All language subtitles for Suzzanna.Buried.Alive.2018.1080p.NF.WEB-DL.DDP5.1.x264-Ao_ind

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
en English
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish Download
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
ur Urdu
uz Uzbek
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

MENGENANG

PERSEMBAHAN NETFLIX

[musik]

[guntur]

[gemeretak]

[musik]

[nyanyian]

[bunyi mesin mobil]

[musik]

[nyanyian]

[bunyi sapu lidi]

[bunyi mesin mobil]

Pak.

- Terima kasih. - Ya.

[langkah kaki]

[kucing mengeong]

[pintu dibuka]

Pak Satria.

Ibu di mana, Mi?

Ibu di kamar, Pak, sedang istirahat,

tetapi sudah tak apa-apa.

Baiklah.

[langkah kaki]

[langkah kaki]

[pintu dibuka]

Sayang?

Lo, kok sudah pulang, Mas?

[langkah kaki]

Kau yang telepon aku untuk pulang cepat hari ini.

Ya, tetapi kalau sudah selesai kerja.

Bukan sekarang.

- Sudah makan, Mas? - Belum.

- Mau aku siapkan makanan? - Boleh, Sayang.

- Kau lelah, Mas? - Tidak.

[bunyi lap]

[tertawa kecil]

Aku kira pintu.

Pintu.

Berapa kali aku bilang...

jangan suka baca yang seram begini, Sayang.

Kau kenapa? Sakit?

[mendesah]

Jangan bohong.

Mukamu saja pucat begini.

Tiba-tiba lemas tadi, Mas,

tetapi sudah tak apa.

Sudah panggil dokter.

Lalu?

Katanya biasa.

Biasa bagaimana?

Biasa untuk awal-awal mengandung, Mas.

[tertawa kecil]

Maksudmu?

Kau...

Ya. Akhirnya...

Penantian kita selama lima tahun terkabul juga, Mas.

[menarik napas]

Alhamdulillah.

Ibu hamil.

[tertawa]

Ada apa, Mia?

Ibu hamil.

Hamil? Alhamdulillah.

Semoga anaknya seperti aku.

Amit-amit.

Masa baru lahir sudah kumisan.

[tertawa]

[mendesah]

[musik]

Ayo.

Kita rayakan, Sayang. Kau mau apa?

Aku hanya mau waktumu, Mas.

Bisa lebih banyak lagi menghabiskan waktu denganmu.

Sepertinya aku mengidammu.

[tertawa]

Aku harus kembali ke pabrik sebentar.

Tadi aku cuma izin.

Aku janji...

semua waktuku nanti malam cuma untukmu.

Aku ikut, ya?

Jangan, kau sedang tak enak badan.

Kata dokter, aku butuh udara segar.

Lagi pula, kalau bisa menghabiskan waktu denganmu sekarang,

kenapa tunggu nanti malam?

[tertawa]

[mencium]

[obrolan tak jelas]

[Pekerja] Terus.

Bantu sana!

[pintu dibuka]

[tertawa kecil]

Bu Nur!

- Apa kabar? - Baik.

Bagaimana kabar, Bu Nur?

Alhamdulillah baik.

- Sebentar, ya. - Ya.

Coba cerita.

Produksi meningkat, penjualan juga bagus.

Senang sekali mendengarnya.

Ini permintaan naik gaji yang ketiga kalinya dalam tiga bulan ini.

Yang benar saja.

Ya, ini permintaan dari karyawan lain juga, Pak.

Jangan bilang ini permintaan dari karyawan lain

ketika sebenarnya kalian yang rencanakan ini.

Saya pasti memikirkan kesejahteraan kalian,

tetapi saya tak akan menaikkan gaji yang sudah naik tiga bulan lalu.

Kalau tidak, karyawan berpikir mau berdemonstrasi, Pak.

Kami berdua cuma pikirkan kesejahteraan karyawan.

Kalau begitu, kumpulkan saja semua karyawan.

Biar saya dengar pendapatnya.

Tunggu.

Kami mengerti keberatan Bapak.

Nanti saya coba bicara dengan karyawan yang lain.

Terima kasih. Ayo, Nal. Sudah.

[pintu dibuka]

[pintu ditutup]

[jam dinding berdentang]

[jam dinding berdentang]

[jam dinding berdentang]

[melenguh]

[jam dinding berdentang]

Sayang.

Sayang.

Yuk, salat.

Sudah subuh.

Ya.

[azan berkumandang]

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Mas Satria, Mbak Suzzanna.

Mari.

- Apa kabar? - Baik.

[bacaan salat]

[bacaan salat]

[bacaan salat]

[obrolan tak jelas]

[Satria] Saya sudah tanya Gilang.

Dia siap untuk menggantikan saya berangkat ke Jepang, Pak.

Tentu saja dia bilang dia siap.

Bagi saya, dia belum siap.

Saya bukan hanya butuh mencari orang yang mengerti semua tentang produk kita,

tetapi saya juga butuh orang yang mampu membina hubungan dengan orang Jepang itu.

Bagi saya, cuma kau dan saya yang bisa melakukannya.

Atau mungkin kau mau menyuruh saya yang berangkat, begitu?

Tidak, Pak.

Saya mengerti bagaimana rasanya menantikan anak pertama,

tetapi Satria, percayalah.

Istri dan anakmu akan tetap ada sampai kau kembali.

Baik, Pak, terima kasih.

[telepon ditaruh]

[pintu dibuka]

[tertawa kecil]

[pintu ditutup]

Tak usah bawa terlalu banyak, Sayang.

[mendesah]

Ini juga sudah secukupnya, kok, Mas.

Lagi pula,

kau mana betah pakai baju yang sama berhari-hari?

[tertawa kecil]

[mendesah]

Apa jadinya aku tanpamu?

[musik]

Tetap menjadi Satria yang sekarang.

[tertawa kecil]

Terima kasih, Sayang.

Sudah membuatku menjadi pria yang paling bahagia.

Aku janji,

tak akan pernah membiarkan apa pun mengganggu keluarga kecil kita.

Aku akan selalu menjagamu

dan anak kita.

[mengaji]

[pintu dibuka]

[pintu mobil dibuka]

[pintu mobil ditutup]

[pintu bagasi dibuka]

[barang-barang diletakkan]

[pintu bagasi ditutup]

[pintu mobil ditutup]

[mendesah]

Hati-hati, Mas.

Kau juga. Jaga diri baik-baik.

[mencium]

[mendesah]

- Terima kasih, ya. - Ya, Pak.

[mesin mobil dinyalakan]

[pintu mobil ditutup]

[cium jarak jauh]

[nyanyian]

[bunyi mesin mobil menjauh]

[nyanyian]

Kalian tak bosan terus kayak begini?

Uang tak punya.

Kerja?

Bisa dipecat kapan saja.

Bukan bosan lagi, Nal.

Aku sudah muak kalau harus kerja lembur terus kayak begini.

Ada apa denganmu, Nal?

Saya ada ide.

Kita rampok rumah Satria.

[kartu dibanting]

Gila kau.

[mencemooh]

Yang benar, Bang?

Kalian sudah tahu? Satria hari ini pergi ke luar negeri.

Ke Jepang.

Kita ambil dia punya mobil satu saja.

Bagi berempat, itu lebih besar dari gaji kita berbulan-bulan.

Rumahnya ramai, Bang.

[mendesah]

Istrinya bagaimana?

Dia bisa apa, Dun?

Kita masuk malam-malam saat semua sudah pada tidur.

Saya tak mau melakukan hal-hal yang bisa mengembalikan saya ke penjara.

Saya juga tak mau masuk penjara, Mar.

Aku juga, Bang.

Kita tutup muka kita, tak usah lama-lama di sana.

Siapa bisa tahu, kan?

Jonal.

Rumahnya ramai.

Ada penjaga gerbangnya, pembantunya.

Juga tukang kebunnya.

Aduh, berat kalau begitu. Aku... Berat.

Tukang kebunnya sudah tua, kan?

Masa kita berempat tak bisa tangani beberapa pembantu?

Ya, Nal.

[menyesap]

Tetapi ada Suzzanna.

Jangan sampai terjadi apa-apa pada dia.

Kalau begitu, kau ikut.

Kau jaga kau punya kekasih itu.

Jujur aku juga baru butuh uang.

Kerja lembur kayak gini terus...

Tak akan mungkin untuk menutupi biaya pengobatan ibuku.

- Ibuku bisa mati lebih dahulu. - Jangan sampai. Kasihan, Bang.

Ya sudah.

Jadi kita, Bang?

Besok lakukan.

Kenapa tunggu besok, Bang?

Karena besok malam, Suzzanna dengan orang-orangnya

tonton layar tancap.

[menepuk tangan]

Kalau begitu, besok kita laksanakan.

Jadi kita?

[tertawa]

[botol berdenting]

Bang, ayolah, minum bersama kita, Bang.

Ayolah.

[pintu diketuk]

Masuk.

Mia?

[pintu berderit]

[pintu ditutup]

Bu.

Kami mau pamit, mau menonton layar tancap.

Kenapa tak bilang saya?

Saya juga mau ikut.

[mendesah]

Ibu yakin? Tidak istirahat saja?

Takutnya nanti Pak Satria menelepon.

Mas Satria tahu tiap malam minggu saya menonton layar tancap.

Ya.

Kalau mau, dia akan telepon lebih malam.

[tertawa kecil]

Ya sudah, tunggu saya tukar baju, ya.

Ya, Bu.

[menjerit]

[setan tertawa]

[menjerit]

Di sini saja, Bu.

[guntur bergemuruh]

[petir menggelegar]

[jendela dibuka paksa]

[jendela dibuka paksa]

[jendela dibuka]

Masuk.

[terengah-engah]

Pajangan ini saja sudah puluhan ribu.

Kau benar, Nal.

Ini lebih menguntungkan dari bisnis.

[tertawa kecil]

Coba kau cari kunci mobilnya.

Coba cek ke kamarnya.

Mungkin ada perhiasan atau emas dan lainnya.

[suara dari film]

[menjerit]

- Lino, jangan takut. Tabrak saja dia. - Baik, Bos.

[mobil menabrak]

[menjerit]

[pintu dibuka]

[musik menegangkan]

[pintu berderit]

[benda berderit]

[mendengus berupaya]

Hei, No.

Sedang apa?

Ini harganya jutaan.

Bisa untuk mengobati ibuku berbulan-bulan!

Kalau kau bawa truk, aku bantu kau. Ayo.

[bersenandung]

[bunyi gemeresik]

Dun?

Kunci. Kunci, Dun!

[langkah kaki]

Gino...

Jadi, kau tak bisa bedakan

kunci rumah dengan kunci mobil?

Tidak.

Dasar miskin!

Mentang-mentang miskin, malah takabur!

[pintu lemari dibuka]

[pintu lemari ditutup]

[mengerang]

[langkah kaki]

[mengerang]

[langkah kaki]

[mengerang]

[bersiul]

[menjerit]

[setan tertawa]

[menjerit]

[mendesah]

[mendesah]

[mendesah]

[mendesah]

[menjerit]

- Ada apa? - Kami mendengar suara tangis bayi.

Bu!

Bu.

Bu.

Kenapa, Bu?

[tertawa kecil]

Tiba-tiba merasa tak enak badan.

Mungkin kau benar, seharusnya beristirahat di rumah.

Ayo kita pulang saja, Bu.

Jangan. Kau lanjutkan saja menonton dengan yang lain.

- Aku pulang dahulu. - Tidak apa-apa, Bu.

Saya menemani Ibu pulang saja.

Sudah, sudah.

Lagi pula, seminggu sekali

kau baru bisa keluar bersama yang lain, kan?

- Ya. - Sudah, temani mereka.

Cecep bisa antar pulang.

Tak apa-apa, Bu? Terima kasih, ya, Bu.

[tertawa kecil]

Saya panggilkan Cecep. Cep!

Sini!

Antar Ibu pulang.

Ya, Ibu.

Hati-hati, ya, Cep.

Ya, Bu.

Hati-hati, Bu.

Mari, Bu.

Dudun! Gino mana?

Itu, Bang!

[laci dibuka paksa]

Bang, ayo!

Tunggu sebentar.

[laci dibuka paksa]

Kunci mobil Satria mana?

- Tak ditemukan, Nal. - Ya carilah!

Tadi sudah cari.

Bang! Ada yang datang!

[langkah kaki]

[petir menggelegar]

Bang, sembunyi, Bang. Sembunyi, Bang!

- Gino! Sembunyi! - Siapa?

Sudah! Tutup mukamu.

[menggerutu]

Bang Umar! Bang Umar, ada yang datang, Bang!

Bang Jonal, linggisnya tertinggal!

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

Seratus, ya?

- Terima kasih, Bu. Selamat malam. - Malam. Ya.

[petir menggelegar]

[kunci pintu diputar]

[petir menggelegar]

[pintu dibuka]

[petir menggelegar]

[pintu ditutup]

[kunci pintu diputar]

[langkah kaki]

[kunci gemerencing]

[langkah kaki]

[langkah kaki]

- Gara-gara kau pacaran, jadi hujan. - Tak ada hubungannya!

Nanti kita tersambar geledek.

Buruan!

Ya, aduh.

[pintu dibuka]

[mendesah]

[pintu ditutup]

[langkah kaki]

[mendesah]

[mendesah]

[musik menegangkan]

[terkejut]

[mendesah]

[mendesah]

[mendesah]

[petir menggelegar]

[ranjang berderit]

[guntur bergemuruh]

[mendesah]

[petir menggelegar]

[bunyi hujan]

Apa? Kau kecut!

Apa-apaan?

Tohir kecut!

Masa bodoh, biar hangat.

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

[mendesah]

Jonal?

Aku haus, Bang.

- Mau apa kau? - Biar kuurus dia sekalian.

Dia cuma sendiri, Nal.

Nanti dia jadi masalah.

Kau tenanglah!

[piano berdenting]

[petir menggelegar]

[pintu dibuka]

[petir menggelegar]

[kunci gemerencing]

[kunci pintu diputar]

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

[langkah kaki]

[petir menggelegar]

[kunci pintu diputar]

[langkah kaki]

[langkah kaki]

[pintu dibuka dan ditutup]

[terkejut ketakutan]

[musik menegangkan]

[petir gelegar]

[gelas pecah]

[berteriak]

[mengerang kesakitan]

[memekik ketakutan]

Nal, tangkap dia. Bawa ke sini.

[memekik ketakutan]

[piano berdenting]

Mau lari ke mana kau?

[meronta]

[membuka pintu paksa]

[menangis]

Sini kau!

[bunyi pukulan]

[menangis]

[berteriak]

[mengerang]

[menjerit]

Mau ke mana?

[menjerit]

[berteriak]

[mengerang]

[berteriak]

[memekik]

[memekik]

[memekik]

[terengah-engah]

[kunci gemerencing]

[menjerit]

[mengerang]

[mengerang]

[menjerit]

Tenang.

[menjerit]

[mengerang]

[pintu berusaha dibuka]

[menjerit]

[menjerit]

[mengerang]

Ke sini! Hei!

Mau ke mana kau?

[mengerang]

[menjerit]

[menjerit]

[petir menggelegar]

[terengah-engah]

[terengah-engah]

[petir menggelegar]

[memekik]

[menjerit]

[mengerang]

[petir menggelegar]

[menjerit]

[petir menggelegar]

[mengerang]

[mengerang]

[mengerang]

[petir menggelegar]

[berteriak]

[berteriak]

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

[musik menegangkan]

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

[guntur bergemuruh]

[petir menggelegar]

Jangan, Nal!

[terisak]

Kau tak apa-apa?

Jangan bagaimana?

[petir menggelegar]

Dia sudah lihat wajahku, sekarang dia lihat wajah kau juga.

Tanpa dia lihat wajah kita pun, saya tak mau ambil risiko dia kenali kita!

Dia mengenali kita, Bang!

Percuma, kalau sudah lihat satu orang dari kita, dia sudah lihat kita semua!

Jadi, mau kau sekarang apa?

Kau mau lepaskan dia? Kau mau dia lapor polisi?

Belum lagi kalau Satria tahu.

Aduh.

Pasti dia lapor polisi!

[gemetar ketakutan]

Aku tak mau kehilangan pekerjaanku, apalagi masuk penjara.

Aku tak mau masuk penjara, Bang. Aku tak mau, Bang!

Aku sudah bilang!

Jangan terjadi apa-apa pada Suzzanna!

Kau seharusnya setop dia!

Siapa sangka kau mudah dikalahkan oleh dia.

- Kau tidak? - Aku diserang tiba-tiba, pakai batu pula.

Sudah! Kenapa harus kita yang ribut?

Kau yang bilang aku di sini untuk menjaga dia.

Kau mau kita masuk penjara sekarang?

Kau pikir dia cinta sekali sama kau, dia tak akan lapor polisi?

Jangan, Bu!

Dia lari! Bu!

Mau ke mana kau?

[menjerit]

[petir menggelegar]

[mengerang]

[menjerit]

[gemetar ketakutan]

[terisak]

[gemetar ketakutan]

[terisak]

[mengerang sekarat]

[mengerang sekarat]

[mengerang sekarat]

[mengerang sekarat]

[petir menggelegar]

[mengerang sekarat]

[mengerang sekarat]

[petir menggelegar]

[mengerang sekarat]

[petir menggelegar]

[mengerang sekarat]

[petir menggelegar]

Dun...

[mengerang sekarat]

Kau bunuh dia, Dun.

[petir menggelegar]

[berteriak]

Bukan aku. Aku tak sengaja, Bang. Kau lihat, kan?

Kau lihat, kan? Bukan aku. Sumpah, aku tak sengaja.

Kalian lihat, kan, Bang? Bang, kita bawa dia ke rumah sakit!

[mengerang sekarat]

Dia masih bergerak! Masih bergerak, Bang. Masih bergerak!

- Ayo bawa ke rumah sakit. - Jangan bertindak bodoh!

Aku tak mau masuk penjara, Bang.

Aku tak mau masuk penjara. Lari, Bang! Lari!

Diam. Diam!

Kita harus lari!

Kau diam!

Tak akan ada yang masuk penjara di sini.

[musik menegangkan]

Gino.

Kembali rapikan rumah itu.

[meratap]

Gino!

[meratap]

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

Yang lain kubur Suzzanna.

[petir menggelegar]

Kita harus membuat menghilangnya Suzzanna

tak dicurigai

selama mungkin.

[petir menggelegar]

Ayo cepat angkat!

[terengah-engah]

Bantu aku!

[terengah-engah]

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

[petir menggelegar]

[mengerang sekarat]

[mengerang sekarat]

Bang!

Masih hidup dia, Bang. Matanya buka, Bang. Lihat, Bang!

Terus kau mau apa? Bawa dia ke rumah sakit? Mau masuk penjara kau?

- Cepat! - Awas. Awas!

[mengerang sekarat]

Ayo. Lanjutkan.

[nyanyian]

Lanjutkan!

[mengerang sekarat]

- Tangannya, Bang, tangannya! - Cepat, Dun!

[mengerang sekarat]

Ayo, Dun.

[mengerang sekarat]

Ayo, Dun. Tak ada waktu, Dun!

[petir menggelegar]

[musik mencekam]

[terkesiap]

[terengah-engah]

[terengah-engah]

[terkesiap]

[mendesah]

[mengembuskan napas]

[telepon berdering]

Halo?

[Satria] Halo, Sayang. Sudah bangun?

Aku telepon kemarin malam tak ada yang angkat.

[bunyi darah]

Halo, Sayang. Kenapa diam?

Baru bangun, ya?

Sayang, kenapa?

Kau tak sedang marah padaku, kan?

Aku janji akan pulang secepatnya begitu pekerjaanku beres.

Aku tunggu kau pulang, Mas.

[menjerit]

[terengah-engah]

[terkesiap, lalu terengah-engah]

[pintu diketuk]

Bu, kenapa? Bu Suzzanna?

Tak apa-apa, hanya mimpi buruk.

Mau saya ambilkan air minum, Bu?

Tak perlu.

Baik, Bu.

Saya tinggal, Bu.

[terengah-engah]

[terisak]

[terisak]

[suara televisi]

[menjerit]

[tembakan dan jeritan]

[suara hidung]

Bercanda saja orang sedang serius.

Kok ini lebih seram lagi?

Ini kurang seram. Cerita sundal bolong lebih seram. Ngeri!

Sundal bolong?

Ya, sundal bolong itu legenda lama.

Kalau ada perempuan hamil meninggal, dia jadi sundal bolong

karena dia meninggal tak menanggung kematiannya sendiri.

Dia menanggung juga kematian bayi yang ada di dalam perutnya.

Makanya dia jadi arwah penasaran yang kuat.

Dia bisa menyembunyikan wujud aslinya?

Setiap setan bisa menyembunyikan wujud aslinya, pakai kekuatan dirinya.

Kalau dia lagi lemah, wujud asli dia bisa kelihatan lagi.

Kenapa harus ada setan di dunia ini?

- Tahu-tahu di situ. - Ibu kapan datangnya?

Sebab masih ada urusan di dunia yang belum dia selesaikan.

Katanya begitu.

Menurut saya, tak pantas arwah masih mengurusi urusan dunia.

Apalagi membawa dendam. Setiap dendam pasti berujung keburukan.

Aku malah sebaliknya, Li.

Kalau ada yang buat aku jadi setan,

aku bunuhi semuanya.

Biar dia tak jahat lagi.

Biar dia mati sekalian.

Biarkan saja.

[musik seram]

[anjing menggonggong]

[anjing menggonggong]

[melenguh]

[mengembuskan napas]

[berteriak]

[terengah-engah]

[mengembuskan napas]

[menarik dan mengembuskan napas]

[bunyi berderak]

[terkesiap]

[terkesiap]

[tersengal]

[terkesiap]

[musik menegangkan]

[berteriak]

[terengah-engah]

Bu Suzzanna?

[burung mencicit]

Satu, dua, tiga.

[mengembuskan napas]

[mengembuskan napas lega]

[mengembuskan napas]

Baik.

Sudah.

Tidur.

[mengembuskan napas]

[terengah-engah]

[mengembuskan napas]

[bunyi gemeresik]

[terkesiap]

[terengah-engah]

[bunyi gemeresik]

[berteriak]

[berteriak ketakutan]

[terengah-engah]

[gemetar ketakutan]

Tolong!

- Tolong aku, Bang! - Tenang!

- Tolong aku, Bang. - Ada apa teriak-teriak?

Ini gara-gara hantu itu, Bang! Hantu itu, Bang.

Punggungnya bolong, rambutnya panjang, Bang!

Dia tadi ada di sini, Bang. Dia sepertinya sundal bolong! Sundal bolong ada di sini!

- Dudun... - Benar, Bang!

- Aneh-aneh saja. - Ada di sini, Bang. Ada di sini tadi.

Wajahnya...

Waras sedikit, Dun.

[pintu dibuka]

Bang, aku betul! Aku...

[terengah-engah]

[terengah-engah]

Wajahnya...

[mengembuskan napas]

mirip...

Ibu Suzzanna.

[bunyi mesin]

[pintu mesin ditutup]

Bagaimana, Pak?

Hei, Dun!

[berteriak]

Hati-hati!

Kau mengantuk.

Terima kasih, Bang.

Aku tak bisa tidur, Bang.

Dari semalam aku tak bisa tidur, Bang.

Kenapa, Dun?

Jangan bilang gara-gara hantu itu lagi.

Betul, Bang.

Setiap aku pejamkan mata,

aku lihat sundal bolong!

Sundal bolongnya mirip Suzzanna, Bang!

Waktu kecil, aku sering ditakut-takuti budeku.

Dia sering cerita sundal bolong.

Apa?

- Kenapa? - Jangan-jangan...

Jangan-jangan...

Suzzanna hamil waktu terbunuh kita!

[gemetar]

[menyuruh diam]

Dengar. Dengar!

Aku ingatkan, Dun.

Jangan sampai kau membuat orang curiga. Paham?

Paham kau? Paham?

Aku benar, Bang. Aku benar, aku lihat

dia setiap aku pejamkan mata, Bang. Aku benar, Bang.

[terisak]

[terisak]

[jangkrik mengerik]

[kucing mengeong]

[gelas berdentang]

[menguap]

[pintu diketuk]

Siapa?

[pintu diketuk]

Dun!

Sebentar, Bang!

[langkah kaki]

[pintu dibuka]

Bang.

Dudun. Ini Maya, tukang pijat langganannya Jonal.

Hai, Maya.

Ya, kita lihat kau capai sekali.

Ya, Bang.

- Lelah sekali aku. - Ya sudah.

Maya bisa menyegarkan kau.

Ini gratis, kan, Bang?

Memangnya kapan kau pernah bayar? Sudah sana.

Buat enak.

- Tetapi... - Ya. Terima kasih.

Terima kasih, Bang. Terima kasih.

[langkah kaki menjauh]

Kaku sekali badannya, Bang?

[tertawa kecil]

Maya kerok, mau, ya?

Pemanasan? Bisa saja kau, Maya.

[tertawa kecil]

- Sebentar, ya, Bang. - Ya.

Maya ambil gelas dan mangkuk dahulu.

- Untuk menaruh minyak. - Ya.

- Sebentar, ya, Bang. - Ya.

Jangan lama-lama, ya.

[pintu ditutup]

[tokek menokek]

Kau bisa.

[burung mencicit]

[pintu dibuka]

Kau bisa, Dun.

[pintu ditutup]

- Bang? - Ya?

- Maya mulai kerok, ya. - Ya, silakan.

[bunyi kerikan]

Maya, Abang sukanya pelan-pelan.

Yang lembut. Aduh!

Kalau sakit, artinya Abang lagi masuk angin.

- Tahan, ya, Bang. - Abang tahan. Aduh.

Maya! Yang tadi seperti disayat pisau, Maya. Aduh.

Sebentar lagi juga enakan.

Ya.

Abang kenapa bisa masuk angin begini?

[mengaduh]

Tak apa-apa, Bang. Abang bisa cerita ke Maya.

Aduh!

Kau tak mungkin percaya, Maya. Aduh!

Belakangan ini Abang susah tidur. Aduh!

Karena sering diganggu arwah penasaran.

Masa, Bang?

Ya. Sungguh! Sungguh.

Arwah siapa, Bang?

Memang kenapa dia ganggu Abang?

Aduh!

Sakit, Maya.

[bunyi berderik]

[musik seram]

[pintu diketuk]

Bang? Buka, Bang!

Kok dikunci, Bang?

[berteriak]

[musik seram]

Suzzanna! Suzzanna, Bang, Suzzanna!

Suzzanna?

Istrinya Pak Satria?

[terengah-engah]

Suzzanna. Aku lihat Suzzanna.

- Diam. - Suzzanna, Bang!

- Kau diam. Diam! - Suzzanna.

- Aku lihat Suzzanna. - Kau sudah gila, Dun?

Tidak! Sungguh, aku lihat Suzzanna. Dia berubah menjadi...

sundal bolong!

Sumpah!

- Sumpah, aku sumpah! - Tenang, tenangkan dirimu, Dun.

Kalau kau begini terus,

kau yang menanggung akibatnya, paham?

Kau teriak Suzzanna lagi, aku sendiri yang menghabisimu!

Aku sumpah, Bang. Lihat punggungku berdarah semua, Bang. Lihat, Bang!

[tersengal]

Punggungmu tak ada apa-apanya!

Ini cuma khayalanmu, Dun.

Makin kau takut,

makin kau dihantui rasa pikiranmu.

Hadapi, Dun!

Kalaupun kau melihat hantu,

masa kau bisa setakut begini?

Ayo.

[burung berkicau]

Mia, tadi aku dengar omongan aneh dari orang-orang kampung!

Omongan orang aneh apa, Hir?

Ada karyawan pabrik diganggu sundal bolong.

Katanya penjelmaan Ibu.

- Hantu Ibu? Ibu Suzzanna? - Ya!

Semua orang kampung sudah dengar.

Bisa jadi benar.

Kau tak perhatikan belakangan ini Ibu kelakuannya aneh?

Sekarang saja masih di kamar.

Itu juga baru kata orang, Hir.

Kalau benar, bagaimana?

[tercekik]

Kenapa dia?

Tersedak.

[muntah]

Aduh, aku sudah mau mati, kalian masih mengobrol saja.

Kenapa tak beri tahu kau tersedak?

Bagaimana bisa bilang? Napasku sesak.

- Maaf. - Hanya meminta maaf.

Hir, yang kau ceritakan tadi itu benar?

Ada warga yang ditakuti setan mirip Ibu?

Ya, katanya.

Kalau dipikir-pikir, lucu juga.

Kalau itu emang benar Ibu, berarti kita tinggal dengan setan.

- Jadi, kita pembantu... - Setan!

Jangan tunjuk aku!

Apa-apaan ini? Genit sekali.

- Menyelip saja kayak botol dukun. - Takut!

Aduh, bagaimana ini?

Ada apa?

[kucing mengeong]

[terkesiap]

[menelan ludah]

[mengembuskan napas]

Ayo, bangun, Dun.

[pipi ditepuk]

Bangun, Dun.

Ayo.

[Suzzanna] Dudun?

Dudun?

Dudun?

Mana?

Di mana kau?

[pintu dibuka]

[terengah-engah]

[musik menegangkan]

Dudun?

Bisa lihat aku?

Sini, Dun. Sini.

[terkesiap]

[terengah-engah]

[terengah-engah]

Dudun.

Dudun?

[musik seram]

Dudun, masuk sini, Dun.

[gerendel dibuka]

[pintu dibuka]

Di mana kau?

Di mana?

[terengah-engah]

[langkah kaki]

Dudun, sini, ganggu kita.

Dudun.

[berteriak]

[terengah-engah]

Di mana kau?

[terengah-engah]

[terkesiap]

[musik mengejutkan]

[terengah-engah]

[tertawa cekikikan]

Bukan saya!

Bukan saya! Maaf!

Maaf, tolong maafkan saya. Bukan saya!

Tolong.

[mesin menyala]

[mengerang]

[berteriak]

[mengerang]

[mengerang]

[mengerang]

[bunyi robekan]

[bunyi gedebuk]

[menggeram]

[menggeram]

Sini, setop.

[pintu mobil dibuka]

[terengah-engah]

Ayo.

- Ini? - Ya.

[mengembuskan napas]

[pintu diketuk]

Siapa?

Ini Ino, Pakde.

Ino sama teman-teman.

Apa kabar, Pakde?

Lama kau tak berkunjung.

Karena Ibu masih sakit, Pakde.

Apa yang bisa saya bantu?

Begini, Mbah Turu.

Kedatangan kami ke sini itu untuk...

[mendengkur]

Pantas namanya Mbah Turu.

[mendengkur]

[teko berdentang]

[terkesiap]

Suzzanna.

[musik seram]

Kalian membunuhnya!

Dia jadi sundal bolong!

- Apa yang kau lakukan? - Tetapi...

kami tak bermaksud seperti itu.

Tetap saja!

Kalian berniat mencelakainya!

Maaf, Mbah, tadi sebut-sebut sundal bolong.

Itu sebenarnya apa, Mbah?

Salah satu setan yang paling marah.

Karena itu, juga yang paling kuat.

Jika dia membunuh, dia langsung akan kembali ke alamnya.

Dia cuma bisa menakut-nakuti.

Memengaruhimu untuk bunuh diri.

- Atau saling bunuh. - Dudun...

Tetapi jangan ragu.

Dia akan mendatangi kalian.

Memang tidak ada yang lebih menakutkan daripada setan yang masih punya dendam.

Pakde, tolong kita, Pakde.

Apa yang harus kita lakukan kalau Suzzanna-nya datang, Pakde?

[musik menegangkan]

[membaca mantra]

[membaca mantra]

Kalau dia datang,

pegang ini.

Dia tidak akan bisa mendekatimu.

Tidak gratis.

Ya, Mbah.

[terisak]

Andaikan kau harus kehilangan aku,

dan anakmu...

apakah kau siap, Mas?

Apa maksudmu, Sayang?

[suara jangkrik]

Tentu saja aku tidak siap.

Apa kau siap?

Tidak akan pernah, Mas.

Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu, Sayang?

[mendesah]

Aku harap...

aku tidak pernah kehilangan saat-saat ini, Mas.

[terisak]

[musik mendayu]

[suara mendengkur]

[musik seram]

[sundal bolong] Jonal...

[sundal bolong] Jonal.

Mar.

No!

Dengar itu, 'kan?

[pintu dibuka]

[pintu dibanting]

[sundal bolong] Jonal.

[suara lampu dinyalakan]

[suara listrik]

[tombol lampu ditekan berulang kali]

[sundal bolong] Jonal.

[bunyi asing]

[gedoran]

[terengah-engah, panik]

[suara pisau]

[napas panik, terengah-engah]

[barang jatuh]

[sundal bolong] Jonal?

[langkah kaki]

[langkah kaki]

[teriak, suara guncangan]

[teriak]

[teriak]

Di mana kau?

[setan tertawa]

[setan tertawa]

[dengus berupaya]

[setan tertawa]

[setan tertawa]

[teriakan]

Jonal!

Itu Gino, Nal!

Jonal!

[mengerang kesakitan]

[terisak] Aku cuma mau...

ibuku sembuh.

Gino!

Gino!

[pisau jatuh]

[suara air dituang]

Bagaimana, Li?

Apa kata Cak Kasan? [bantingan]

Benar, Hir. Benar!

Benar apanya?

Bu Suzzanna hantu. Hantu sundal bolong.

- Yakin? - Cak Kasan yakin sekali.

Katanya lihat sendiri.

Malam ini juga aku mau pergi dari sini.

Kalau dipikir-pikir,

orang kampung itu tukang gosip.

Apalagi Cak Kasan.

Lagi pula, kita belum pernah benar-benar melihat kalau ibu itu hantu.

Berarti kita harus bisa buktikan.

Ya.

Aku punya cara supaya kita benar-benar tahu.

Bagaimana?

Kita tunggu sampai ibu tidur.

Terus kita ketemu, ajak juga Mia.

[gelas digeser] Minum.

[jam berdetik]

Ini apa, Li?

Kain kafan bekas orang mati.

Menurut mitos, ini yang paling ampuh buat melihat setan.

Kita tinggal tutupi kepala kita, setan pun kelihatan.

Dapat dari mana?

Dari si Abe yang jaga kuburan.

Baik. Kau yang pakai, 'kan?

Jangan aku, aku paling tua di sini.

Agar manjur, harus orang muda.

Aku tidak bisa.

Kulitku gatal-gatal.

Apalagi itu kotor.

Lagi pula, Li, setahuku...

kalau kain kafan cuma manjur sama orang tua.

- Lebih dekat umurnya. - Ke tanah.

Seolah kalian berdua tidak akan mati saja.

Aku punya ide lain.

Mia.

Mia, ayo.

Ya!

Nanti kalau ibu bangun bagaimana?

Kau tinggal bilang saja mau bangunkan salat Subuh.

Makanya mesti kau.

Mia, pastikan cermin ini pas di depan muka ibu.

Kalau ibu ternyata sundal bolong,

ibu bisa kelihatan di cermin ini. Ayo.

Ayo.

Masuk.

[berbisik] Buka pintunya. Buka pintunya pelan-pelan.

Pelan-pelan.

Pelan-pelan. [pintu dibuka]

Pelan.

Ada?

[pintu dibuka]

Kalau setan tidak tidur, 'kan?

Sudah, Pak. Ibu bukan setan.

Seolah kau tahu setan tak tidur.

Memang kau berteman sama setan?

Cepat!

Kita harus cari tahu!

Ayo, Mia. Kau tenang saja, ada aku.

Pelan-pelan!

[suara ranjang]

Pak!

Tak apa, cuma meregang.

Terus, maju-maju.

Pelan.

[suara ranjang]

Pelan-pelan.

Pelan.

[cermin jatuh]

[terisak]

Terus rogoh, rogoh ke dalam! Ke dalam...

- Terus. Rogoh. - Terus.

Tanganku tak sampai.

Bantu dia, bantu, bantu!

Bantu dia.

Bantu dia.

[jam berdentang]

[tersengal-sengal]

[musik mencekam]

[terengah-engah]

[terengah-engah]

[musik mencekam]

Apaan, Li?

[panik]

[musik mencekam]

[gemetar ketakutan]

[teriak tertahan]

Sudah dapat.

[teriak takut]

[panik ketakutan]

[pintu ditutup]

Mia, jangan menarikku, kau kira aku kambing keramat?

Menarikku seperti anak tiri.

- Jangan jauh-jauh. - Aduh.

Tanganmu, Mia. Tanganmu.

Bajuku menjadi melar.

[tangis ketakutan]

[pintu diketuk]

Bu?

Kenapa tak ada orang?

Mau ke mana kalian? [teriak takut]

Astagfirullah al-'azim.

Astagfirullah al-'azim.

Bu. Saya mau izin pulang kampung, Bu. Istri saya sakit.

Bukannya istri Bapak sudah meninggal?

Ya, maksud saya, mau ziarah.

Bu.

Saya juga izin, Bu. Mau ziarah ke ibu saya.

Bukannya ibumu masih hidup?

Maksud saya, mau jenguk, Bu.

Takut... lewat.

Bu, kalau saya...

mau jenguk yang ziarah.

Ya, Mia?

[panik]

Mia, kabur... Kabur!

- Kenapa malah masuk kamar? - Permisi, Bu!

[bergegas turun]

- Jalan! - Tasmu menghalangiku!

[suara mobil mendekat]

[suara mobil menepi]

[suara pintu mobil]

[pria] Ini, Pak.

- Terima kasih. - Baik.

[suara pintu mobil]

[mobil melaju]

[mengetuk pintu]

Hir?

[suara piano samar]

Tohir?

[buka kunci pintu]

[suara piano]

[latar alunan piano]

[piano berhenti]

Apa kabar, Mas?

[tertawa]

Aku rindu sekali.

Sama, Sayang.

[tertawa]

[kecupan]

Aku rindu dia juga.

Kau dengar tidak, dia bilang apa?

Dia bilang kau bau.

Belum mandi.

[tertawa]

Bagaimana perjalananmu?

Melelahkan. Kau apa kabar?

Aku baik.

[suara langkah kaki]

[lampu dimatikan]

[jam berdentang]

Sayang.

Bangun. Salat Subuh.

Sayang.

Ayo.

Mas saja.

Aku sedang tidak enak badan hari ini.

Salatnya di masjid saja.

Kenapa?

Aku salat di sini saja kalau kau tidak ikut.

Supaya pahalanya lebih besar, Mas.

[pintu dibuka]

[pintu ditutup]

[suara mengaji]

- Pak Haji, pamit. Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Mas Satria!

Pak Naryo?

Cukup lama tidak kelihatan.

Ya, Pak. Saya baru saja pulang dari luar negeri.

Ada urusan pekerjaan.

[wanita] Mbak Suzzanna di mana? Tak ikut?

Kebetulan tidak, Bu. Kecapaian.

Kemarin habis jalan-jalan.

Mbak Suzzanna sudah jarang kelihatan.

Sungguh?

Tiap hari salat Subuh di sini, 'kan?

Sudah sekitar seminggu ini Mbak Suzzanna tidak datang.

Mungkin karena omongan orang-orang yang tidak enak.

Omongan apa, Bu?

Memangnya Mbak Suzzanna belum cerita ke Mas Satria?

Belum, Bu.

Sebenarnya...

ini bukan tempat untuk saya menceritakan.

Tetapi karena Mas Satria tanya...

Ada dua orang yang meninggal

karena katanya dihantui sama Mbak Suzzanna.

Ada saksi matanya juga.

Dihantui?

Istri saya baik-baik saja di rumah.

Itu dia, Mas.

Tadi Mas yang tanya, 'kan?

Ya, sudah. Kalau begitu saya pamit dahulu.

- Asalamualaikum. - Asalamualaikum.

- Mari, Bu. - Alaikum salam.

Gino meninggal?

Mbah.

Tolong kami, Mbah.

Kami mohon, Mbah, kasih tolong.

Kalau dia tak terpengaruh jimatku, sundal bolong itu pasti sangat kuat.

Apa pun yang Mbah Turu minta pasti kita kasih.

- Ya. - Tetapi tolong, Mbah.

Ini. Ini...

Kami punya harta. Mbah boleh ambil.

- Mbah ambil ini. - Aku tidak butuh hartamu!

Kau kira harta ini bisa mengembalikan keponakanku yang goblok itu?

Sundal bolong itu lupa diri.

Dan Gino kini menjadi korbannya.

Lalu...

apa yang harus kami lakukan, Mbah?

Kami juga tidak mau menjadi korban. Tolong, Mbah.

Tolong.

Kalau mau selamat, kita harus musnahkan sundal bolong itu.

Bagaimana caranya itu, Mbah?

Mbah.

Caranya, Mbah.

Ada dua hal menyangkut sundal bolong itu.

Pertama, rumahnya.

Rumahnya yang masih utuh, membuat arwah punya tempat tinggal.

Kedua, suaminya.

Rasa cinta yang besar dari suaminya

membuat ia memiliki kekuatan untuk melawan takdir.

Berarti sundal bolong itu

akan musnah kalau rumahnya kita bakar dan suaminya dibunuh?

Semua ada ritualnya.

Maksud...

Suaminya harus dibunuh di depan sundal bolong itu.

Kalau tidak, membunuh suaminya sama saja membuat ia makin marah!

Kami mungkin bisa hancurkan rumah, tetapi...

Kalau bunuh suami di depan sundal bolong itu tidak mudah, Mbah.

Saya ada rencana.

[telepon berdering]

Halo?

Halo?

[pria] Istri Anda sudah wafat.

Jasadnya dikubur di belakang rumah.

Dekat tanaman bunga melati.

Siapa ini?

[pria] Anda tidak perlu tahu siapa saya.

Anda hanya perlu tahu saya berkata yang sebenarnya.

Anda ingin saya percaya dengan penelepon gelap?

Mari kita bertemu.

Jika ingin saya percaya.

Kenapa para pembantu Anda semuanya meninggalkan rumah Anda?

Dan apakah Anda pernah melihat istri Anda salat kembali?

[telepon terputus]

[telepon ditaruh]

[suara mesin mobil]

[pintu ditutup]

Sudah pulang, Mas?

Ya, Sayang.

Kenapa, Mas?

Pikiranmu tampaknya sedang terganggu?

Apa Mia...

Tohir, atau Pak Rojali beri tahu kapan mereka akan kembali?

Tidak, Mas.

Ada beberapa berita yang bicarakan hal tidak-tidak.

Tentang keluarga kita.

Aku jadi bertanya-tanya.

Apakah Mia dan yang lain terpengaruh berita itu juga?

Berita apa, Mas?

Entah akan terjadi apa.

Sebaiknya kita mengaji sebelum Magrib, minta petunjuk.

Supaya apa pun yang akan mendatangi keluarga kita...

dihambat olehNya.

Ayo.

- Tetapi, Mas... - Ayo, Sayang.

Aku merasa ada niat jahat yang akan mendatangi keluarga kita.

Lebih cepat minta bantuan Allah, lebih baik.

Ayo.

[suara mengaji]

[suara mengaji]

[suara mengaji]

[suara mengaji]

[suara mengaji]

[suara mengaji]

[menjerit]

[menjerit]

[menjerit]

[menjerit, jendela pecah]

[terisak]

[dengusan berusaha]

[dengusan berusaha]

[musik dramatis]

Tidak mungkin. Kau bukan Suzzanna.

Tidak, tidak.

Tidak. Tidak mungkin...

[musik dramatis]

[musik dramatis]

[musik dramatis]

[musik dramatis]

[terisak] Maafkan aku, Sayang.

Maafkan aku.

[terisak] Seharusnya aku ada buatmu. Seharusnya aku menjagamu.

[terisak] Apa yang terjadi, Sayang?

[musik dramatis]

[musik dramatis]

[teriakan tak jelas]

Ayo, Pak!

[pria] Ayo, Pak!

[pria, kerumunan] Usir saja, Pak! Usir!

[pria] Selamatkan kampung!

[teriakan tak jelas]

Ayo, Pak!

[teriakan tak jelas]

[teriakan tak jelas]

Ayo!

[pria] Ada apa?

Kita usir sundal bolong itu dari sini. Ayo!

[teriakan tak jelas]

[pria] Pak Ijo! Ayo!

- Ayo! Usir! - Ayo!

[teriakan tak jelas]

Ayo.

[suara pintu dibuka]

Mas?

Siapa kau? Pergi kau!

- Aku Suzzanna, Mas. Aku istrimu. - Bukan.

Kau bukan istriku.

Istriku sudah meninggal. Pergi kau!

Aku Suzzanna, Mas!

Bukan.

Kau bukan Suzzanna!

- Tidak. - Suzzanna bukan hantu!

Bukan pembunuh! [terkejut]

- Bukan pembohong! - Tidak, Mas. Bukan!

- Pergi! - Tidak! Mas!

Mas!

Tidak, Mas. Aku tidak bermaksud membohongimu, Mas.

Maafkan aku, Mas. Maafkan aku.

Pergi!

Duniamu sudah bukan di sini!

[terisak]

Aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku tidak ingin berpisah denganmu, Mas.

[terisak]

[terisak]

Mas.

Buka, Mas.

[terisak]

Mas.

Mas.

Aku tidak ingin berpisah denganmu, Mas.

[terisak]

[terisak]

[terisak]

[teriakan tak jelas]

[teriakan tak jelas]

[musik mencekam]

[terkejut]

[Jonal] Sundal bolong!

Kembali ke duniamu.

Kau tak diterima.

Jahanam sepertimu...

seharusnya tidak pernah ada.

[musik mencekam]

[garam dilempar]

Ke mana kau?

[musik mencekam]

Kau pikir bisa menghentikanku dengan garam itu?

[teriak]

[mengerang kesakitan]

[musik mencekam]

Sekarang saatnya kau mati.

[setan tertawa]

Mbah Turu, cepat! Mbah Turu!

[setan tertawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mengerang kesakitan]

Sekarang, kau yang akan mati!

Keluar!

[musik mencekam]

[tertawa jahat]

[tertawa jahat]

Sekarang kau jadi milikku, Sundal bolong!

[tertawa jahat]

[tertawa jahat]

[teriakan tak jelas]

[teriakan tak jelas]

[teriakan tak jelas]

[teriakan] Usir!

[teriakan] Usir!

[batu mengenai kaca]

[terkejut]

[api menyambar]

[teriakan tak jelas]

[api menyambar]

[jendela pecah]

[teriakan tak jelas]

[teriakan tak jelas]

[teriakan tak jelas]

Berhenti!

Ada apa ini?

[pria] Kami mau sundal bolong itu pergi!

[pria] Suruh dia keluar! Usir!

[teriakan kerumunan] Usir aja!

Tenang, tenang!

Dia sudah pergi! Aku mengusirnya!

Bohong!

- Kau sembunyikan dia. - Hei!

Kalau tak percaya, cari sendiri!

Bakar!

[teriakan tak jelas]

[teriakan tak jelas]

[teriakan tak jelas]

[teriakan tak jelas]

Pak, ayo. Sudah terlambat, ayo!

[teriakan tak jelas]

Suzzanna masih belum pergi.

Pak!

Sundal bolong itu masih penasaran.

Apa yang terjadi, Umar?

Saya akan cerita semuanya ke Bapak.

Tetapi sekarang, kita harus usir sundal bolong itu, Pak.

Kita punya orang yang bisa mengusirnya, Pak.

Tetapi ritualnya tidak bisa dilakukan tanpa Bapak, Pak.

Saya tidak mau menemuinya lagi.

- Saya kehilangan semua karena dia! - Ya.

Tetapi jika arwahnya masih gentayangan

makin banyak musibah dan malapetaka datang.

Mbah?

Ayo, silakan.

[pintu diketuk]

Mbah?

Silakan duduk.

Silakan duduk.

Mbah.

Kau cukup hanya duduk diam dan tidak usah melakukan apa pun.

Sundal bolong itu jahat dan licik.

Dia akan mengatakan banyak hal untuk membuatmu goyah.

Jangan dengarkan kata-katanya.

Ingat...

dia bukan istrimu.

Tetapi iblis yang menyamar menjadi istrimu.

Ayo, silakan.

[pintu dibuka]

Astagfirullah al-azim.

Mas?

Cepat kau pergi dari sini.

Cepat kau pergi! Mereka inilah yang membunuhku.

Jangan dengarkan dia. Ayo.

Ayo.

[dengusan berupaya]

Silakan.

Kau harus percaya padaku.

Aku dan anak kita sudah menjadi korbannya.

Aku tak ingin kau juga menjadi...

korbannya, Mas. Cepat kau pergi dari sini!

Tetap tutup matamu sampai ritualnya selesai.

Jangan dengarkan sundal bolong itu.

Kehadiranmu cukup melemahkannya.

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

Mas!

Cepat kau pergi sekarang, Mas!

Cepat, Mas. Pergi dari sini.

Mereka ingin membunuhmu.

Mas...

- Tatap mataku, Mas. - Diam kau!

Kau bukan istriku!

Aku adalah istrimu.

Dalam keadaan hidup ataupun mati.

Kalau kau benar-benar mencintaiku, tatap mataku, Mas.

Sebelum aku meninggalkan dunia ini.

[musik mencekam]

[musik mencekam]

[dengusan perkelahian]

Mas, cepat copot keris ini dari kepalaku!

Jangan!

[musik mencekam]

[lampu pecah]

[pintu dibuka]

[musik mencekam]

Sudah terlalu banyak penderitaan yang kalian berikan kepadaku.

Dan juga keluargaku.

Sekarang saatnya kalian menyesalinya.

[musik mencekam]

[musik mencekam]

Biar kita habisi mereka.

Mbah Turu, bacakan mantranya!

Mbah Turu! [teriak]

Nal? Jonal?

[pintu ditutup]

[musik dramatis]

Mbah Turu!

Kenapa lari? Kasih lawan pakai kau punya mantra!

Goblok kau!

Kalau ritualnya gagal,

sundal bolong itu baru lenyap kalau urusannya selesai.

Yaitu membunuh kita!

[teriakan]

[teriak panik]

[musik mencekam]

[mendengus]

[dengus perkelahian]

[mengerang]

[erangan kesakitan]

[mendengus kesal]

[tersengal-sengal]

[musik mencekam]

Bodoh kau melawan aku sendiri, Satria.

Kau yang bodoh

telah mengganggu keluargaku!

[dengus perkelahian]

[keris terjatuh]

[dengus perkelahian]

[mengerang kesakitan]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[mantra Bahasa Jawa]

[suara tusukan]

[mengerang kesakitan]

[mengerang kesakitan]

[setan tertawa]

Sakit, ya?

Kau tak akan pernah bisa lari dariku.

[setan tertawa]

[dengus perkelahian]

[dengus perkelahian]

[teriakan]

Bangsat kau, Satria.

[dengus perkelahian]

[dengus perkelahian]

[suara sayatan]

[dengus perkelahian]

[teriakan tertahan]

[mengerang kesakitan]

[erangan kesakitan, setan tertawa]

Berikutnya adalah telingamu.

Kau akan menjadi dukun yang bisu, tuli, dan buta!

[setan tertawa]

[dengus perkelahian]

[dengus perkelahian]

[dengus perkelahian]

[dengus perkelahian]

[dengus perkelahian]

[terisak]

[terisak]

[musik mencekam]

[terisak]

[suara tusukan]

[musik mencekam]

[musik mencekam]

[musik mencekam]

[musik dramatis]

[musik mencekam]

[teriakan]

[mengerang kesakitan]

Mati kau, Satria.

[dengus perkelahian]

[teriak kesakitan]

[tersengal-sengal]

[teriak kesakitan]

[mendengus]

[mengerang kesakitan]

[mendengus kesakitan]

[dengus perkelahian]

[darah muncrat]

[suara darah mengalir]

[mengerang kesakitan]

[suara napas lega]

[terengah-engah]

[sundal bolong] Jonal?

[musik mencekam]

Apa kau sudah siap mati, Jonal?

[setan tertawa]

[tersengal-sengal]

[sundal bolong] Jonal?

[terengah-engah]

[tersengal-sengal]

[pintu dikunci]

[musik mencekam]

[musik mencekam]

[terkejut]

[guncangan]

Tolong!

[mengerang kesakitan]

[mengerang kesakitan]

[mengerang kesakitan]

[mengerang kesakitan]

Keluar. Kasih saya keluar. Ampun.

Tolong kasih saya keluar. Kasih saya keluar.

[mengerang kesakitan]

[mengerang kesakitan]

[mengerang kesakitan]

[mengerang kesakitan]

[terkejut]

[musik mencekam]

Kali ini...

jangan berharap kau lolos.

Saya tidak mau mati. Tolong. Ampun.

Kau sudah mati

saat kau menguburku

dan anakku hidup-hidup!

Tunggu!

Kalau kau kasih aku mati,

kau akan dipanggil ke alammu.

Berpisah dengan Satria.

Tolong.

Tetapi,

kalau aku melepaskanmu...

suamiku tidak akan pernah aman.

[menjerit]

[mengerang kesakitan]

[musik dramatis]

Tidak! Tolong!

[suara tanah runtuh]

[suara tanah runtuh]

[suara tanah runtuh]

[musik mencekam]

[ucapan tak jelas]

[erangan]

[mendesah]

[musik dramatis]

[teriak] Suzzanna?

[teriak] Sayang?

Sayang?

[tersengal-sengal]

[mengerang kesakitan]

[terisak]

Sayang.

Mas, maafkan aku.

Maafkan aku sudah membuatmu dalam bahaya.

Tidak, Sayang.

Aku yang minta maaf.

[terisak]

Maafkan aku sudah menyakitimu.

[terisak] Aku tidak bisa menjagamu dan anak kita.

Bukan salahmu.

Aku hanya berharap kita bisa punya waktu lebih.

Aku harus pergi.

Selamat tinggal.

Tetapi aku tidak ingin berpisah denganmu, Sayang.

Dunia kita sudah berbeda.

Maafkan aku.

Jangan, Sayang, jangan. [terisak]

Aku tidak ingin berpisah denganmu.

Tidak apa.

Selama kau di sisiku...

aku siap.

Apa jadinya aku tanpa kau, Sayang?

[terisak]

Aku mencintaimu, Mas.

[musik dramatis]

[musik dramatis]

[musik dramatis]

[musik dramatis]

[musik dramatis]

[musik dramatis]

Aku juga mencintaimu, Sayang.

♪Malam ini♪

♪Sunyi sepi♪

♪Kau terlena♪

♪Dalam mimpi♪

♪Kau tersenyum♪

♪Kedamaian♪

♪Menikmati♪

♪Cinta kita♪

[musik mencekam]

[musik menegangkan]

["Selamat Malam" diputar]

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.