Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranรฎ)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
PERINGATAN: CERITA INI MENGANDUNG UNSUR YANG BERTENTANGAN DENGAN AJARAN ISLAM
PEMIRSA DISARANKAN UNTUK MENONTON DENGAN BIJAKSANA
SEPENUHNYA FIKTIF TIDAK BERDASARKAN PERISTIWA NYATA
EPISODE 7
Assalamualaikum.
Alaikum salam.
Walid,
ada yang mau kudiskusikan denganmu.
BIDAH
Ketakwaan itu menjalankan
segala perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.
Tidak ada syarat bagi wanita untuk masuk surga
dengan menaati seorang mursyid
yang kemursyidannya belum pasti.
Kita jangan langsung menyimpulkan.
Kita harus mengumpulkan bukti yang konkret.
Kita tak mau menyuburkan budaya fitnah.
Aku sudah salat istikharah selama dua pekan, Walid.
Aku bisa merenungkan dengan jelas.
Begini...
Sebagai pengikutmu
yang taat dan setia,
kurasa
sudah waktunya bagiku mengisi posisi yang kosong
dan bertanggung jawab
untuk melindungi dan memimpin istri baru, Walid.
Alhamdulillah.
Sesungguhnya yang baik itu datang dari Allah.
Jika pintu hatimu terbuka,
itu berarti waktunya sudah tiba.
Kau sudah lama membiarkan posisi itu kosong.
Tidak...
Bukan maksudku untuk menambah istri, Walid.
Setelah kedua istriku,
Maimunah dan Latifah meninggal,
ditambah Rosnah yang bertingkah,
aku tak mau Sarina terlalu nyaman di posisinya.
Ada banyak jemaah di sini.
Bagaimana kalau kita ikat mereka dengan pernikahan?
Tentu. Bukan masalah.
Rasulullah saja memiliki lebih dari empat istri,
maka kita juga bisa.
Siap atau tidak itu tergantung kita.
Insyaallah, aku siap lahir dan batin.
Aku siap.
Ada satu lagi yang mau kusampaikan padamu
untuk putraku, Hambali.
Walid, mungkin kau bisa
memilihkan jodoh untuk Hambali juga.
Masyaallah.
Ayah dan anak mau menikah.
Bukan apa-apa, Walid.
Seperti yang kau bilang,
pernikahan akan mengokohkan Jemaah Jihad kita.
Aku cemas putraku, Hambali, jatuh hati dengan wanita di luar jemaah kita.
Insyaallah.
Pasti ada jodoh untuknya.
Jika memungkinkan, aku mengusulkan
kau menjodohkan Hambali dengan anak-anak jemaah kita.
Aku akan salat istikharah dulu.
Semoga calonnya nanti pilihan terbaik Allah.
Insyaallah, Walid.
Tentu.
Assalamualaikum.
Alaikum salam.
Boleh aku tanya sesuatu?
Silakan.
Kau baru kembali dari Yaman.
Kau memiliki ilmu yang banyak.
Aku yakin
Allah menganugerahkan ilmu padamu
agar kau
mengabdikan dirimu
untuk membantu umat memperdalam imannya
dan membimbing mereka mendekatkan diri pada Allah.
Aku juga yakin itulah misi Jemaah Jihad.
Itu sebabnya,
kau dan aku berada di sini.
Ayahmu pun salah satu pemimpin besar.
Jelas, kau lebih memahami
tentang perjuangan Jemaah Jihad ini daripada aku.
Jadi, pertanyaanku itu,
apa Jemaah Jihad ini masih sesuai
dengan ajaran Al-Qur'an dan sunah?
Demi Allah dan Rasulullah?
Untuk menuntun jemaah pada Allah atau...
Kurasa kau pasti paham maksudku.
Kau tak perlu menjawabnya.
Dengan kepandaianmu itu,
kau pasti paham maksudku, 'kan?
Assalamualaikum.
Alaikum salam.
INTROSPEKSI DIRI
Assalamualaikum.
Alaikum salam.
Aku tahu yang kau lakukan.
Semua orang pun tahu
kalau aku menunggu untuk naik perahu.
Jadi, apa masalahnya?
Aku berbicara soal perjuangan jemaah.
Kita memiliki tujuan yang sama.
Aku berada di sini untuk berjuang demi ibuku.
Membimbingnya agar melihat seperti apa Jemaah Jihad sebenarnya.
Aku juga.
Sama, tapi berbeda.
Hidupmu ada di sini.
Keluargamu juga.
Hal itu berbeda dengan ibuku yang sudah dijebak.
Kini, aku pun berkorban masuk ke sini.
Untuk apa?
Untuk membuka mata ibuku
agar melihat segala penyimpangan yang ada di Jemaah Jihad.
Aku pun menyaksikan sendiri semua yang terjadi di sini.
Tapi aku hanya sendirian
untuk memperbaiki semuanya.
Kau mau menyadarkan akidah satu orang, aku harus menyelamatkan seluruh jemaah.
Insyaallah, jika bekerja sama dengan strategi yang tepat,
kita bisa menyelamatkan akidah seluruh Jemaah Jihad.
Demi Allah dan Rasulullah.
Yang muda?
Belum pernah seseorang datang padaku
untuk mengatakan yang dilihatnya dalam salat itu
calon istrinya tua.
Itu bagian anehnya, Walid.
Setelah salat istikharah, aku dapat bayangan wanita itu mungil,
putih,
dan tampak seperti Srikandi Islam.
Mungkin Allah mengirim seorang wanita
untuk membantuku berdakwah.
Semoga bayangan itu memang pertanda dari Allah,
bukannya jelmaan setan.
Insyaallah.
Insyaallah.
Jodoh dan maut itu kehendak Allah.
Jika jodoh dan maut bisa dibeli,
hilanglah eksistensi Allah.
Mari kita berserah padaNya.
Allah tahu yang terbaik bagi kita.
JEMAAH JIHAD
Jalankan saja sesuai rencana kita.
Tidak seorang pun perlu tahu, termasuk ibumu.
Baik, aku akan merahasiakannya.
Ibuku belum memercayaiku sepenuhnya.
Bukan masalah.
Cepat atau lambat, kebenaran akan terungkap.
Assalamualaikum.
Alaikum salam.
Dari mana kau, Hambali?
Assalamualaikum, Walid.
Alaikum salam.
Shuhaimi meninggal.
Aku sudah tahu.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Assalamualaikum.
Alaikum salam.
Sikapmu bagus sekali.
Kau bolak-balik pergi.
Kau itu bekerja di sini!
Aku tak bekerja di sini. Aku hanya mengabdi.
Mengabdi apanya?
Kau dibayar!
Ya Allah, Bu.
Aku sudah bilang sebelumnya, 'kan?
Sambil mencari pekerjaan yang cocok, aku akan mengabdi di sini.
Pada saat yang sama aku mau memahami jemaah di sini.
Apa artinya kau bisa berbuat semaumu?
Kau tak malu pada Walid?
Apa yang akan dibicarakan orang tentang dirimu?
Apa aku tak boleh keluar sama sekali?
Aku juga punya urusan.
Minta izin!
Jangan pergi begitu saja.
(Bismillah.)
(Assalamualaikum.)
(Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.)
(Kabar duka cita, salah satu jemaah sudah meninggalkan kita,)
(Shuhaimi bin Muhammad Firdaus.)
(Beliau berpulang ke rahmat Allah pukul 15.45 ini.)
(Insyaallah,)
(jenazah akan diantar untuk dimakamkan setelah asar.)
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Di mana pun kau berada, kematian akan menemukanmu.
Walau kau berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.
Kematian tetap akan menghampirimu.
Kita harus percaya
jika kematian itu nyata.
Alam kubur itu nyata.
Pertanyaan dari Munkar dan Nakir itu nyata.
Kebangkitan setelah kematian itu nyata.
Hisab dosa dan pahala itu nyata.
Jembatan siratalmustakim itu nyata.
Surga itu
nyata.
Neraka itu juga nyata.
Hari Kiamat
pasti akan datang.
Tidak ada keraguan.
Allah akan membangkitkan semua orang yang berada di dalam kubur.
Permisi.
Itu almarhum suamimu, 'kan?
Ya, dia suamiku.
Kenapa kau tak ikut memakamkannya?
Wanita tak boleh pergi ke makam.
Siapa bilang?
Walid.
Walid bilang wanita tak boleh pergi ke makam.
Berhenti!
Buang air ini!
Ada apa denganmu?
Kalian datang kemari untuk belajar menaati perintah dan kehendak Allah!
Bukan mengabaikan Allah seperti ini.
Aku tak mengabaikan Allah.
Kalian ikut membiarkan orang meminum air bekas mandi ini,
tapi katamu itu bukan mengabaikan Allah?
Ini bidah, tahu!
Dari mana berkahnya air bekas mandi ini?
Berkah itu datang dari Allah.
Aku hanya mengikuti perintah Walid.
Aku pemimpinmu.
Walid melantikku jadi pemimpin.
Jadi, kalian harus mendengarkanku.
Kubilang buang!
Panggil semua jemaah pria kemari.
Cepat!
Tidak bisakah kita berdakwah tanpa poligami?
Kenapa memilih untuk mengikuti sunah Rasulullah yang itu,
padahal masih banyak lainnya?
Poligami bukan kesalahan atau dosa.
Dalam Al-Qur'an, poligami dibolehkan tanpa ada syarat apa pun.
Selama
seseorang bisa bersikap adil.
Tapi, adil itu sangat berat.
Adil itu mudah bagi mereka yang berkeyakinan kuat
dan berniat poligami karena Allah dan Rasulullah.
Berpoligami karena Allah dan Rasulullah?
Bagiku, mempunyai istri lebih dari satu itu bukan berdakwah.
Kecuali
wanita yang dinikahi itu sangat membutuhkan perlindungan.
Dalam Jemaah Jihad ini kulihat,
berpoligami jadi semacam budaya.
Poligami itu dakwah hati.
Baik untuk hati suami maupun para istri.
Misi Jemaah Jihad untuk membimbing pengikut Rasulullah.
Bagaimana mau berdakwah pada umat Rasulullah,
jika diri sendiri belum bisa ikhlas
dan rida hanya dari satu ujian?
Ujian berpoligami.
Aku tak kaget jika kau menolak poligami.
Karena kau belum mengenal Allah.
Astagfirullah.
Hanya karena menentang poligami,
aku dianggap tak mengenal Allah?
Jika mengenal Allah, kau akan yakin
tak ada satu pun di dunia ini milik kita.
Semuanya milik Allah.
Sesuatu yang milik Allah,
maka harus berbagi.
Bukankah kita seharusnya malu untuk menentangnya,
seolah-olah suami hanya milik kita selamanya?
Surah An-Nisa ayat 129 menyatakan,
"Kau tak akan bisa berlaku adil pada istri-istrimu,
walau sangat ingin berbuat demikian."
"Karena itu, janganlah terlalu cenderung pada orang yang kau cintai,
sehingga membiarkan yang lain terkatung-katung."
Menurutku,
banyak cara untuk mendidik hati selain dengan berpoligami.
Aku hanya khawatir para wanita dijadikan mangsa dengan dalih berdakwah.
Maksudku,
memanipulasi wanita atas nama dakwah.
Semua sudah datang?
Sekarang, kalian bersihkan sumur ini.
Buang semua air di dalamnya.
Aku tak mau.
Kalian ini takut pada Allah
atau taat pada perkara bidah ini?
Ini bukan bidah!
Meminum air bekas mandi orang demi mendapat berkah,
apa itu bukan bidah?
Al-Qur'an pun tak pernah menyebutkan praktik semacam ini!
Rasulullah tak pernah mengajarkan pengikutnya meminum air bekas mandinya!
-Buang airnya! -Kami ingin berkah dari mursyid.
Dia bukan manusia sembarangan.
Jika kami tak menaati mursyid,
lalu menuruti siapa?
Jika kalian menolak melakukannya, bukan masalah.
Biar kulakukan sendiri!
Hambali!
Ayah mengirimmu belajar, bukan untuk jadi orang sombong dan angkuh.
Aku bukan sombong, Ayah. Aku membetulkan pemahaman yang salah.
Siapa kau bisa menentukan benar atau salah?
Ayah,
Al-Kautsar itu sungai yang berada di surga.
Seperti telaga yang terbuat dari batu permata indah dan cantik.
Putihnya lebih murni dari susu.
Rasanya lebih manis dari madu.
Lalu, aromanya lebih wangi dari kasturi.
Itulah sungai yang dijanjikan Rasulullah
bagi umatnya yang menghuni surga.
Bukan dari air bekas mandi manusia yang dibilang berkah.
Di mana keberkahannya, Ayah?
Itu pertanyaan dari orang berilmu, tapi tak ada isinya.
Rasulullah mengajarkan tentang syariat,
agar kita mengenal hukum.
Al-Qur'an tak sebutkan hukum dan syariat tentang air bekas mandi manusia.
Apa minum air rendaman kaki manusia itu membawa keberkahan?
Syariat mengajarkan kita meluruskan diri.
Tarekat mengajarkan kita membenahi diri.
Hakikat mengajarkan kita berserah diri.
Lalu, makrifat mengajarkan kita mengenali diri yang sebenarnya.
Syariat dikerjakan oleh tubuh.
Tarekat dikerjakan oleh hati.
Hakikat dikerjakan oleh jiwa.
Lalu, makrifat dikerjakan oleh rasa.
Jika membatasi diri belajar ilmu syariat saja,
kau hanya akan mendapatkan itu saja.
Orang yang beribadah dengan syariat saja
maka dia hanya menyembah kekosongan.
Ayah.
Tarekat, hakikat, dan makrifat
tanpa syariat itu
wujud sebuah keangkuhan.
Tanpa syariat,
kita tak tahu apa artinya
menjadi hamba Allah.
Kepulanganmu ini bukan untuk mengajari Ayah soal hukum.
Dalam Jemaah Jihad ini,
ilmumu itu hanya setetes air di lautan luas.
Jangan sampai setetes ilmu itu menciptakan ombak besar di laut tenang.
Ibu Rabiatul!
Ada apa?
Maafkan aku, Ibu.
Air yang seharusnya kutuang ke sumur untuk malam inisiasi
sudah dibuang, Bu.
Siapa yang membuangnya?
Hambali.
Dia bilang semua ini bidah!
BERSAMBUNG...
BIDAH
Kau tahu kalau agama menyuruh kita untuk taat pada mursyid.
Taat dengan meminum air rendaman kaki?
Tanpa ketaatan pada mursyid,
sebuah bahtera perjuangan tak akan sanggup berlayar.
Tapi, aku tak yakin pada ketaatan
Hambali dan Baiduri.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.