minta izin sama atasan.

Nanti aku jemput kamu dari stasiun, dan aku anterin kamu ke apartemen.

- Yan. - Udah, ya.

Aku harus izin terlambat masuk kantor ke atasan dulu.

Sampai ketemu besok.

Seneng juga kan diperhatiin sama Mas Rayyan?

Mia?

Gimana menurut kamu kota Surabaya? Suka gak?

Bagus kok kotanya.

Ibu pasti seneng banget kita ke sini, Mbak.

Kita kan orang asli Surabaya.

Iya dan kalian bisa sekalian ngelancarin ngomong Bahasa Jowo di sini.

Bukannya deket-deket sini ada sanggar tari, ya?

Iya, ada sanggar tari Bu Rini.

Iya Mia? Kalo kamu mau kamu bisa kursus di sana.

Mumpung masih libur sekolah.

Cie yang mau jadi penari.

Ya, emang.

Eh, Mas!

Sugeng rawuh.

Selamat datang.

Silakan masuk.

- Sini saya bantu. - Terima kasih.

Ini ya, Mbak Alma. Cantiknya.

Panggil aja Alma.

Ya, ya, ya.

- Saya Wulan dan ini Aiman suami saya. - Ya.

Kami pemilik apartemen di sini.

Apa kabar, Pak?

Alhamdulillah, baik.

Oh, ini adik saya.

Mia.

- Mia. - Mia kelas berapa sekarang?

Kelas dua SMA.

Sebelumnya kami

turut berduka cita ya atas meninggalnya Ibu.

Mbakmu yang cerita.

Tapi kamu gak usah sungkan-sungkan.

Anggap kami semua di sini seperti keluarga.

- Ya? - Iya.

Ini Rayyan.

Mas Rayyan. Apa kabar, Mas?

Sehat.

- Nganterin aja. - Oh, iya.

Aku udah pernah ke sini

untuk penyelidikan kasus.

Silakan.

Saya antarkan ke unit kalian.

- Silakan, silakan. - Lewat sini.

Yang dihuni hanya lantai satu sampai lima saja.

Lantai tujuh sampai 12 tidak digunakan.

Tapi

kami lagi mau mencoba untuk memasarkannya kembali.

Lantai enam tidak dipasarkan?

Lantai itu banyak kerusakan.

Takutnya berbahaya. Jadi, kami tutup.

Dan dilarang untuk masuk.

Silakan, silakan.

Nah nanti kalian berdua

tinggalnya di sini.

Nanti kalau ada apa-apa,

jangan sungkan-sungkan ngehubungin kita.

Kita tinggalnya di kamar 305, ya?

Untuk Mas Rayyan,

dan pihak kepolisian

kalau membutuhkan sesuatu atau apa

kami siap untuk membantu.

- Oh, iya. - Baik, terima kasih, Bu.

Dan untuk Alma,

saya dan suami saya

mau pergi ke Madiun dan kemungkinan baru balik besok.

Jadi, kalau kamu butuh bantuan

atau apa, monggo,

kamu bisa tanya dulu sama pegawai yang lain, ya?

- Ya. - Iya, Bu.

Yaudah kami pamit dulu ya?

Mari.

Emang kasusnya udah sampe mana?

Masih buntu.

Tapi ternyata setelah kita selidiki,

empat tahun yang lalu juga ada korban

yang dimutilasi dengan cara yang sama.

Mia ke kamar dulu ya, Mbak.

Iya.

Gak ada tanda-tanda pemotongan tubuh dengan menggunakan alat,

gak ada sidik jari pelaku,

dan anehnya,

anggota tubuh seperti ditarik begitu saja sampai lepas.

Nah, korban empat tahun yang lalu itu,

petugas kebersihan dari apartemen ini.

Tapi sama seperti kasus ini,

kejadian mutilasinya bukan di apartemen ini.

Nah kita udah wawancara Pak Aiman, Bu Wulan,

dan semua karyawan di sini, gak ada yang tahu apa-apa.

Jadi, pada saat ini sih indikasinya

apartemen ini gak ada kaitannya.

Tapi kalo kamu ngerasa ada yang janggal,

kamu langsung kasih tahu aku.

Kangen sama Ibu, ya?

Mas Rayyan udah pulang, Mbak?

Udah.

Jangan digantung terus, Mbak.

Udah tiga tahun loh Mas Rayyan nungguin Mbak.

Mbak gak ngegantungin dia.

Mbak hanya mau betul-betul yakin

kalau dia itu orang yang tepat.

Mbak gak mau apa yang terjadi sama Ibu terulang.

Maksud Mbak, Ayah?

Mbak.

Ibu kan udah pernah cerita sama kita

kalo misalnya kepergian Ayah tuh

sulit buat Ibu jelasin.

Ibu nemu banyak banget kejanggalan di hari di mana Ayah pergi, Mbak.

Ayah berubah jadi orang yang Ibu gak kenal.

Mbak inget, kan?

Ibu waktu itu sampe manggil ustad, sampe manggil orang pinter

dan mereka semua bilang kalo Ayah emang dibawa sama makhluk gaib.

Iya, itu hanya bisa-bisanya Ibu aja

untuk nutupin kejelekan Ayah.

Udah jelas Ayah selingkuh.

- Ibu ngapain bohong sama kita, Mbak? - Mia!

Mbak mau fokus sama tanggung jawab Mbak.

Yaitu jaga kamu.

Mbak boleh mikirin Mia, tapi Mia gak boleh mikirin Mbak?

Mia juga mau Mbak mikirin kebahagian Mbak sendiri.

Lagian Ibu juga sayang banget kok, Mbak, sama Mas Rayyan.

Mia yakin kalo misalnya Ibu tahu Mbak ada yang jagain di sini,

Ibu bakal lebih tenang, Mbak, di sana.

Udah, gak usah dibahas.

Mbak.

Kalo Mbak Alma emang gak serius sama Mas Rayyan,

mendingan Mbak tinggalin aja.

Kasihan.

Halo, dengan Rayyan?

Apa?

Adik korban?

Empat hari.

Maghrib.

Empat hari.

Maghrib.

Empat hari.

Maghrib.

Empat hari.

Maghrib.

Ini pertama kalinya dia bicara.

Itu terus yang diucapkan.

Berulang-ulang.

Miss K.

Miss K.

Miss K.

Malam, Mbak.

Maaf, unit plafon saya bocor.

Bisa tolong dicek?

Baik, Pak.

Ini sudah bocor yang ketiga kali.

Sudah juga teknisi datang ke sini

dan benerin plafonnya.

Tapi… Prita! Awas kepeleset toh, Nak.

Tapi yang ada.

Bocornya ini

malah makin lebar sampai ke tembok ini nih.

Ini sumber masalahnya pasti dari lantai enam.

Ada yang bikin bocor dari sana.

Dan unit sebelah juga pasti bocor, sama.

Tika pernah ngeluh bocor juga soalnya.

Maaf, Tika siapa ya?

Almarhumah, yang dimutilasi itu loh.

Sebelah situ unitnya.

Nah, ini unit Tika.

Ini memang parah sekali sih, Pak.

Benar, kan, Mbak?

Sumbernya pasti dari unit persis di atas unit ini, Mbak.

Malam ini saya harus keluar kota.

Kemungkinan minggu depan saya baru pulang.

Jadi, saya gak mau ada yang bocor kayak gini lagi.

Baik, Pak.

Mbak, teknisi sudah pada pulang. Besok saja, ya?

Iya, Mas Setyo.

Tapi iki netesnya lumayan parah loh.

Ayo temani aku.

Waduh, lah lift penghuni lift barang semuanya ditutup loh, Mbak.

Kita gak bisa akses ke sana.

Ya, sudah, lewat tangga.

Lewat tangga, ya tidak bisa, Mbak.

Pintu servis, pintu darurat, semuanya dikunci.

Ini benar-benar tidak bisa ke sana.

- Kuncinya di mana? - Tidak tahu, Mbak.

- Ya sudah, saya pulang dulu ya. - Ya.

Mbak.

Tadi Mia abis dari sanggar tarinya,

trus besok bisa langsung mulai katanya.

Terus Mia disuruh mau nari Tari Topeng Malangan namanya.

Mbak?

Mbak dengerin Mia gak sih?

Temenin Mbak.

- Mau ke mana? - Ikut aja.

Pegang bentar.

Eh, Mbak.

Mau dirusak?

Ini kalau rusak bisa diganti.

Tapi kalau sumbernya gak dibenerin,

bisa banjir di bawah.

Ini sumber masalahnya.

Engga ada bocor kok, Mbak, di sini.

Siapa?

Ada orang di dalam?

Miss K.

Masuk saja.

Mbak.

Empat hari.

Maghrib.

Mbak! Ayo, Mbak!

Mbak!

Mbak.

Mbak cerita sama Bu Wulan besok.

Mas Rayyan kasih tahu juga, Mbak.

Selamat pagi.

Selamat pagi.

Yo wis iya, mari Pak.

Mbak Alma?

Teknisi sakit hari ini. Jadi, gak bisa masuk.

Unit 509-nya

baru bisa diperbaikinya besok.

Gimana kalo suruh petugas kebersihan aja?

Belum datang juga.

Saat Rayyan sampai nanti, suruh dia langsung ke unit itu.

Oh, gitu. Okelah, Mbak. Siap.

Bu Rini.

Topeng-topeng ini topeng yang dipake

buat Tari Topeng Malangan.

Apik-apik yo?

Iya, Bu.

Oh ya Mia.

Murid-murid sekelas kamu belum pada dateng.

Kamu duluan aja, yo?

Nanti Ibu nyusul.

Baik Bu, kalo gitu Mia duluan ya.

Misi.

Prita?

Kamu gak ikut pergi sama bapak kamu?

Prita?

Ada siapa, Nak?

Mbak Alma.

Mbak Alma?

Masuk saja, Mbak.

Iya.

Bagaimana, Mbak, rambut anak saya?

Cantik kan?

Iya.

Kupotong-potong tubuhmu!

Rayyan!

- Hei! - Rayyan. Rayyan.

- Rayyan. - Kamu kenapa?

Hei.

Hei, hei, hei.

Kamu kenapa?

Udah, tenang.

Tenang, tenang aku di sini.

Aku di sini, tenang.

Di kamar.

Gak ada apa-apa.

Beneran.

Gak ada apa-apa.

Percaya sama aku.

Nih.

Kosong melompong.

Tapi tadi ada perempuan dan anak kecil.

Perempuan dan anak kecil?

Miss K.

Empat hari.

Maghrib.

Maksudnya?

Katanya perempuan dan anak kecil.

Sudah dicek, tidak ada, Mas.

- Ada apa ya? - Maaf, maaf.

Ini ada apa ya kok

- rame-rame kayak gini ya? - Iya?

Maaf Bu, Pak.

Tempat ini tuh angker.

Lihat aja tuh dua orang ketakutan.

Tenang.

Gini.

Ini pasti salah paham.

Coba kami akan cek.

Kami coba pastikan semua aman.

Jadi, bapak-bapak sama ibu-ibu lebih baik

kembali lagi ke unitnya.

- Bener tolong ya? - Iya Pak iya.

- Nanti kami akan cek secepatnya. - Ya?

Silakan.

Balik ke unit masing-masing, nanti kami cek.

- Balik. - Terima kasih.

Ini ada apa, Mas Rayyan?

Siapa anak dan perempuan di unit 610?

Maksudnya apa ya?

Gak ngerti saya.

Ini pasti ada hubungannya dengan kasus korban mutilasi, kan?

Baik.

Kalau Bapak dan Ibu gak mau ngomong,

saya sekarang akan pergi ke unit itu.

Dan kalau saya sampai menemukan bukti

yang mengaitkan ini dengan kasus korban mutilasi,

Anda yang menanggung konsekuensinya.

Eh, Mas Rayyan. Jangan, Mas.

Kenapa?

Di situ…

Tempat angker.

Ada penghuninya.

Empat tahun yang lalu,

unit 610 itu ditempati sama seorang ibu dan anaknya.

Tapi mereka pindah.

Beberapa hari kemudian,

kami dengar…

Kalau mereka meninggal karena kecelakaan mobil.

Setelah itu,

ada petugas kebersihan masuk ke unit 610.

Siapa?

Masuk saja.

Sama seperti yang kamu bilang.

Astaghfirullahaladzim.

Tadi saya masuk ke unit 610.

Ada perempuan dan anak kecil,

dia bilang petang dino maghrib.

Ya, empat hari kemudian

orang itu pulang ke rumahnya.

Dan kami dengar…

Dia dimutilasi.

Terus terang, kami takut.

Akhirnya,

kami manggil

orang pintar yang terkenal dari Banyuwangi.

Mata yang tajam dari yang menyembah,

dari bumi ikuti kehendak Yang Kuasa.

Maaf, Bu.

Berat, saya tidak kuat.

Dia aja gak berani masuk kamar itu, Mas.

Bahkan pegang gagang pintunya aja dia gak berani.

Ya, dia cuman bilang

siapa pun yang masuk ke dalam situ…

Akan mati di hari keempat.

Waktu maghrib.

Makanya, lantai enam itu akhirnya kami tutup.

Setelah kami tutup,

semuanya jadi aman,

dan gak ada penghuninya lagi, Mas.

Ini gak masuk akal, Pak.

Tapi ini bener, Mas.

Kami berusaha menutupi semua ini.

Demi nama baik apartemen.

Benar, Mas.

Karena kalau sampai semua orang tahu,

mereka akan ketakutan dan apartemen ini gak laku.

Lalu kejadian tadi itu apa?

Kamu tenang aja dulu, Alma.

Ini pasti ada penjelasan logis.

Pak.

Kita butuh saksi.

Yang tadi Bapak bilang orang…

Orang dari Banyuwangi yang orang pintar itu di mana?

- Oh. - Uh.

Dia sudah meninggal.

Udah.

Aku akan cek sendiri.

- Aku akan masuk ke sana. - Gak.

Jangan ke situ.

Bahaya.

- Alma. - Yan.

Jangan pergi ke situ.

Saya permisi dulu.

Kamu mau ke mana?

Jemput Mia.

Antar saya ke unitnya.

Ayo, Mas.

Siapa?

Ada orang?

Miss K.

Masuk saja.

Empat hari.

Maghrib.

Mia?

- Permisi. - Silakan.

- Mia di mana ya Bu? - Di dalam.

Eh, apa itu?

Mia!

Mia? Mia!

Mia tenang, tenang. Tenang.

- Ada apa? - Mbak!

Mbak!

Mbak…

Sakit. Sakit…

Tahan ya.

Coba digerakin dulu sedikit.

Udah mendingan, Bu.

Terima kasih, Bu.

Tapi saya bingung deh.

Kok Mia bisa gini ya?

Nduk.

Kalo Ibu boleh bicara…

Sebenarnya tadi tuh kamu ada yang ngikutin.

Perempuan,

dan anak kecil.

Tapi Ibu cuma bisa lihat,

gak bisa bantu apa-apa.

Kalo kalian mau,

Ibu ada kenalan.

Dia bisa bantu

supaya kamu gak diikutin lagi.

Maksud Ibu orang pintar?

Iya.

Namanya Pak Sukmo.

Ibu ada fotokopi KTP atau kartu keluarga dari

ibu dan anak mantan penghuni unit 610 itu?

Gak ada ya, Mas.

Seinget saya,

ibunya namanya Nuri, anaknya Nidya.

Mereka juga cuma satu, dua bulan tinggal di sini,

dan habis itu mereka memutuskan pindah ke Purwokerto

dan meninggal di sana.

Bapak bilang Bapak dengar kabar

meninggalnya dari keluarganya?

- Iya. - Namanya siapa?

Bapak ada alamat atau nomor telfon yang bisa dihubungi?

Waduh, Mas.

Saya udah lupa, Mas.

Karena itu udah lama banget, Mas.

Yang saya ingat,

itu cuma ada bapak-bapak nelfon,

ya ngabarin itu.

Baik.

Bapak tolong cek ulang arsip Bapak.

Saya akan balik ke kantor.

Saya akan coba cari sebanyak mungkin informasi tentang ibu dan anak itu.

- Biar saya buka. - Ya.

Silakan.

Mia kamu kenapa?

Nanti aku cerita.

Aku juga harus cerita sesuatu ke kamu.

Aku udah cek unitnya.

Kamu masuk?

Aku kan harus tau sumber masalahnya apa.

Udah, kita bahas nanti, ya?

Aku harus ke kantor dulu sekarang.

Kamu gapapa?

- Gapapa. - Oke.

- Permisi Bu. - Ya.

Sakit?

Engga kok.

Kalian gapapa kan?

Gapapa.

Bu Wulan.

- Pak Aiman. - Ya?

Saya minta maaf, tapi saya gak bisa diam aja.

Nanti malam ada orang namanya Pak Sukmo datang.

Dia orang pintar.

Ini untuk kasus penyelidikan apa, Pak?

Pokoknya cek aja.

Cek semua kecelakaan mobil dan kasus kematian

yang terjadi di Purwokerto empat tahun lalu.

Atas nama Ibu Nidya dan juga anaknya, Nuri.

Siap.

Kemungkinan besar,

firasat saya mengatakan ini

ada kaitannya dengan kasus penyelidikan

korban mutilasi yang ada di Apartemen Sasmaya.

Selamat malam.

- Pak Sukmo? - Iyo.

Silakan, Pak.

Ayo.

Mampir…

Singgah… Singgah…

Burung gagak hitam…

Burung betet merah paruhnya.

Tidak bisa.

Aku tidak bisa komunikasi dengannya.

Tadi ada pesan yang aku tangkap.

Siapa saja yang masuk ke situ

akan mati.

Hari keempat, saat maghrib.

Apa tidak bisa diusir, Pak?

Tidak bisa.

Karena hantunya meninggalkan masalah saat dia hidup.

Makanya,

kita harus bantu

menyelesaikan masalah itu.

Agar hantunya itu

cepat pergi meninggalkan tempat ini.

Caranya gimana, Pak?

Aku…

Harus membaca masa lalu mereka itu.

Tapi itupun

harus dibantu dengan medium.

Medium?

Maksudnya?

Benda yang mereka miliki

sewaktu mereka itu masih hidup.

Benda itu

sangat berarti sekali buat mereka itu.

Kalau

benda itu ada…

Aku bisa bantu.

- Bu Wulan. - Iya?

Maaf.

Ibu pernah gak ngobrol sama Nuri dan Nidya?

Siapa tahu bisa jadi petunjuk buat kita.

Aduh.

Saya gak inget, Alma.

Soalnya itu udah lama sekali.

Halo?

Mbak.

Tolong ke kolam renang sekarang.

Ngapain?

Cepet, Mbak. Cek, deh.

Iya.

- Bu, maaf. - Ya?

Saya permisi sebentar.

Silakan.

Permisi Bu.

Oh, iya, Mas.

- Mas. - Mas Rayyan.

- Pak. - Gimana?

Udah ketemu sama keluarga Nuri dan Nidya?

Masih dalam pencarian.

Saya sebenarnya ke sini mau cek data penghuni

dan juga pegawai dari awal apartemen ini berdiri.

Halo?

Mia?

Tadi kamu nyuruh aku ke kolam untuk cek apa?

Kolam?

Iya, kolam renang.

Kan kamu yang nyuruh.

Mia gak telfon.

Mbak Alma?

Mbak Alma?

Mbak Alma?

Mbak…

Mbak?

Mbak.

Mbak. Mbak?

Mbak!

Mbak!

Ayo kita cari bantuan!

Pak! Bu?

- Tolong. - Ada apa?

Mia!

Mia.

Mia. Mia.

Sadar, Mia.

Alma!

Mbak…

Mbak.

Mbak Alma.

Mbak?

Mbak.

Mbak Alma!

Mbak!

Alma…

Alma.

Kamu gapapa, Alma?

Alma!

Topeng Malangan.

Topeng Malangan.

Ini

adalah topeng tokoh Dewi Sekartaji.

Dewi Sekartaji adalah putri

yang cantik jelita dari kerajaan Kediri.

Wajahnya yang putih melambangkan kelembutan,

kemurnian, serta kebaikan hatinya.

Alisnya nanggal sepisan.

Hidungnya mancung.

Ada hiasan emas di antara kedua alisnya.

Hiasan emas

di kedua alisnya itu

apa bisa berbeda di setiap topeng ya Bu?

Oh, bisa saja.

Tapi kalau kalian mau tahu lebih banyak tentang topeng-topeng ini,

kalian bisa tanya sama teman Ibu.

Namanya Pak Sugeng.

Beliau itu seniman pembuat topeng.

Nah, topeng-topeng malangan ini

semuanya yang bikin beliau.

Bisa kami ketemu dengan beliau?

Oh, bisa.

Tapi rumahnya agak jauh dan terpencil.

Dia tinggal di Desa Ranganmulyo,

timur kota Malang.

Ini, Mbak.

Memangnya petunjuk apa yang bisa didapat di sana?

Apa aja.

Tapi ini lokasinya jauh sekali loh.

Jaga diri kamu baik-baik.

Hati-hati, Mbak.

Kira-kira di jalan ini

lima kilo lagi.

Kita di sini ya?

Oke.

Permisi.

Permisi.

Iya, Mbak, Mas?

Ini rumahnya Pak Sugeng?

Iya benar, sebentar ya.

Mari, silakan.

Saya Sugeng.

Kamu siapa ya?

Saya Alma.

Saya kenalannya Bu Rini dari Surabaya.

Apa yang bisa saya bantu?

Kalau yang seperti ini

Bapak pernah lihat?

Di mana kamu lihat ini?

Bentuk seperti ini memang saya yang buat.

Dan hanya untuk satu topeng.

Permintaan seseorang.

Siapa, Pak?

Ibu Kusuma Dewi.

Beliau seorang yang paling kaya dan terhormat di sini.

Beliau seorang penari.

Permisi, Bu.

Ada Pak Sugeng.

Tentang Jeng Kanti.

Tidak mau.

Baik, Bu.

Permisi, Mbak, Mas.

- Ya. - Ya.

Ibu tidak mau bertemu.

Kamu sudah bilang

kalau ini kemungkinan ada hubungannya dengan Jeng Kanti?

Sudah, Pak.

Sudah.

Justru itu, Ibu tidak mau.

Jeng Kanti itu siapa?

Sudah.

Cerita saja.

Baik.

Jeng Kanti anak Ibu satu-satunya.

Jeng Kanti itu penari.

Sangat cantik.

Dan tariannya indah.

Jeng Kanti paling seneng

Tari Topeng Malangan.

Karena itu,

Ibu meminta Pak Sugeng

untuk membuatkan topeng Dewi Sekartaji secara khusus.

Dengan hiasan di atas alis

seperti bentuk yang Ibu mau.

Kayu waru,

saya minta izin padamu.

Saya membuat topeng yang indah

untuk dipakai si cantik.

Kemudian,

topeng itu sering dipake Jeng Kanti di pementasan.

Ibu sangat sayang dan bangga sama Jeng Kanti.

Sampai pada suatu hari…

Jeng Kanti bertemu dengan seseorang

yang membuatnya jatuh hati.

Kamu hamil dengan anak lelaki itu?

Pria miskin begitu kok kamu sukai.

Gila kamu.

Gugurkan.

Gugurkan kandunganmu.

Bu.

Kalau kamu lebih memilih laki-laki itu

daripada Ibu…

Sampai mati,

hidupmu bakal susah!

Tidak, Bu.

Saya akan bahagia bersama dia.

Selamanya.

Kamu bukan anakku lagi.

Pergi sekarang.

Pergi kamu!

Setelah itu Jeng Kanti gak pernah kembali.

Ibu menganggapnya gak ada lagi.

Bahkan semua fotonya dibakar.

Saya diminta Ibu membuang semua barang-barang Jeng Kanti.

Tapi saya tidak tega.

Masih saya simpan.

Barangkali…

Suatu hari Jeng Kanti pulang.

Maaf, Bu.

Boleh kami lihat?

Silakan, Mbak, Mas.

Silakan masuk.

Oh, ini gamelan

waktu Jeng Kanti masih menari.

Sebentar, ya.

Itu kain-kain Jeng Kanti

waktu masih menari.

Pakaian pementasan Jeng Kanti.

Nah, ini.

Perhiasan Jeng Kanti masih saya simpan.

- Bu? - Iya?

Boleh kami lihat topeng itu?

Oh itu karya Pak Sugeng,

untuk pementasan Jeng Kanti.

Iya.

Baik, Pak.

Hati-hati, Mbak.

Boleh saya pinjam?

Apa mungkin selama ini Ibu benar?

Ayah gak pernah ninggalin kita gitu aja.

Mungkin…

Dia diambil makhluk gaib.

- Yan? - Hm?

Yan.

Mbak?

Mbak?

Mbak…

Rayyan?

Rayyan!

Rayyan?

Rayyan, Rayyan bangun. Bangun.

Rayyan bangun.

Rayyan!

Rayyan…

Rayyan.

Rayyan.

Rayyan.

Rayyan!

Kamu sudah sadar.

Kamu sudah saya obati.

Kamu berdua kecelakaan.

Mobilmu…

Di jurang belakang.

Rayyan. Rayyan.

Rayyan.

Kamu gapapa?

Aku gapapa.

Bener kamu gapapa?

Kalian masih dikasih hidup

karena Sang Kuasa.

Kita harus buru-buru ke Surabaya.

Tas kita?

Permisi, Mbok.

Lihat tas saya?

- Tas? - Iya.

Beneran gapapa?

Iki toh?

Oh, iya.

Benar, Bu, terima kasih.

Mbok?

- Mbok? - Yo.

Ini barangnya sudah datang, mau ditaruh mana?

Taruh di tempat biasa, di belakang.

Oalah.

Ini barangku juga masih banyak.

Aku kirim ke Surabaya juga.

Taruh di belakang.

Ya sudah kalau begitu.

- Mas! - Ya?

Maaf, kami boleh ikut ke Surabaya?

Ke Surabaya.

Boleh.

Tapi duduk di belakang ya?

Oh, gapapa.

Ya sudah kalau begitu. Saya angkat barang dulu.

- Iya. - Ya.

Pak Sukmo?

Pak Sukmo?

Kami sudah menemukannya.

Masuk, masuk.

Kanti.

Kau yang memiliki topeng ini.

Kupanggil kau dengan mantra suci.

Perlihatkan masa lalumu.

Buka tabir rahasia yang tersembunyi.

Pak?

Pak Sukmo.

Mas!

Kanti…

Bapak gapapa?

Mereka dibunuh.

Dimutilasi.

Di unit itu.

Kanti dan Kirani.

Ibu dan anak itu.

Mereka selalu akan membunuh.

Dan tidak akan pernah terhenti.

Sampai kita temukan pembunuhnya.

Bapak gak bisa lihat pelakunya?

Saya gak bisa melihat dengan jelas.

Tapi…

Kanti bilang…

Mas.

Kakaknya?

Bukan, Yan.

Dia anak tunggal.

Suaminya?

Lho, Bu, Mas?

Ini Mbak mau pergi, ke mana?

Eh, kalian mau ke mana?

- Pada mau ke mana sih? - Maaf Bu kita takut.

Mau pulang kampung dulu.

Permisi, Bu, Pak. Permisi.

Mari Pak, Bu.

Bagaimana ini, Mas?

- Kenapa ini semua? - Mau ke mana, Pak?

Mau pergi juga, Pak?

Ayo cepat.

Mas, ini ada apa sih, Mas?

Ini ada apa?

Ini kalian kenapa nih?

Kami kecelakaan, tapi sekarang yang paling penting Mia mana?

Ada di kamarnya, aman kok.

Yaudah lebih baik kita ke kantor.

Ayo ayo yuk.

Di unit itu pernah terjadi pembunuhan dan mutilasi.

Korbannya ibu dan anak, namanya Kanti dan Kirani.

Jadi, pertanyaan saya, Nuri dan Nidya itu siapa?

Ya penghuni unit itu.

Itu…

Kanti sama Kirani siapa?

Siapa pun nama mereka, Bapak tahu gak,

siapa suami dari orang yang tinggal di unit itu?

Gak ada.

Dari awal mereka tinggal di sini

ya berdua tok.

Iya.

Kalau gitu apa ada laki-laki yang sering mengunjungi mereka?

Kami sih gak pernah lihat, ya?

Iya.

Ah, sebentar, ini.

Kalian berdua ini

apa melihat

sesuatu yang bentuknya itu seperti ini?

Ini apa, Pak?

Ini sesuatu yang berkaitan dengan

tempat mayat ibu dan anak itu berada.

Pernah lihat kalian?

Tidak, Pak.

Pak saya pinjam telfonnya sebentar ya Pak.

Oh, iya.

- Pak boleh saya lihat? - Iya iya.

Candra.

Kamu dan Pandu pergi ke Desa Karangmulyo.

Tanya tentang suami dari perempuan bernama Kanti.

Tanya langsung ke ibunya, Ibu Kusuma Dewi.

Selama empat tahun terakhir,

selain lantai enam, ada gak lantai lain yang mungkin ditutup

atau gak pernah tersentuh?

Gak ada sih.

Adanya cuma lantai enam aja.

Emangnya kenapa?

Mungkin mayatnya di unit itu.

Sebentar, sebentar.

Gak mungkin di dalam unit itu ada mayat. Ya toh, Mas?

Iya gak mungkin.

Karena kalau sampai ada mayat, itu…

- Bangkainya pasti kecium, Mas. - Iya.

Makanya kita harus cek.

Kita mencar.

Alma dengan saya.

Pak Sukmo dengan saya, mari.

Ya, ya.

Kita harus ikuti petunjuk Pak Sukmo

atau cari bau busuk.

Ini gimana?

Pak Sukmo.

Pak Sukmo?

Pak Sukmo!

Pak Sukmo?

Pak? Pak?

Pak Sukmo?

Rayyan?

Rayyan?

Rayyan!

Rayyan. Rayyan!

Rayyan, Rayyan bangun.

Rayyan bangun Rayyan.

- Rayyan. - Mbak Alma.

Maaf.

Jangan kalian rusak nama baik apartemen ini.

Bu?

- Iya? - Permisi selamat siang.

Selamat siang, Pak?

Saya mau nanya, di sini ada Pak Rayyan gak ya?

Soalnya gak bisa saya hubungi.

Rayyan sedang pergi ke Purwokerto bersama Mia dan Alma.

Sejak kemarin.

Oh ya sudah, nanti kasih tahu saja.

Saya Candra kemari, kalau mereka sudah kembali.

Candra, oke.

- Baik nanti di sampaikan ya. - Iya.

Permisi.

- Bu. - Ya?

Ini kok sepi ya?

Kebetulan semua penghuni di sini lagi ngungsi, Pak.

Karena lagi dibersihkan tempat ini.

Dari yang… gaib-gaib.

Begitu.

- Permisi. - Oh, ya.

Alma!

Awas.

Awas.

Pak Sukmo gimana?

Masih napas.

Oke.

Mia!

- Mia. - Mia.

- Mia? - Mia!

Mundur, mundur, Mia.

- Mia. - Mia?

Ya ampun.

Kamu gapapa?

Siapa yang ngeginiin kamu?

Bu Wulan.

Semalam aku di…

Disekap di kamar mereka terus

dibawa ke sini.

Ini gak mungkin hanya karena mereka mau jaga nama baik tempat ini.

Mereka mau cegah kita untuk tahu yang sebenarnya.

Yan!

Tabrakan itu.

Mereka tahu sesuatu.

Kebenarannya.

Kamu itu,

harusnya dari awal mulai ditanya Rayyan, diam saja.

Jangan ngomong soal unit itu.

Aku tidak menyangka sampai seperti ini.

Bagaimana kalau ada yang curiga?

Tidak mungkin ada yang curiga.

Kita dari dulu,

sudah kerja keras jaga apartemen ini.

Kamu tidak mau kan, tidak punya apa-apa?

Tidak dianggap sama bapakmu.

Pokoknya aku tidak mau miskin lagi.

Tapi kalau ada satpam yang periksa bagaimana, Mas?

Bagaimana?

Sudah saya suruh pulang semua.

Kamu santai saja.

Yang penting,

hari ini,

semua harus mati!

Saat maghrib.

Tunggu.

Pak Sukmo.

Pak Sukmo, Pak?

- Pak? - Topeng.

- Topeng? - Topeng.

Topeng.

Ini.

Kanti.

Kau yang memiliki topeng ini.

Kupanggil kau dengan mantra suci.

Perlihatkan masa lalumu.

Buka tabir rahasia yang tersembunyi.

Miss K?

- Lagi apa? - Mas.

Mas, aku malu.

Jangan panggil aku seperti itu, Mas.

Miss K kan panggilan sayangku ke kamu.

Aku janji.

Aku akan kerja lebih keras.

Biar hidup kita lebih enak.

Lebih bagus, pokoknya…

Bahagia selamanya, ya?

Doakan.

Ini anaknya Bapak, kok makin cantik?

Goblok!

Mulai kapan?

Aku makan tidak ada sambalnya, mulai kapan?

Aku cuma minta

urus suamimu yang benar.

Mas?

Dasar bajingan kon, Mas!

Pelacur!

Aku laporkan ke bapakmu!

Kanti. Kanti!

Kanti.

Kanti?

Mau apa kamu?

Mau apa, bodoh?

Kirani!

Mas!

Mas…

Mas…

Bajingan.

Kanti…

Pak?

Aiman suaminya.

Dia selingkuh sama Wulan.

Dia bunuh Kanti dan Kirani.

Dia siksa selama empat hari.

Dalam hidup

atau mati.

Potongan tubuh mereka itu ada

di unit itu.

Dibalik tembok.

Dibalik tembok Pak?

Di…

- Pak Sukmo… - Pak?

Di balik…

Lemari.

Pak…

- Pak Sukmo? - Pak?

Pak.

Pak Sukmo…

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Kita harus bongkar tembok itu.

Di mana ada alat untuk bobok tembok itu?

Di gudang, lantai satu.

Ayo.

Ayo ayo ayo ayo.

Ya, Pandu?

Lapor, Pak Candra.

Mengenai perempuan bernama Kanti,

sekarang saya bersama ibu kandungnya.

Sudah tahu nama suami Kanti belum?

Namanya Aiman, Pak.

Mas!

- Opo? - Mas.

Mereka kabur ke kolam, Mas.

Sialan.

Cepet, cepet.

Pintu sebelah kanan.

Situ?

- Mia. - Ayo.

Mencar.

Cari sesuatu yang bisa bobok pintu.

- Rayyan. - Ya?

Ini bisa.

Rayan!

Rayyan!

- Mas. - Berdiri!

- Lari! - Mbak!

Lari!

Mia!

Mia!

Ayo!

Jangan macem-macem kamu.

Mbak!

Mia.

Mia, Mia, Mia.

Komandan!

Candra!

Candra!

Mampus.

Candra?

Candra!

Tahan, tahan. Rayyan?

Kamu gapapa?

Aku gapapa, kamu gapapa?

Kaki kamu kenapa?

Duduk, duduk, duduk.

Tunggu di situ.

Sakit…

Tahan, tahan.

Oke, oke.

Oke, kita harus bergerak.

Tahan, tahan.

Hati-hati!

- Aku turunin Mia dulu. - Oke oke.

- Pelan-pelan. - Kamu baring di sini.

Awas.

Rayyan.

Kopong. Oke.

Oke.

- Masih bisa. - Oke.

Masih belum maghrib, ayo.

Ayo.

Ayo kita harus lanjut!

Mbak!

- Mbak! - Mia?

Mbak.

- Lanjut. - Mia.

- Mbak! - Mia!

Empat hari.

Maghrib.

Mbak!

Mia!

Mia. Mia!

- Alma! - Mia!

Ayo.

Mbak!

Mbak! Tolong, Mbak!

Mia.

- Mia. - Mbak.

- Mbak. - Mia.

Mia.

Mia.

Mas?

Mas?

Mas.

Mas Aiman.

Mas! Bangun, Mas!

Mas! Bangun, Mas!

Mas Aiman!

Kanti, maafkan aku.

Kanti! Kirani!

Tolong!

Kanti, maafkan aku.

Ke sini.

Bu Rini.

Pak Sukmo sudah tenang di alamnya.

Ibu lihat beliau?

Dan ada satu lagi.

Tadi Ibu melihat seorang pria.

Namanya Hendri.

Ayah.

Ayah kami?

Dia sudah berbahagia.

Karena kalian percaya

dia tidak berkhianat.

Sekarang,

dia bisa bertemu dengan ibu kalian.

Semua orang

yang masalah hidupnya sudah selesai,

pasti bisa pulang dengan tenang.

Tapi, tidak dengan ibu dan anak itu.

Mereka tidak akan lagi membunuh.

Tapi mereka tetap tidak bisa pergi.

Masih ada hal yang belum selesai dengan ibunya Miss K.

Selagi ibunya belum bisa menerima mereka

walaupun mereka sudah meninggal,

mereka tetap akan ada di apartemen itu.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.