Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
Frisian
Ga
Galician
Georgian
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Tajik
Tamil
Tatar
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Mampir, Mas!
Ngopi dulu.
Terima kasih, Mbak.
Mau kirim barang dulu.
Baiklah.
Assalamualaikum.
Pak Khoir?
Karyo, Pak.
Mau antar barang.
Pak Khoir?
Pak?
Pak Khoir?
Pak?
Pak?
Pak Khoir?
Ini Karyo.
Bawa titipan.
Pak?
Saya masuk ya, Pak.
Pak Khoir?
Ini jadinya kapan, Mbak Hanif?
Jangan lama-lama, ya.
Saya mau pakai untuk ke kondangan.
Ya, dua minggu lagi, Mbak.
Soalnya lagi banyak jahitan.
Sebentar, ya.
Mbak Isti pulang kuliah?
Ya, Mbak.
Terima kasih, ya.
Assalamualaikum.
Alaikum salam.
Malam sekali pulangnya, Is?
Tadi ada tugas kelompok, Mbak.
Biasa, banyak kepala. Tidak ada yang mau mengalah.
Diskusinya jadi lama.
Lagi banyak jahitan ya, Mbak?
Alhamdulillah.
Ya sudah, mandilah.
Bau.
Nanti Mbak hangatkan sayur untuk makan malam.
Ya.
PENJAHIT HANIF
Mbak.
Minggu depan aku ikut kompetisi debat mahasiswa.
Bagus, dong.
Kebetulan…
acaranya di Jakarta.
- Benarkah? - Ya!
Kamu hebat!
Akhirnya lihat Jakarta langsung.
Ya.
Mbak, mau kubawakan oleh-oleh?
Oleh-oleh apa?
Memangnya kamu punya uang?
Kamu kuliah yang benar saja. Mbak sudah senang.
Setidaknya, salah satu dari kita
akan ada yang jadi sarjana.
Satu tahun lagi, Mbak…
adikmu akan jadi sarjana.
Tolong pindahkan sayurnya.
Halo?
Ini Hanif atau Isti, ya?
Ini Hanif.
Ini siapa, ya?
Ini Bulik Saidah, Nak.
Bulik Saidah?
Apa kabar, Bulik?
- Sehat? - Alhamdulillah.
Bulik sehat, Nak.
Alhamdulillah.
Tapi…
ada kabar yang tidak enak.
Kabar tidak enak apa, Bulik?
Pakde Khoir…
sedang sekarat.
Dia terus-menerus memanggil namamu dan juga Isti.
Kamu dan Isti pulang ya, Nak.
Nif?
Hanif?
Kamu pulang ya, Nak.
Kasihan pakdemu.
Bulik tunggu ya, Nak.
Bagaimana, Bu?
Hanif…
Isti…
Hanif…
Isti…
Anak-Anak, ayo pulang!
Ayo, Mbak, cepat! Cepat!
Ayo, Mbak. Cepat!
Cepat!
Nanti keburu Magrib.
Kita bisa kena marah Ibu, lho!
Kamu enak tinggal ngomong.
Memangnya kamu pikir membonceng kamu itu tidak berat?
Sudah Ibu bilang berkali-kali,
pulang sebelum Magrib.
Masih saja bandel.
Maaf, Bu.
Kalian kan tahu,
pergantian waktu dari terang menuju gelap, itu waktunya makhluk halus keluar.
Kalian mau digondol oleh makhluk halus?
Ya sudah, kalian mandilah.
Jangan diulangi lagi.
Juna!
Bagaimana kalau kamu lagi tidur,
lalu si Juna tiba-tiba menyala sendiri?
Naik ke atas kasur?
Mbak Hanif!
Bu?
Mbak Hanif, main yuk.
Dari terang menuju gelap, waktunya makhluk-makhluk halus keluar.
Dari terang menuju gelap, waktunya makhluk-makhluk halus keluar.
Dari terang menuju gelap, waktunya makhluk-makhluk halus keluar.
Dari terang menuju gelap, waktunya makhluk-makhluk halus keluar.
Ibu, kenapa?
Dari terang menuju gelap, waktunya makhluk-makhluk…
Sorop!
Sorop!
Sorop!
- Paklik. - Ya.
Apa kabar, Paklik?
Baik.
Ayo. Cepat, kita ditunggu.
Agak buru-buru.
Pakde Khoir bagaimana keadaannya, Paklik?
Ayo, masuk.
Ayo.
Permisi.
Ayo, sini.
Tas kalian ditaruh di sini dulu, ya.
Pakde ada di kamarnya.
Sudah menunggu kalian di sana.
Ayo.
Ayo, masuk.
Pakde.
Hanif dan Isti sudah di sini.
Tubuh Pakde dingin sekali.
Perasaanku tidak enak.
Kita keluar saja.
Isti! Isti, sebentar.
Aku tidak mau di sini, Mbak. Aku tidak mau…
Sinom.
Pakde.
Tolong Pakde.
Tolong Pakde, Nom.
Pakde sudah tidak kuat.
Tolong apa, Pakde?
Biarkan Pakde mati, Sinom.
Maafkan Pakde, Sinom.
Maafkan.
Pakde?
Maaf kenapa, Pakde?
Pakde!
Pakde?
Pakde!
Pakde?
Pakde!
Sudah sepuluh tahun, Bulik tidak melihat kalian.
Kalian sudah besar sekarang.
Bulik.
Kok, sejak tadi Hanif tidak melihat Bude Sabah, ya?
Bude di mana?
Sekian lama setelah kalian pergi dari rumah ini,
Bude Sabah juga pergi meninggalkan Pakde.
Dan tidak ada yang tahu.
Dan sejak Bude meninggalkan Pakde,
kondisi pakdemu semakin memburuk.
Ada apa, Bulik?
Sebenarnya…
sudah berulang kali pakdemu mencoba bunuh diri.
Tapi setiap dinyatakan meninggal…
pakdemu hidup lagi.
Pakde menyuruh Bulik
supaya kalian datang ke sini.
Katanya dengan itu,
beliau baru bisa terbebas dan pergi dengan tenang.
Ya sudah, kalian tidur dulu.
Paklik dan Bulik bermalam di sini malam ini.
Menemani kalian.
Sampai penguburan pakdemu besok.
Ya?
Ya sudah, ayo.
Ayo.
Ya, Bulik.
Tidak ada yang berubah ya, Is.
Semua masih sama seperti dulu.
Kenapa ya, Mbak…
Pakde bunuh diri?
Mungkin karena ditinggal Bude.
Menurut Mbak…
Pakde sudah benar-benar meninggal atau belum?
Bulik kan sudah bilang…
Pakde itu menunggu kita datang.
Itu artinya…
Pakde sekarang sudah tenang.
Bagaimana kalau Pakde belum meninggal?
Seperti di cerita Bulik.
Aku tidak mau lama-lama di sini, Mbak.
Ya.
Lusa,
setelah pemakaman, kita pulang.
Ya?
Sudah, tidurlah.
Mbak sudah mengantuk.
Sinom…
Mbak?
Mbak Hanif?
Mbak Hanif?
Mbak?
Mbak Hanif?
Mbak di mana?
Mbak Hanif?
Mbak…
Mbak!
Mbak!
Mbak Hanif!
Mbak Hanif!
Mbak!
Mbak?
Kenapa, Is?
Mbak di dalam?
Ya.
Sinom…
Kenapa, Is?
Mbak…
Tadi pas aku keluar kamar,
aku lihat kamar Pakde terbuka.
Tidak usah ngawur kamu.
Benaran, Mbak!
Kamu mengigau, ya?
Sungguh, Mbak.
Tadi pintunya terbuka.
Mana ada orang sudah meninggal bisa buka pintu?
Ya sudah, ayo tidur.
Ayo.
- Mbak… - Is?
Kenapa, Is?
Hei!
- Is? Bulik! - Astaghfirullah, ya ampun!
Kamu kenapa?
Ini.
Sudah, kamu istirahat saja, ya.
Tidak usah ikut ke makam.
Sudah, ya. Temani adikmu, ya.
Kamu kecapaian.
Istirahat, ya.
Mbak.
Besok kita pulang ke Surabaya, 'kan?
Ya.
Besok kita pulang.
Sudah, istirahat.
Kalau kamu haus, itu Mbak sudah buatkan teh.
Ibu!
Mbak.
Ibu sedang menjahit apa?
Menjahit baju untuk adikmu.
Sebentar lagi Isti ulang tahun.
Sini, Ibu mau mengukur.
Cantik, ya?
Mbak Hanif mau Ibu ajari menjahit?
Aku tidak suka menjahit.
Hidup itu bukan perkara suka atau tidak suka.
Tidak ada salahnya belajar.
Suatu saat pasti berguna.
Percaya sama Ibu.
Hanif…
Isti…
Ibu?
Ibu!
Isti…
Ibu!
Mbak Hanif!
Ibu!
Ibu…
Bapak!
Bapak!
Roqiah!
Astaghfirullah…
Roqiah!
Nif?
Bulik.
Sudah pulang?
Kok, banyak sekali belanjaannya?
Kan, untuk selama kalian di sini.
Kamu tidak buru-buru pergi, 'kan?
Setidaknya tunggulah sampai tujuh harian Pakde.
Rencananya nanti tujuh harian itu, Bulik mau adakan pengajian untuk pakdemu.
Ya sudah, dimakan jajanannya.
Itu kesukaanmu dan Isti ketika masih kecil.
Makanlah.
Bulik.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Bude Sabah?
Kok, Bude meninggalkan Pakde?
Sejak kepergian kalian,
Bude Sabah jatuh sakit,
sama seperti yang terjadi pada ibumu.
Mbak.
Mbak.
Mbak.
Makan dulu.
Biar cepat sembuh.
Adik.
Adik.
Mbak haus.
Mbak?
Ingin minum.
Mbak Sabah.
Jangan takut, Dik.
Mbak!
Mbak Sabah!
Mbak!
Mbak!
Mbak Sabah!
Mbak!
Aku kan sudah bilang,
jangan pernah masuk kamar mbakmu!
Mas…
aku kasihan.
- Mbak Sabah itu sedang sakit… - Pergi!
Pergi!
Sejak saat itu,
Bulik sudah tidak pernah lagi ke rumah ini.
Lalu tidak lama,
Pakde mengabari Bulik
kalau Bude Sabah pergi meninggalkan Pakde.
Ada apa dengan keluarga ini ya, Bulik?
Ibu…
Bapak…
Bude Sabah…
Lalu sekarang Pakde Khoir.
Semuanya mengalami nasib nahas yang sama.
Sudah.
Yang penting sekarang kamu dan Isti baik-baik saja.
Ya?
Ya sudah, Bulik pamit. Assalamualaikum.
Alaikum salam.
Mbak.
Bulik mau ke mana?
Bulik tidak tidur di sini menemani kita?
Kamu ini seperti anak kecil saja harus ditemani.
Lagi pula, ini kan rumah kita juga.
Ada Mbak kan di sini.
Sinom…
Sedang apa kamu, Is?
Mbak.
Bagaimana kalau Pakde belum meninggal?
Bicara apa kamu, Is?
Sudah, jangan bicara begitu. Mbak tidak suka.
Mau apa lagi kamu, Is?
Beres-beres.
Besok kita langsung pulang.
Bulik minta kita di sini dulu sampai tujuh hariannya Pakde.
Mbak.
Mbak kan sudah janji.
Ya…
tapi Mbak tidak enak kepada Bulik.
Setelah tujuh hariannya Pakde,
kita pulang.
Mbak janji.
Ya?
Kita makan.
Makan, Is.
Is?
Is…
Kamu yang memindahkan ini?
Ayo makan.
Is?
Sudah dong mengambeknya.
Sinom…
Gantian, biar aku yang masak, Mbak.
Benaran?
Kamu sudah tidak marah kepada Mbak?
Ya sudah.
Jangan sampai keasinan, ya.
Mbak.
Is?
Is!
Mbak?
Sinom…
Sinom…
Isti, kita pulang sekarang!
Is?
Is?
Is!
Kamu di mana?
Is?
Pakde kangen sama kamu, Sinom.
Kenapa kamu tidak pulang-pulang…
menjenguk pakdemu.
Sinom…
kemari.
Kemari, Nak.
Is?
Isti!
Buka pintunya, Is!
Is?
Isti!
Isti!
Pakde!
Tolong keluarkan Isti, Pakde.
Tolong buka pintunya, Pakde.
Pakde…
Isti!
Isti, kamu tidak apa-apa?
Isti.
Kita pulang sekarang, ya.
Ayo.
Is, ayo. Ayo!
Is, sadar!
Is, sadar!
Is…
Is…
Is, sadar!
Kita pulang, ya.
Ayo.
Empat puluh harinya, Mbak.
Is?
Ngomong apa kamu, Is?
Empat puluh harinya, Mbak.
Empat puluh harinya, Mbak.
Is…
Is…
Is?
Isti!
Is!
Isti!
Isti…
Isti!
Empat puluh harinya, Mbak.
Empat puluh harinya.
Empat puluh harinya.
- Empat puluh harinya. - Is…
- Empat puluh harinya. - Is…
Is, ngomong apa kamu?
Is, sadar!
Empat puluh harinya.
Empat puluh harinya…
Mbak!
Mbak!
Mbak Hanif, bangun, Mbak!
Mbak!
Mbak Hanif!
Mbak Hanif!
Mbak!
Semalam Pakde bilang,
selama 40 hari dia akan datangi kita terus.
Kita harus pergi dari sini kalau kita mau selamat.
Is, kamu tidak sadar?
Tiap kali kita mau keluar dari rumah ini, pasti ada kejadian aneh.
Kamu tiba-tiba sakit ketika mau ke pemakaman Pakde.
Lalu kejadian semalam…
Lalu kita harus bagaimana, Mbak?
Tunggu giliran kita mati di rumah ini?
Kenapa Pakde minta kita kembali ke rumah ini?
Atau jangan-jangan ini semua sudah direncanakan, Is.
Mbak…
Mbak…
Mau cari apa, Mbak?
Kita periksa barang-barang Pakde.
Ayo, Is.
Mbak.
Tolong.
Buku apa ini, Mbak?
Is.
"Aku putuskan untuk menjalankan Puasa Sorop,
di mana orang-orang yang ada di foto ini
merasakan sakit sampai mati."
"Jika kamu mau memusnahkan manusia dan mendapatkan apa yang kamu inginkan,
kamu harus melakukan Puasa Sorop.
Yaitu tidak makan dan tidak minum kecuali makan tanah kuburan."
"Maka dengan itu, roh orang-orang yang tanahnya kamu makan
akan membantumu.
Selama 40 hari, orang yang kamu benci
akan disiksa dan kemudian dibinasakan."
"Tapi jika kamu tidak menuntaskan Puasa Sorop-mu,
maka roh orang-orang yang tanah kuburannya kamu makan
akan berbalik menyiksamu sampai kamu kembali ke tanah yang kamu makan."
Berarti selama ini Pakde melakukan Puasa Sorop.
Untuk membunuh keluarga kita?
Dan Pakde disiksa karena Pakde belum bisa menuntaskan semuanya, Mbak.
Karena itu Pakde selalu kembali.
Pakde mau kita semua mati…
supaya tugasnya tuntas dan bisa pulang dengan tenang.
Is…
Mbak?
Mau telepon siapa, Mbak?
Kita harus beri tahu Bulik.
Halo.
- Halo? - Halo?
Halo, Bulik.
- Halo? - Halo?
Halo? Bulik, ini Hanif.
Halo? Bulik bisa dengar Hanif?
Halo?
Bulik, bisa ke sini sekarang?
- Ini penting! - Ada apa?
- Hanif? - Halo?
Halo? Hanif?
Nanti Pakde datang, Sinom.
Nanti Pakde datang, Sinom.
Nanti Pakde datang, Sinom.
Aku tidak mau di sini.
Aku tidak mau di sini!
- Mbak! - Isti!
Tolong!
- Isti! - Tolong!
Tolong!
Is!
- Tolong! - Is!
Tolong!
Is?
Hanif…
Hanif.
Hanif.
Jangan takut, Sinom.
Bude datang untuk menolong kalian.
Bude…
Is.
Apa yang terjadi, Mbak?
Mbak yang bawa aku masuk?
Aduh…
Bude?
Bude?
Mbak yakin yang Mbak lihat itu Bude?
Ya, Is.
Bude bilang akan menolong kita.
Itu Bude, Is.
Ayo.
Bude.
Bude?
Bude?
Bude?
Bude?
Is?
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Is!
Is?
Is…
Maafkan Mbak ya, Is.
Seharusnya Mbak dengarkan kamu dari awal.
Kamu sampai seperti ini.
Mbak gagal menjaga kamu, Is.
Mbak tidak boleh bicara seperti itu.
Mbak sudah baik sekali kepadaku.
Mbak sudah banyak berkorban.
Mbak cari uang biar aku yang sekolah.
Biar aku bisa jadi sarjana.
Aku sedih…
kalau tidak bisa mewujudkan mimpi kita, Mbak.
Tidak.
Kita pasti bisa keluar dari rumah ini, Is.
Kita pasti selamat.
Ya?
Mbak harus lihat kamu…
jadi sarjana.
Ya?
Aku takut, Mbak.
Sinom…
Sinom…
Sinom!
Pakde pulang, Sinom.
Empat puluh harinya, Mbak.
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Tolong!
Aduh…
Lho?
Ini Ibu mau ke mana?
Aku mau temui Hanif dan Isti.
Aku tidak tenang, Pak.
Dari kemarin aku coba hubungi, tidak bisa.
"Selama 40 hari,
orang yang kamu benci akan disiksa dan kemudian dibinasakan."
Apa salah keluarga kita, Mbak?
Apa salah kita sampai Pakde bisa setega ini?
Pakde pasti menginginkan sesuatu, Is.
Apa rumah ini
yang membuat Pakde Puasa Sorop?
Rumah ini kan diwariskan ke Bapak.
Kamu ingat, 'kan?
Bapak dan Ibu mau menjual rumah ini
supaya kita bisa pindah ke Jakarta.
Mbak Sabah.
Baru pulang, Mbak?
Keluar kok malam-malam, Mbak?
Ayo sini, Mbak. Kita makan malam sama-sama.
Saya sudah beli makanan, Dik.
Katanya usaha masmu itu bangkrut.
Bukannya pada makan di rumah.
Ini malah jajan terus di luar.
Dik, jangan bicara begitu.
Oh, ya, Pak. Memangnya
kata Ibu benar, kalau kita bakal pindah ke Jakarta?
Ya benarlah, Mbak.
Memang pernah Ibu bohong?
Ibu beri tahu, ya. Di Jakarta itu banyak sekolah bagus.
Lalu untuk Bapak yang paling ganteng ini…
pasti banyak pekerjaan di sana yang jauh lebih bagus daripada di sini.
Ya kan, Pak?
Pakde!
Kalau Pakde mau ambil rumah ini…
ambil, Pakde!
Tidak perlu melakukan ini semua!
Demi Allah, kami rela, Pakde! Ambil!
Kami tidak butuh semua ini!
Kalau memang Pakde
mau mengambil nyawa kami…
ambil, Pakde! Ambil!
Tapi nyawaku saja…
jangan Isti.
Bebaskan Isti.
Ambil nyawaku saja, Pakde.
Tidak…
Aku tidak akan pergi tanpa Mbak.
Aku tidak akan bisa.
Aku tidak bisa…
Aku tidak…
Mbak…
Is, bantu Mbak.
- Mbak… - Is.
Is…
Angkat.
Sinom…
Sinom…
Ada apa, Mbak?
Mbak?
Mbak.
Bukankah ini kalung Bude?
Yang kemarin kita lihat siapa, Mbak?
Is!
Mbak!
Bulik. Itu Bulik!
- Bulik! - Bulik!
Bulik!
Kok, kami tidak lihat Bulik masuk?
Bulik tadi lewat pintu belakang.
Bulik tidak mau ganggu.
Bulik.
Ternyata selama ini Pakde bohong.
Bude Sabah tidak pergi.
Bude Sabah dikubur di bawah tempat tidur Pakde.
Selama ini Pakde Puasa Sorop
supaya bisa menghabisi kita semua!
Kamu itu bicara apa, Nak?
Pakde…
yang membunuh Bapak,
Ibu, dan Bude,
supaya bisa menguasai rumah ini.
Bulik harus lihat sesuatu.
Bulik harus lihat ini.
Bulik harus lihat ini.
Makin tahu,
makin manusia mengerti arti mati.
Apa itu?
Kamu ingat benda peninggalan terakhir bapakmu ketika dia mati?
Bakar benda itu.
Bakar benda itu.
- Benda apa, Bulik? - Bakar benda itu.
Bakar benda itu!
Bakar benda itu!
Bakar benda itu!
Bakar benda itu!
Bakar benda itu!
Sinom!
Pakde pulang, Sinom.
Mbak…
Mbak!
Makin tahu,
makin manusia mengerti arti mati.
Sinom!
Jangan pergi.
Pakde kangen!
Hanif, Isti?
Kalian kenapa?
Siapa kamu?
Ini Bulik, Nak.
Ini Bulik Saidah.
Jangan bohong!
Astaghfirullahaladzim.
Apa yang sudah terjadi kepada kalian?
Bulik sudah berusaha menelepon ke sini,
tapi tidak bisa.
Perasaan Bulik tidak enak, Nak.
Makanya Bulik buru-buru ke sini.
Nak, sudah.
Sini.
Kemarilah.
Ini Bulik, Nak.
Hanif, Isti.
Ini Bulik, Nak.
Bulik…
Astaghfirullahaladzim.
Tolong, Bulik…
Kenapa sampai seperti ini?
Apa yang terjadi padamu, Mas Khoir?
Ini benda yang diserahkan polisi kepada Bulik
ketika bapakmu meninggal.
Ketika kami bertemu sosok yang menyerupai Bulik,
dia menanyakan soal benda yang ditinggalkan oleh Bapak.
Apa ini benda yang dimaksud?
Yang gelap tidak bisa dilawan oleh yang terang.
Yang gelap harus dibunuh oleh yang lebih gelap.
Apa itu maksudnya, Bulik?
Kok, bisa
Pakde Khoir setega itu kepada kami?
Kalian ingat…
saat malam terakhir
sebelum kalian pergi meninggalkan rumah ini?
Hanif, Isti. Bulik pulang dulu, ya.
Itu makanan sudah Bulik siapkan.
Nanti dimakan, ya.
Kamu sudah menyebabkan ini semua!
Kamu sudah membuat aku tersiksa!
- Kamu mau aku mati. - Aku takut.
Sabah!
Jangan takut.
Kalau memang Pakde melakukan Puasa Sorop,
kenapa justru Pakde
meminta Bulik untuk membawa kalian pergi jauh dari rumah ini?
- Is? - Astaghfirullahaladzim.
- Is? - Is, kamu tidak apa-apa?
Istirahat dulu. Ayo, istirahat.
Hanif, tolong buatkan adikmu teh panas.
Makin tahu, makin manusia mengerti arti mati.
Makin tahu, makin manusia mengerti arti mati.
Is?
Makin tahu, makin manusia mengerti arti mati.
Bicara apa kamu, Nak?
Isti?
Aku pulang, Bu.
Is?
Is?
Is!
Is?
Is?
Bulik?
Is?
Bulik?
Bulik…
Bulik, bangun!
Bulik!
Is?
Bulik.
Bulik!
Is?
Is?
Sinom…
Sinom…
Di mana Isti?
Isti di mana, Pakde?
Sinom…
Sinom…
Sinom!
Bude sudah lama
menunggu kedatangan kalian.
Selama ini Bude…
yang Puasa Sorop?
Kenapa?
Kenapa, Bude?
Orang tuamu punya segalanya dan kami tidak memiliki apa-apa.
Mereka merendahkan kami dan serakah mau mengusir kami dari rumah ini.
Itu sebabnya
kalian harus mati!
Sinom!
Sorop!
Sorop!
Sorop!
Sorop!
Sorop!
Isti!
Is!
Buka!
Is?
Is?
Is!
Is!
Is, turun!
Is…
Isti…
Isti, turun!
Is…
Sinom…
Sinom…
Sinom…
Bude datang!
Hanif!
Hanif, bangun!
Hanif!
Hanif!
Hanif…
Bulik…
Isti di mana, Bulik?
- Nif… - Is?
Nif. Pegang ini.
Bulik yakin
dulu bapakmu memiliki benda ini
untuk mengakhiri semua ini.
Dan tulisan yang ada di kain adalah mantra yang harus diucapkan.
Yang gelap tidak bisa dilawan oleh yang terang.
Yang gelap harus dibunuh oleh yang lebih gelap.
Hanif!
Astaghfirullahaladzim.
Bulik!
Bulik.
Bulik, sadarlah.
Ya Allah…
Bulik!
- Bulik? - Mbak Hanif!
Tolong!
Isti!
Is!
Isti.
Mbak Hanif!
Is!
Isti!
Isti!
Astaghfirullahaladzim.
Isti…
Mbak, aku takut.
Ya, sudah, ada Mbak di sini.
Jangan takut.
Ayo, Is.
Sinom…
Sini…
Kamu sembunyi di sini.
Jangan bersuara, ya.
Mbak, jangan… Jangan tinggalkan aku.
Tidak akan, Is.
Aku tidak mau mati di sini, Mbak.
Dengarkan Mbak.
Kamu tidak akan mati di sini, Is.
Mbak mau lihat kamu jadi sarjana.
Ya?
Sinom…
Masuklah.
Pakdemu mengkhianatiku dengan menyelamatkan kalian.
Karena perbuatannya,
sampai mati pun aku terus disiksa.
Sekarang waktuku untuk menuntaskan Puasa Sorop-ku
agar aku terhenti dari semua siksaan ini.
Saatnya Bude…
pulang ke neraka!
Yang gelap tidak bisa dilawan oleh yang terang.
Yang gelap tidak bisa dilawan oleh yang terang.
Yang gelap tidak bisa dilawan oleh yang terang.
Yang gelap tidak bisa dilawan oleh yang terang.
Hanif, Isti!
Bulik!
Astaghfirullahaladzim.
Hanif…
Isti…
Sudah atau belum, Is?
Bulik sudah mau sampai, antar kita ke stasiun.
Is?
Sudah, Mbak.
Maaf mengganggu.
Cari siapa ya, Bu?
Bisa bicara sebentar?
Penting.
Apa ada yang bisa kami bantu?
Saya ke sini
ingin mengambil barang milik saya.
Buku bersampul warna merah.
Sampai dengan 40 harinya,
kalian tidak bisa pergi dari sini.
Sinom…
Sorop!
Sorop!
Sorop!
Is!
Buka!
- Tolong! - Buka!
Buka!
Buka, tolong!
Buka!
Tolong!
BERDASARKAN UTAS BELUM SELESAI KARYA @SIMPLEMAN
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.