Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Kamu kan memperjuangkan hidupmu, Ning.
Iya, Bang.
Insyaallah,
aku bantu.
Terima kasih, Kang.
Kamu yakin, Ning?
Kita sebenarnya bisa loh pergi bertiga saja.
Aku, kamu, Nirmala.
Yakin.
Sulaiman orangnya baik kok, Uti Yah.
Saya juga cuma kepingin
Uti Yah sama Nirmala punya hidup yang lebih baik.
ATM-ku kena blokir, Ning.
Kamu pegang duit, kan? Sini aku bawa dulu.
Besok aku ganti.
Bu, Mala mau pulang.
Iya, sabar.
Pesugihan kungkung keduk ini yang bikin kita dapat rezeki, Ning.
Dapat kemudahan.
Semua orang juga tahu kamu penipu.
Kamu jangan ikut-ikutan goblok kayak orang-orang itu.
Kita ini orang yang nggak punya banyak pilihan, Ning.
- Ayo. - Tidak.
- Ayo! - Enggak!
Ayo!
Ayo!
Iya!
Tapi jangan sakiti lagi
Nirmala dan Uti Yah.
Ayo.
Kalau aku kehilangan kesadaran,
tarik talinya kuat-kuat, ngerti?
Ngomong apa sih? Ya, ampun!
Copot! Nanti kesetrum. Mala jangan pakai beginian!
Kamu juga nanti ikut sama Uti Yah,
jangan minta yang macam-macam.
Jangan ngerepotin Tuan Tetsuya, ya.
Pak Tetsuya baik kok sama Mala.
Ini buat Ibu.
Apa ini?
Kata Pak Tetsuya, burung bangau itu… Apa ya, Uti?
Biar beruntung.
Bawa rezeki.
Nah, itu dia.
Ayo, cepetan!
Ibu udah telat nih, mau narik odong-odong.
Iya.
Nama saya Mala.
Nama lengkapnya, Nirmala Aisyah.
Kalau panasnya sudah selesai, aku pengen banget belajar berenang.
Kenapa jadi berenang?
Kan kalau mau jadi polwan, harus bisa berenang.
Mari, Bu.
Ya, mau saya ini.
- Gus! Gus! - Apa?
Ning!
Mana Sulaiman?
Minggat ke mana dia?
Suruh dia balikin uangnya!
- Sudah, Pak. - Janjinya satu bulan.
Sudah berapa bulan ini?
- Dilihat orang banyak! - Tentara gadungan! Sulaiman anjing!
Iya, lihat. Tapi jangan di sini, Pak.
Sudahlah, Pak. Bapak ini bikin malu aku aja.
Hei, Ibu-Ibu. Cepet, yuk!
Hati-hati! Satu-satu, ya.
Kebanyakan makan ini.
Kau tak apa-apa, Wening?
Wajahmu pucat sekali. Kaya orang kesurupan.
- Enggak apa-apa, Bu. - Ayo pulang.
Iya.
Ini mau sekalian nyamperin anakmu atau tidak?
Enggak usah, Bu. Nanti saya naik motor saja.
Tapi ini mau hujan loh.
Iya.
Bu, saya besok izin narik siang, ya. Mau bawa motor ke bengkel dulu.
Oh, iya. Tidak apa-apa, Ning.
Kenapa?
Kamu ke mana saja, sih? Lama banget!
- Nirmala kenapa? - Sudah. Kita pulang sekarang! Ayo!
- Cepat pulang! - Sakit apa?
- Pulang! - Ini hujan, Bu. Berteduh dulu.
Ayo! Pulang!
- Kenapa, Mala? - Sudah.
Pulang, ya.
- Mala takut. - Itu nanti saja di rumah.
Sudah, Nirmala, jangan nangis terus.
- Jangan nangis. - Lain kali diem aja di rumah.
Enggak usah ikut Uti kerja.
Ning, kiri saja.
Bahaya lewat situ.
- Ke situ aja, Bu, biar cepat. - Hei, Ning! Kamu yakin?
- Ibu! - Ning, cepat!
- Ning! - Ibu!
Hati-hati, Ning! Jalannya ngebut banget!
Nirmala?
Ibu?
Ibu.
Nirmala?
Jangan di sini, Mbak. Bahaya, Mbak.
- Saya cari anak saya, Pak. - Nanti kita cari.
- Ibu saya juga hilang. - Iya, iya.
Ayo. Kita ke atas dulu, Mbak. Bahaya di sini, Mbak.
Kita ke atas dulu.
Kronologi kejadian tadi bagaimana, Pak?
Pak?
Ya, Bu?
Anak saya belum ketemu, Pak?
Baik, Bu. Akan ditangani, Bu.
- Arya! - Siap!
- Satu korban belum ditemukan. - Siap!
Mungkin jatuh di sungai. Panggil tim SAR.
Tim 2, masuk. Masih ada satu korban lagi.
Uti Yah?
Ini uti-nya. Uti Yah. Jadi…
Anaknya belum ketemu.
Kamu yakin, Ning?
Terjun.
Saya takut, Kak.
Sekarang saya tanya sama kamu.
Gimana bisa jadi perenang kalau takut masuk air?
Terjun.
Saya mau pulang.
Pulangin aja, Gus.
Mbak,
tapi itu anaknya Pak Wiro.
Kepala Polsek, Mbak.
Beliau nitip anaknya mau dijadiin atlet.
Anaknya enggak mau.
Tapi biaya kursus untuk setahun ke depan sudah dibayar lunas, Mbak.
Oke.
Siap?
Mbak Tirta!
Sini.
Hidup.
Air.
Hidup.
Air.
Hidup.
Air.
Hidup bagaikan air sungai.
Mengalir tak tertahankan.
Takkan berhenti.
Hingga akhirnya ia bersua di muara.
- Dan menyatu di lautan. - Yang di sana belum dicek, Pak.
Pak Adang, tolong kasih tahu dulu sama timnya. Jangan dulu pindah.
Yang di sana belum dicek, Pak.
Mbak Wening, ini sudah hampir gelap. Pulang dulu. Istirahat.
Bukan apa-apa. Saya perhatikan beberapa titik di sana belum diperiksa,
tapi kok sudah pindah ke sini, Pak.
Pak Dante, ini tolong diterima, Pak.
Jangan, Mbak Wening.
Apa enggak bisa, polisi juga ikut bantu?
Begini loh, Mbak.
Ini sudah ranahnya Tim SAR.
Enggak bisa. Maaf, ya.
Saya terusan.
Bukan saya enggak peduli musibah Mbak Wening,
tapi saya butuh uang untuk operasi suami saya.
Kalau memang mau perpanjang kontrakan, segera dibayar, ya, Mbak.
Saya usahakan segera, ya.
Kira-kira mau dibayar kapan, Mbak?
Segera, ya, Bu.
Segera, ya, Mbak. Saya tunggu, Mbak.
Iya.
Makasih, Bu.
Sini, Mbak. Kosong.
Ning, mulai besok, kamu enggak usah narik dulu.
Nanti kalau semua sudah beres segala-galanya,
kamu balik lagi ke sini.
Aku yang rugi, Ning.
Kamu enggak konsen.
Enggak fokus kerjanya.
Seminggu ini sudah dua baju rusak.
Aku niatnya bantu.
Tapi kamu kok gitu, ya.
Oh, setelah itu…
…foundation jangan lupa. Ini dari LG Tech.
LG Tech. Ini bagus banget.
Lihat, serinya juga.
Sama ini.
Ini penting banget.
Ini adalah…
Pensil bawah mata yang…
Kami kemarin menemukan beberapa barang di sungai.
Ada pakaian, ada sepatu.
Coba Mbak Wening lihat, siapa tahu ada yang Mbak kenali.
Baik, Ibu. Kemudian nanti mau pindah koordinat, Pak.
Ada, Mbak?
Ada yang pernah bilang, kalau Nirmala itu bisa berenang, Mbak.
Saya tak tahu kalau dia bisa berenang.
- Kalau dia bisa berenang… - Ya, tapi di mana?
Sudah seminggu anak saya, Nirmala, hilang.
Tapi saya yakin
dia akan ketemu entah di mana.
Mohon doanya, ya.
Ibu!
Apa ini?
Buka aja, Bu.
Selamat ulang tahun, Ibu!
Biar kalau jualan, handphone-nya tidak disenderin di kaleng kerupuk.
Kamu yakin, Ning?
Dipanggil dengan tenang.
Tenang model apa ini?
Kamu ga takut di rumah sendirian, Ning?
Berapa?
Sepuluh ribu.
Mas.
Ini ibu yang meninggal kecelakaan di jembatan itu, ya?
Uti Yah.
Itu tadi anaknya, Wening.
Dia yang bawa motor.
Anaknya, Nirmala, 11 tahun hilang sampai sekarang.
Ketemu aja mungkin udah mati.
Mau fotokopi, Mbak Tirta?
Minta sepuluh.
Atlet renang juga nih, kayak Mbak Tirta?
Ya, semoga.
Ya, semoga jadi atlet.
Daripada cuma berenang di kali,
gaya kampung.
Saya juga dari kampung, Mas.
Berenang di kali.
Loh ini anaknya, Mbak.
Mbak Tirta,
anak-anak sudah siap.
Dengerin, Semuanya.
Yang belum bayar iuran hari ini enggak usah ikut latihan.
Dodo. Ratih.
Duduk.
Yang lain pemanasan.
- Ayo. - Ayo, pemanasan dulu.
Gus.
Mbak!
Ada anak baru yang mau belajar renang.
Bawa baju renang?
Enggak.
Enggak?
Terus mau berenang pakai dress?
Saat ini, pihak SAR masih melakukan pencarian.
Dikonfirmasi oleh Adang Sutanto selaku Kepala Operasi SAR,
mereka mengaku kesulitan mencari korban karena derasnya arus sungai.
Dengan peralatan yang ada, pencarian korban belum membuahkan hasil.
Pak!
Pada mau ke mana?
Pak Adang!
Pak, gimana ini?
Maaf, Mbak.
Pencarian harus kita hentikan.
Ini sudah sepuluh hari.
Sepertinya tidak mungkin ketemu.
Kami menduga
- jasadnya sudah terbawa jauh. - Anak saya masih hidup
Nirmala enggak mati.
Memang Pak Adang siapa?
Tuhan?
Kok bisa-bisanya menentukan nasib orang?
Maaf, Mbak.
Tapi perhitungan kami rasional dan terukur.
Halo, selamat malam.
Saya tidak tahu harus minta tolong sama siapa.
Jadi, saya betul-betul minta tolong.
Sebab anak saya sampai sekarang belum ditemukan.
Tim SAR sudah mencari.
Tapi dia menghentikan pencariannya.
Saya yakin
anak saya masih hidup.
Entah ada di mana.
Tapi kalaupun memang sudah tidak…
Saya mau
menemukan
jasad…
Di situ…
Bagus.
Kau bisa ajari aku…
- Terima kasih, Pak Tatsuya. - Terima kasih. Dah.
- Terima kasih, Pak Tatsuya. - Dah. Sampai jumpa.
Andi.
- Terima kasih, Pak Tatsuya. - Dah. Sampai jumpa.
- Hati-hati di jalan. - Baik.
Dah.
Ada yang bisa kubantu?
Saya mau mengembalikan ini,
cucian Tuan Tatsuya.
Mungkin Uti Yah lupa mengembalikan.
Mesin cuci di sini sempat rusak dan Uti Yah bawa cucian kotor ke rumah.
Terima kasih, Wening.
Uti Yah selalu membicarakanmu.
Maaf mungkin sudah tidak wangi.
Saya juga baru ada kesempatan mengucapkan terima kasih.
Kemarin sudah datang ke pemakaman dan membantu membiayainya.
Aku juga minta maaf
aku hanya bisa tinggal sebentar
karena aku ada rapat di kampus.
Bagaimana putrimu?
- Anak? - Anak?
Mari, Tuan.
Tunggu sebentar.
Bayar ini?
Tidak usah.
Saya juga sudah berhenti kerja di sana.
Mari.
Saya sedang tidak ada pekerjaan, Tuan.
Apa mungkin saya kerja di sini menggantikan Uti Yah?
- Di sini? - Ya.
Tidak apa-apa. Kalau sudah ada penggantinya, tidak usah, Tuan.
Belum ada penggantinya, tapi…
Ya. Saya mengerti. Terima kasih, Tuan. Mari.
Wening.
Anda bisa kerja besok?
Bisa.
Dari pagi sampai siang, ya?
Sama seperti Uti Yah, Tuan Tetsuya.
Panggil saya Tetsuya.
Baik, Tetsuya.
Selamat datang di Saiki Tirta.
Melarut. Mengurai. Menggugah. Menguatkan.
Di episode yang lalu, kita sudah membahas tentang
impian yang kandas.
Kali ini,
kita akan membahas tentang
tragedi.
Tidak ada yang pernah berencana ketika tragedi terjadi.
Segala yang ada sebelumnya tiba-tiba
menghilang setelahnya.
Marah.
Sedih.
Kecewa.
Sesal.
Hampa.
Takut.
Menyerang bagai badai Semeru.
Aku merasakannya padamu.
Saat ini, kamu hanyut dalam arus hidupmu yang baru dan berliku.
Ini saya mau kasih nasi berkat tujuh harian Uti Yah. Diterima ya, Bu.
Terima kasih, ya, Mbak.
Bening yang mengeruh.
Arus yang mengarah entah pada muara yang mana.
Apakah muaramu adalah tragedi?
Apakah arus yang menyeretmu adalah komedi kehidupan?
Yang menyalak-nyalak bersemangat.
Membujukmu tertawa riang melupakan segala duka.
Nirmala?
Nirmala.
Mbak.
Hati-hati, Mbak. Licin.
Wening itu menarik, Gus.
Mau dijadiin konten serius, ya, Mbak?
Gus.
Saya mau Mbak Wening jadi bintang tamu di podcast-nya Saiki Tirta.
Gimana?
Garansi viral, Mbak.
Pasti viral.
Cuma apa dia mau?
Permisi.
Mbak Wening.
Mbak Wening?
Mbak Wening?
Mbak Wening?
Mbak Wening?
Maaf, Mbak.
Siapa kamu?
Miyako namanya.
Miyako?
Usianya enam tahun
saat foto itu diambil.
Kini dia sepuluh tahun.
Miyako dan ibunya
ada di Jepang.
Saya kembali ke Indonesia
agar kampusku memberiku beasiswa riset
dan itu memilukan.
Boleh?
Lupakan.
Nirmala suka membuat ini.
Di Jepang,
bangau dianggap menyimbolkan asa.
- Harapan. - Harapan?
Seribu bangau bisa mengabulkan permohonan.
Kau tahu seribu?
Satu, nol, nol, nol.
- Seribu? - Seribu.
- Seribu bangau. - Seribu bangau?
Harapan.
Seribu bangau harapan.
Itu kepercayaan kami.
Aku senang kau punya keduanya.
Ibu punya…
Ikatan yang kuat.
Ibu jelas punya ikatan yang kuat dengan putrinya.
Jadi, jika kau percaya dia masih hidup, berarti dia masih hidup.
Sulaiman. Penipu, Mbak.
Tentara gadungan.
Banyak warga dijadiin korban, Mbak.
Diajak investasi palsu, dijanjiin ke Taiwan.
Mbak Lastri ini diutangi ngga pernah dibayar.
Banyaklah.
Terus ke mana dia sekarang?
Entah, Mbak. Kabur paling.
Enggak ada yang tahu dia ke mana.
Ninggal utang, ninggal masalah.
Sekarang Mbak Wening yang disuruh nanggung semuanya.
Laki-laki berengsek.
Laki-laki anjing.
Banyak banget masalahnya.
Tapi semakin banyak masalah semakin seru dikontenin, Mbak.
Pak Tatsuya?
Makanannya sudah siap.
Makanannya sudah siap, Pak Tatsuya.
Wan.
Saya mau dong kertas yang itu.
- Kertas apa? - Tuh yang itu.
Paling atas. Iya.
Mbak.
Mbak Wening.
Saya bisa ngomong apa aja di podcast kamu?
Bisa.
- Protes? - Bisa, Mbak.
Kapan?
Waktunya saya ikut Mbak.
Saya butuh seribu bangau.
Kalau kalian bisa bantu,
saya mau diwawancara.
Oke, Mbak.
Mbak Wening.
Maaf, saya harus pulang duluan.
Saya titip Mbak Tirta di sini.
Pamit, Mbak.
Seperti ini. Kalau belum terbiasa, memang sedikit sulit.
Tapi kalau sudah biasa, lebih gampang.
Origami bangau ini ngga hanya indah,
tapi juga bisa jadi simbol harapan.
Simbol keberuntungan.
Jadi, ayo kita lanjut lagi.
Proses selanjutnya, kita bentuk dasar segitiganya.
Lipat kertas seperti ini.
Suami Mbak yang di foto itu, ya?
…dengan mengikuti lipatan diagonal yang telah kita buat.
Oke. Selanjutnya, kita lipat sisi kertas ke dalam…
…bertemu di bagian atas.
Oke. Kita lanjut. Lipat sisi ke tengah dengan ujung segitiga…
Ini, Mbak.
…mengarah ke atas.
Kita lipat kembali sisi kanan dan kirinya sehingga…
Mbak.
Saya kagum sama Mbak.
Bisa tegar dan tabah untuk menghadapi semua tragedi ini.
Hebat, Mbak.
Saya enggak punya pilihan.
Biar saja aja, Mbak.
Mbak lanjut buat bangau.
Ya, boleh.
Kamu yakin, Ning?
Kamu yakin, Ning?
Aku yakin, Ning.
Aku yakin, Ning…
Kamu yakin, Ning?
Kamu yakin, Ning?
Kamu yakin, Ning?
Aku yakin, Ning.
Kamu yakin?
Mbak.
Mbak Wening,
percaya kalau
bangau-bangau ini bisa
- menemukan… - Udah enggak penting lagi
percaya sama enggak percaya, Tirta.
Saya juga jadi orang sebetulnya enggak baik-baik banget.
Saya itu dosanya banyak.
Nirmala satu-satunya harapan.
Dia di keturunan kami.
Ada orang yang baik.
Dari tadi kamu rekam-rekam saya, ya?
Iya, Mbak.
Hapus ya, saya enggak suka rekam-rekam gitu.
Maaf, Mbak.
Saya hapus.
Tirta, makasih, ya.
Nanti sore saya jemput, ya, Mbak.
Buat interview.
Oh, iya.
Sebenarnya celahnya jelas, Mbak.
Mbak Tirta kan niatnya mau bantu.
Ya iya. Tapi jadi bintang tamu aja kan enggak cukup, Gus.
Harus ada bukti yang konkret.
- Makasih ya, Bu. - Ya.
Sebenarnya aku bisa ngenalin Wening ke Mbah Gowa, Mbak.
Mbah Gowa?
Mbah Gowa itu dulu yang bantuin Pak Wiro buat nemuin gembong teroris, Mbak.
- Dukun? - Ya.
Polisi nyari teroris pakai dukun?
Iya, Mbak.
Tapi pakai internet juga, kok.
Emang Mbak Wening mau pakai dukun kayak gitu, Gus?
Mbak Tirta, kuberi tahu, ya?
Namanya orang beragama terus putus asa
pasti larinya ke dukun, Mbak.
Tinggal Mbak Tirta aja meyakinkan.
- Menarik. - Jelas.
Wening.
Ini privasiku. Paham?
Tak ada yang boleh masuk kemari.
Tunggu.
Kemari.
Ini tempatku bekerja dan menemukan kedamaian.
Cukup?
- Bentar, ya, Mbak. - Ya.
- Silakan, Mbak. - Makasih.
Kamu dari Jakarta.
Kok mau tinggal di kota kecil?
Kabur.
Gagal jadi atlet karena cedera.
Jadi, ya…
Segini aja cukup.
Ini katanya, ya.
Enggak perlu sembunyi karena takut.
Juga enggak perlu takut kalau enggak punya salah.
Kamu cedera bukan karena kamu, kan?
Salah saya sendiri, Mbak.
Selamat datang di Saiki Tirta.
Melarut. Mengurai. Menggugah. Menguatkan.
Kali ini kita kedatangan bintang tamu yang sangat luar biasa.
Kita kedatangan seorang perempuan
yang sudah mengalami tragedi terbesar dalam hidupnya.
Jadi, semenjak malam itu sampai sekarang, Nirmala belum ketemu, Mbak?
Belum.
Tapi kan ada Tim SAR yang membantu untuk mencarikan Nirmala.
Memang ada Tim SAR yang mencari,
tapi sekarang pencarian dihentikan karena
mungkin mereka percaya
kalau Nirmala sudah tidak ada.
Gimana Mbak Wening yakin
kalau Nirmala masih hidup?
Mbak, gimana kalau kita cari bantuan orang pinter aja?
Maksud saya, kalau Mbak Wening percaya sama bangau-bangau itu,
ngga ada salahnya juga kita coba.
Siapa?
Mbak Tirta! Mbak!
Mbak Wening.
Ayo, Mbak.
Orangnya sudah datang, Mbah.
Selama tujuh hari, selepas roh keluar dari badan wadah,
dia masih tersesat di alam yang tidak dikenalnya.
Di hari ke delapan,
roh-roh yang kuat bisa lepas dari alam pertanyaan.
Dia bisa pergi ke mana saja.
Hingga hari ke empat puluh.
Anakmu, Nirmala.
Dia berada di tempat yang gelap.
Maksudnya dia masih hidup, Mbah?
Ada kekuatan lain yang menahan dirinya keluar dari tempat gelap itu.
Dosamu di masa lalu.
Tebus dosamu, dia mungkin akan dilepaskan.
Dosa apa Mbah?
Apa yang tersirat di kepalamu kalau aku berbicara tebus dosamu?
Kamu yakin, Ning?
- Nirmala? - Ya.
Permintaanmu dikabulkan.
Saya harus ke Cirebon.
Apa saya bisa ambil gaji terlebih dahulu?
- Baik. Tunggu sebentar. - Terima kasih.
Baik, ya, Mbak, orangnya?
Ya, baik.
Anaknya ada di Jepang, dia berpisah dengan istrinya.
Ta.
- Yuk! - Iya, Mbak.
Nggak bisa pergi sendiri.
Saya temani, ya?
Jadi, bagaimana?
Bisa kerja sekarang apa besok?
Bagaimana?
- Ini aku isi dulu, besok diambil lagi. - Berarti…
Apa yang aku lakukan kepadanya…
Mungkin itu dosa terbesarku.
Ning?
Ning? Kamu ke mana?
Saya pikir dulu menikah denganmu, hidup saya lebih baik, nasib lebih baik.
Ternyata saya menikah dengan anak SMP yang keranjingan balapan.
Ning, sudah berulang kali aku bilang.
Aku sudah memenuhi kebutuhanmu, tetapi tidak pernah cukup.
Cukup apa? Selama ini saya mencukupi sendiri.
Sekarang saya mau urus nasib saya, anak saya, ibu saya,
dan kamu urus balapan-balapanmu dan ibu kamu yang sakit-sakitan.
Sedikit pun aku tidak pernah berbicara buruk tentang ibumu.
Kamu di sini aja.
- Maaf, Wicak. - Ning!
Uti Yah!
Ning!
Ning!
Dia sebenarnya orang yang baik.
- Bisa. Mari. Silakan. - Terima kasih, Bu.
Ta, tunggu sebentar.
Dua minggu lalu, dia sempat mencoba bunuh diri.
Tetapi ini bukan kali pertama,
karena sebelumnya, dia sempat melakukan itu berulang-ulang.
Mari.
Saya kecelakaan motor, Wicak.
Uti Yah meninggal.
Nirmala sampai sekarang
masih hilang di sungai.
Nirmala.
Tetapi saya yakin dia masih hidup, Wicak.
Saya datang ke sini mau minta maaf.
Saya sudah buat kamu seperti ini.
Mungkin karena itu,
Nirmala belum bisa ditemukan.
Bunuh…
Aku.
Aku…
Akan…
Memaafkan kamu.
Kalau kamu
bunuh aku.
Bantal.
Aku tidak bisa!
Tolong!
Tolong!
Ada apa, Mbak?
Astagfirullah!
Ya, Allah! Mbak, kenapa?
- Pak Parno. Tolong, Pak. - Kenapa bisa begitu?
Dia gigit lidahnya sendiri.
Mbak.
Ta.
Kamu sudah banyak sekali membantu saya.
Kamu pulang.
Ini bukan menarik.
Ini tragis, Gus.
Mbak Wening sudah ketemu sama suaminya, Wicak.
Suami pertamanya Mbak Wening.
Bilang ke Mbah Gowa kalau Mbak Wening itu serius menebus semua dosanya.
Halo, Sayang-Sayang Aku.
Semoga benar apa yang kau bilang Gus.
Mbah Gowa bisa bantu Mbak Wening untuk menemukan Nirmala.
Saya mau menunjukkan caranya mekap alami.
Sudah tidak ada artinya lagi konten-konten viral atau apa pun itu, Gus.
Saya kasih contoh, ya, Sayang-Sayang Aku.
Berikan yang banyak biar kita bisa tekan-tekan agar lembap.
Pak Tetsuya. Permisi.
Pak Tetsuya.
- Hei. - Pak Tetsuya.
Maaf malam-malam mengganggu, boleh saya menginap di sini?
Saya tidak bisa tinggal di rumah.
- Oke. - Terima kasih.
Pak Tetsuya.
Apakah Pak Tetsuya percaya dengan hantu?
Masuk.
Kamu bisa tidur di sini malam ini.
Pak Tetsuya, terima kasih.
Sama-sama.
Wening.
Saya tidak percaya hantu.
Bu, Mala mau pulang.
Iya sabar.
- Pulang! - Kenapa, Mala?
Tolong aku, Bu.
Bu, tolong aku. Ibu!
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun, Miyako
Selamat ulang tahun
Wening.
Nanti tolong siapkan makanan kecil untuk anak-anak.
Saya mau mereka ikut merayakan ulang tahun Miyako hari ini.
Baik, Pak Tetsuya.
Mbak Wening!
Mbak.
Kenapa, Tirta?
Ada informasi warga menemukan mayat, Mbak.
- Kayak gitu. - Kakinya, badannya.
Sudah berbau, Pak.
Ya.
- Berbau? - Iya.
Bengkak. Kakinya.
Sudah busuk.
Bukan Nirmala, Mbak.
Mbah Gowa ngapain lagi, Gus?
Saya nggak tahu, Mbak.
Saat ada mayat ditemukan, Mbah Gowa minta diantar ke sini
dan ketemu Mbak Wening secepatnya.
Kamu menebus dosa yang salah.
Kamu tahu mayat itu siapa?
Saya terpaksa.
Untuk membela diri. Kalau tidak, saya ikut mati tenggelam.
Jelas sudah dia yang menyekap Nirmala selama ini.
Terus apa yang harus saya lakukan?
Jangan bilang kalau saya harus minta maaf di depan jasadnya,
itu tidak akan saya lakukan.
Mbah, dia sudah menyakiti saya, Uti Yah, ibu saya dan anak saya, Nirmala.
Kamu bisa membuat upacara penyucian sungai
yang akan mendorong roh Sulaiman untuk membebaskan Nirmala
dari cengkeramannya.
- Gus. - Ya, Mbak.
Tolong bantu Mbah Gowa. Dia mau membuat ritual penyucian sungai.
Siap, Mbak. Apa saja yang perlu saya siapkan?
Kambing Jawa. Hitam. Jantan. Sama tumpeng.
Saya bantu, ya, Mbak.
Kumpulkan sebanyak mungkin warga. Bersihkan lokasi kecelakaan.
Upacaranya di sana.
- Hai. - Ya.
Pak Tetsuya, ini teman saya, Tirta.
Si pelatih renang, 'kan?
Aku mendengar cerita tentangmu.
Banyak anak takut denganmu.
Takut?
Oke.
Kata mereka, kamu pelatih yang keras,
membiarkan mereka tenggelam.
Itu namanya metode pelatihan, Pak.
- Supaya mereka berani untuk… - Termasuk Nirmala.
Nirmala?
Dia tidak melanjutkan karena takut.
Bukan begitu, Pak, Nirmala mau berenang.
Tunggu! Kamu nggak pernah bilang
kalau Nirmala pernah belajar berenang denganmu.
Pernah, Mbak. Sekali.
Bapak ini yang…
- Kalau Nirmala bisa berenang… - Kamu tidak bilang kepada saya
kalau kamu mengenal Nirmala sebelumnya.
- Ya. - Apa lagi yang kau sembunyikan?
Jangan berada di dekat saya.
Pergi!
Kamu tak apa-apa?
Ya.
- Pak Tetsuya. - Ya.
Saya bisa minta tolong sekali lagi?
Gus!
Mbah Gowa mana?
Sori, Mbak.
- Mbak Tirta tidak boleh masuk. - Kenapa?
Perempuan tidak boleh masuk.
Upacara ini cuma buat laki-laki.
Saya tidak mau.
Serius. Mbah Gowa sudah memperingatkan.
Kalau ada perempuan, upacara ini tidak ada gunanya.
Sekarang Mbak Wening pulang.
Nanti saya yang memberi kabar hasilnya. Kali ini pasti berhasil.
Terima kasih.
Nirmala bangga punya ibu sepertimu.
Mungkin seharusnya saya belajar dari Pak Tetsuya.
Untuk berdamai dengan rasa kehilangan.
Karena itulah
pintu rumahku
selalu terbuka untuk anak-anak.
Mereka mengisi kekosongan, terutama Nirmala.
Dia mengingatkanku akan putriku, Miyako.
Terima kasih.
- Nirmala! - Nirmala!
- Nirmala! - Nirmala!
- Nirmala! - Nirmala!
- Nirmala! - Nirmala!
- Nirmala! - Nirmala!
- Ketemu! - Ketemu!
Ini! Ketemu! Di sini!
Saya takut, Gus.
Dosamu terlampau berat, Ning.
Tidak bisa ditebus.
Tidak pula bisa dibersihkan.
Hilangnya Nirmala adalah hukuman setimpal bagimu.
Tidak ada orang yang bisa menolong
menemukan Nirmala.
Kecuali…
Di mana Nirmala?
Nirmala bersama kalian, 'kan?
Di mana?
Uti Yah, maafkan aku.
Wicak, maaf.
Nirmala, maafkan Ibu, Nak.
Tidak ada orang yang bisa menolong menemukan Nirmala.
Kecuali…
Kamu menyusulnya.
Tanggal 16 Juli 2022.
- Oke. - Oke.
Anaknya itu ada di Jepang, dia pisah dengan istrinya.
Gus.
Kita harus bertemu dengan Mbak Wening.
Ini Mbah, akhir utang Sulaiman. Lunas semua.
Anakmu, Ragus, luar biasa.
Mbah yang hebat, ada acara menebus dosa segala.
Ngomong terus.
Ketawa terus.
Ternyata tiga-tiganya gerombolan penipu semua.
Ayo tertawa.
Ngomong.
Bangsat!
Turun.
Hati-hati, Om.
Sebenarnya aku bisa mengenalkan Mbak Wening ke Mbah Gowa.
Tinggal Mbak Tirta yang meyakinkan Mbak Wening.
Bilang ke Mbah Gowa kalau Mbak Wening itu serius menebus semua dosanya.
Gila kamu, Gus! Bangsat!
Mbak. Mbak Wening.
Mbak.
Saya tahu Mbak Wening masih marah. Saya minta maaf.
Pak Tetsuya.
Saya baru ingat.
Tirta bilang Pak Tetsuya mengantarkan Nirmala berlatih berenang.
Betul?
Aku membuat teh hijau.
Bubuk teh ini asli dari daerah Uji di Kyoto.
Sebenarnya itu adalah kampung halaman mantan istriku.
Silakan diminum.
Terima kasih.
Buka pintunya, Mbak.
Mbak. Mbak Wening.
Saya mau membantu Mbak menemukan Nirmala.
Pak Tetsuya belum menjawab pertanyaan saya.
Pertama kali Uti Yah membawa Nirmala ke sini.
Saya merasa sangat tenang.
Saya tidak pernah menyangka Nirmala sangat mirip dengan Miyako.
Pak Tetsuya.
Bajunya pas. Terima kasih, Pak Tetsuya.
Rasa rindu kepada anak saya langsung terobati setiap kali melihat dia.
Orang Jepang itu orang jahat, Mbak.
Dia tidak pernah bercerai dengan istrinya.
Istri dan anaknya meninggal dalam kecelakaan mobil.
Dia pelakunya.
Waktu itu saya jemput Uti Yah dan Nirmala.
Dia sepertinya kesakitan.
Dia jatuh.
Dia berlarian dan jatuh,
Jatuh, maksudnya?
Saya bantu.
Tidak apa-apa.
Minum tehnya saja.
Saya sudah terjemahkan buat Mbak. Ini.
Mbak.
Pak Tetsuya.
Apa yang dilakukan Nirmala sampai dia terjatuh?
Beberapa orang Jepang lebih suka…
Yang tadi terlalu kental.
Pak Tetsuya.
Apa yang dilakukan Nirmala sampai dia jatuh?
Dia nakal.
Miyako nakal.
Saya.
Tidak suka.
Anak nakal.
Anak menghormati orang tuanya, terutama ayahnya.
Mereka menemukan ini.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Pak Tetsuya tahu di mana Nirmala?
Miyako.
Pak Tetsuya, saya Nirmala!
Pak Tetsuya, saya Nirmala!
Miyako!
Miyako!
Sakit!
Tuan, jangan!
Tuan, jangan.
Tuan sudah gila. Tuan bisa saya laporkan ke polisi.
Saya laporkan ke polisi.
Sakit.
Nirmala.
Maaf malam-malam menggangu, boleh saya menginap di sini?
Saya tidak bisa tinggal di rumah.
Ini Nirmala, Bu.
Mbak. Ya, Tuhan.
Nirmala.
Nirmala.
- Ayo kita harus pergi dari sini. - Nirmala.
- Maksudnya, Mbak? - Dia ada di sini.
Berengsek!
Nirmala.
Ibu.
Apa maumu?
Lipat kertas menjadi dua bagian.
Lalu buka.
Lipat lagi di sisi yang lain.
Lalu buka.
Kamu yakin, Ning?
Uti?
Lepaskan!
Ibu!
Ibu?
Lepaskan dia. Dia anakku.
Ibu.
Lepas! Ternyata kamu pembunuh!
Ibu!
Kemalangan begitu mudah datang
bagi orang-orang yang berusaha keras
untuk hidup lebih baik.
Mereka menyebutnya ujian.
Sedangkan kematian
adalah pengalaman berulang-ulang bagiku.
Aku telah mati berkali-kali.
Wening Sugati diputuskan bersalah oleh hakim Pengadilan Negeri Majakunan
atas pidana kelalaian yang menyebabkan kematian Sulaiman, suaminya.
Dia dijatuhi hukuman lima bulan penjara potong masa tahanan.
Wening yang berstatus saksi atas kasus penculikan anaknya
oleh Tetsuya Mori, warga negara Jepang,
saat ini mendekam di penjara khusus perempuan Semarang.
Ganti baju?
Bisa sendiri?
Tuh, kan? Bisa!
Lagi. Satu, dua, tiga.
Lagi.
Sekarang dorong airnya ke sana.
- Lagi. Satu. - Dua.
- Satu, dua, tiga. - Dua, tiga.
Satu, dua, tiga.
Sudah kamu pikirkan?
Saya sungguh-sungguh
mau membantu hidupmu dan Nirmala.
Sudah, Pak Adang.
Kami baik-baik saja.
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.