All language subtitles for Pantaskah Aku Berhijab.2024.1080p.NF.WEB-DL.AAC2.0.x264

af Afrikaans
ak Akan
sq Albanian
am Amharic
ar Arabic Download
hy Armenian
az Azerbaijani
eu Basque
be Belarusian
bem Bemba
bn Bengali Download
bh Bihari
bs Bosnian
br Breton
bg Bulgarian
km Cambodian
ca Catalan
ceb Cebuano
chr Cherokee
ny Chichewa
zh-CN Chinese (Simplified)
zh-TW Chinese (Traditional)
co Corsican
hr Croatian
cs Czech
da Danish
nl Dutch
en English Download
eo Esperanto
et Estonian
ee Ewe
fo Faroese
tl Filipino
fi Finnish
fr French Download
fy Frisian
gaa Ga
gl Galician
ka Georgian
de German
el Greek
gn Guarani
gu Gujarati
ht Haitian Creole
ha Hausa
haw Hawaiian
iw Hebrew
hi Hindi
hmn Hmong
hu Hungarian
is Icelandic
ig Igbo
id Indonesian Download
ia Interlingua
ga Irish
it Italian
ja Japanese
jw Javanese
kn Kannada
kk Kazakh
rw Kinyarwanda
rn Kirundi
kg Kongo
ko Korean
kri Krio (Sierra Leone)
ku Kurdish
ckb Kurdish (Soranî)
ky Kyrgyz
lo Laothian
la Latin
lv Latvian
ln Lingala
lt Lithuanian
loz Lozi
lg Luganda
ach Luo
lb Luxembourgish
mk Macedonian
mg Malagasy
ml Malayalam
mt Maltese
mi Maori
mr Marathi
mfe Mauritian Creole
mo Moldavian
mn Mongolian
my Myanmar (Burmese)
sr-ME Montenegrin
ne Nepali
pcm Nigerian Pidgin
nso Northern Sotho
no Norwegian
nn Norwegian (Nynorsk)
oc Occitan
or Oriya
om Oromo
ps Pashto
fa Persian
pl Polish
pt-BR Portuguese (Brazil)
pt Portuguese (Portugal)
pa Punjabi
qu Quechua
ro Romanian
rm Romansh
nyn Runyakitara
ru Russian
sm Samoan
gd Scots Gaelic
sr Serbian
sh Serbo-Croatian
st Sesotho
tn Setswana
crs Seychellois Creole
sn Shona
sd Sindhi
si Sinhalese
sk Slovak
sl Slovenian
so Somali
es Spanish
es-419 Spanish (Latin American)
su Sundanese
sw Swahili Download
sv Swedish
tg Tajik
ta Tamil
tt Tatar
te Telugu
th Thai
ti Tigrinya
to Tonga
lua Tshiluba
tum Tumbuka
tr Turkish
tk Turkmen
tw Twi
ug Uighur
uk Ukrainian
vi Vietnamese
cy Welsh
wo Wolof
xh Xhosa
yi Yiddish
yo Yoruba
zu Zulu

Original subtitles

Kau itu

memang selalu membuatku merasa aman

dan nyaman.

Bukannya mau membandingkan dengan yang lain,

tapi memang hanya kau.

Aku tak perlu memilihmu

karena memang tak ada pilihan lain.

Pakai Shaaza!

Memang membuatku sebucin itu.

Cut. Kau kenapa, Sof?

Biasanya juga lebih bagus daripada ini.

Ayolah. Kita coba sekali lagi ya? Oke?

Fokus.

Mas, sebentar ya.

Sof… Sof, jangan main ponsel. Fokus.

Ya?

Rambutnya kelihatan.

- Sudah? - Ya.

Oke. Camera rolling.

Roll, Pak.

Action.

Kau itu

selalu membuatku merasa aman dan nyaman.

Semangat!

Atas nama Mirna?

Gila, aktingnya top sekali.

Karena tak ada pilihan lain, Shaaza.

- Keren. - Apa? Lebai sekali.

Tapi tadi tembam tidak di kamera?

- Tembam dari mana? - Seperti…

Gemas seperti kapibara waktu pakai hijab seperti…

- Tembam namanya. - Tidak tembam.

Kenapa? Bagus. Hei.

Intinya bagus, ya?

Tak usah memikirkan yang lain.

Sofi! Sofi.

Selamat ya.

Kau kandidat unggulan.

Sudah siap terkenal?

Nanti kebayang akan keren sekali,

kau akan ada di billboard MRT,

di jalan,

di beberapa bus juga, pokoknya…

Pasti kau akan keren sekali.

Tapi

tetap tunggu kabar dariku.

Nanti kontaknya ke siapa? Ke…

Pacar? Pacarmu, 'kan?

Wah. Bagaimana, Pacar?

Bukan.

Ini teman, Mas, tapi jadi manajer juga.

Sial. Ya sudah, seperti itu saja ya.

Tunggu kabar dariku ya?

- Kabari ya. - Terima kasih.

- Terima kasih. - Terima kasih, Mas.

Kenapa? Gerd kambuh?

Sudah kubilang jangan diet. Sof?

Aku tidak mampir ya.

Salam buat Ibu. Mau cek ruko soalnya.

Nanti aku sampaikan.

Mudah-mudahan kita dapat kabar baik, ya.

Yuk, asalamualaikum.

Alaikum salam, hati-hati ya.

Siap.

Siratalmustakim itu

tajwidnya namanya apa?

- Ini, kalau… - Asalamualaikum.

Alaikum salam.

- Ini, kau lihat. - Bagaimana casting-nya?

Alif lam diikuti mim jadinya izhar qomariyah.

Coba baca.

- Lancar Bu. - Ihdinasiratal…

- Doakan ya. - …mustaqim.

Pelan-pelan.

Semoga Kak Sofi menjadi bintang iklannya, Ya Allah.

Ya, biar kita ditraktir ke mal, terus dibelikan tas baru.

Kalau aku mukena.

Mukena yang kalau dilipat bisa menjadi tas.

Yang sama seperti punya teman-temanku.

Tidak mau, pasti mahal.

Tidak, aku pasti belikan, nanti ya.

- Terima kasih, Kak. - Sama-sama.

Baca lagi, coba.

Bisa, Pak, aman?

Terima kasih.

Alhamdulillah!

- Kak. - Kak Sofi!

- Kakak? - Kak Sofi!

Sofi menang casting, Tante!

Kak Sofi benar-benar menang?

Ya, dia menang casting!

Sof!

Kita berhasil, Sof!

Selamat ya.

Ingat, syuting Rabu depan.

Jangan lupa.

- Aqsa, terima kasih ya. - Sama-sama, Tante.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Alhamdulillah.

Hidupmu sebentar lagi berubah.

Ibu bangga, Kak.

Aku juga bangga.

Aku juga bangga sama Kak Sofi.

- Terima kasih ya, Mas. - Ya.

Maaf, Mbak, ada yang bisa dibantu?

Mau ketemu sama Mas Guntur dari tim marketing.

Mbak masuk saja, tanya ke resepsionis.

Tunggu saja nanti hasil rapatnya bagaimana.

- Semoga rapat kita bisa… - Guntur!

Sofi?

- Aku ke sana dulu, kau duluan saja. - Oke.

Sofi.

Kenapa kau susah sekali dihubungi?

Aku WhatsApp cuma centang satu.

- Ditelepon juga tak diangkat. - Sini, ikut aku.

Kenapa menghindariku?

Sedang banyak pekerjaan, aku bukan pengangguran.

- Apa-apaan? - Sini.

Ya, aku tahu, tapi kenapa sampai memblokir aku?

Supaya tidak bisa aku hubungi?

Aku tidak pernah dikenalkan kepada teman-temanmu.

Apalagi keluargamu.

Lalu, kalau mau mencarimu ke mana lagi, selain ke sini?

Ya sudah, oke. Ya.

Sekarang kita sudah ketemu.

Sekarang kau maunya apa?

Aku hamil.

Kau jangan diam saja, aku harus bagaimana?

- Yah, memang kau yakin itu anakku? - Ya, ini anakmu!

Yakin anakku dari mana, kita itu berhubungan jarak jauh!

Lalu?

Kalau di Jakarta kau tidur sama cowok lain, aku tidak tahu.

Jahat sekali, bisa bicara seperti itu?

Kau tahu aku tidurnya cuma bersamamu.

Mana buktinya?

Kau harus ke Jakarta, ketemu orang tuaku.

- Buat apa aku ketemu orang tuamu? - Aku hamil!

Belum tentu itu anakku, sekarang kau pulang.

Tak usah rusak masa depanku, tak usah rusak karierku.

Dan soal anak…

Dan soal anak itu…

Terserah mau kau apakan.

Mau kau gugurkan,

mau minta pertanggungjawaban orang lain, terserah.

Bukan urusanku dan bukan tanggung jawabku.

Kita sudah tidak ada urusan apa-apa.

- Guntur. - Pulang!

- Ini rumahnya, Pak. - Ya.

- Sudah dibayar, 'kan, Pak? - Terima kasih ya, Neng.

Terima kasih ya, Pak.

Pak?

Sofi?

Apakah ibumu tahu?

Biar Bapak yang bicara dengan Ibu.

Jangan. Jangan, Pak.

Jangan sampai Ibu tahu.

Lagi pula, kenapa kau bisa bodoh itu?

Bisa ditipu sama laki-laki itu, aduh.

Jangan bilang karena cinta, ya.

Ini keluarga sudah susah, Sofi.

Sudah berantakan, jangan ditambah-tambah.

Ini yang penting, dia harus segera menikahimu, ya?

Biar Bapak bicara dengan Guntur.

Guntur di Bandung, 'kan?

Nanti kalau ada proyek, Bapak langsung ke sana.

Sofi…

Sofi sebenarnya ada tabungan, Pak.

Nanti masalah tiket, biar Sofi saja yang urus.

Tapi memang Bapak bisa

meyakinkan Guntur?

Kau tidak percaya sama Bapak?

Sudah, kirim saja fotonya.

Alamatnya juga sekalian. Ya?

Bu.

Kak.

Asalamualaikum.

Alaikum salam, hati-hati ya.

Ya, Bu.

Kenapa Kak?

Sepertinya sebentar lagi mens, Bu.

- Sebentar ya. - Ya.

Ya, Bu.

- Wati, tolong taruh di meja dulu ya. - Baik, Bu.

Kak? Kakak!

Kak. Kak? Kakak?

Selamat pagi, Bu. Selamat pagi, Sofi.

Bagaimana? Masih mual?

Oke, Dokter izin untuk cek dulu ya?

Oke.

Tolong siapkan obat pereda nyeri buat Sofi ya.

Baik, Dok.

Bagaimana gerd-nya Sofi, Dok?

Mbak Sofi.

Sepertinya ada indikasi kontraksi pada perut bagian bawah.

Bu.

Aku izin untuk melakukan tes kehamilan ya kepada Sofi.

Maafkan Sofi ya, Bu.

Tapi…

Guntur mau tanggung jawab, Bu.

Bapak sudah ketemu sama Guntur.

Bapak sudah tahu?

Sudah.

Sofi telepon Bapak ya.

- Ya, halo? - Halo, Pak.

Guntur bagaimana Pak?

Ya, besok.

Besok Bapak yang antar Guntur ke rumah ya.

Sama penghulu sekalian, jadi, langsung ijab kabul.

Kau jangan hubungi Guntur lagi.

Nanti berubah pikiran dia.

- Ya sudah. - Ya?

- Terima kasih ya, Pak. - Ya.

Kalau menikahnya besok,

direstui tidak?

Boleh ya, Bu?

- Enak. - Enak dari mana?

Enakan mi buatanku, jauh.

Jadi…

aku…

mau menikah.

Kita janjinya kalau sudah tidak ada pilihan lagi.

Siapa tahu bulan depan aku punya pacar.

Nanti kau ribet, mau di Paris.

Ya tentu saja. Kalau menikah denganmu harus di Paris.

Tapi kau tidak punya dana,

jadi, aku tidak jadi menikah denganmu.

Menikahnya dengan Guntur.

Serius?

Kok tiba-tiba?

Kenapa? Kau hamil?

Tidak. Gila kau.

Soalnya tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba kau menikah.

Biasanya kau bawel sekali denganku.

Terlalu banyak cerita biasanya.

Yah, aku tidak mau merepotkanmu.

Tidak mau merepotkanku?

Setiap hari kau juga merepotkanku.

Habisnya aku bingung.

Hubungan jarak jauh melelahkan.

Nanti kau pindah ke Bandung?

Mungkin.

Jauh juga ya.

Lalu, bagaimana kita bertemu?

Ya bisa saja, bolak-balik Bandung.

Tapi aneh tidak bertemu kalau kau sudah punya suami?

Sa, sudahlah.

Aku cuma ingin besok kau datang untuk menemaniku. Bisa?

Tentu saja bisa. Masa tidak bisa?

Ya?

Pakai batik?

Pakai itu…

Baju yang aku belikan.

- Masih ada, 'kan? - Yang oranye?

Ya.

Ya, masih ada, tapi…

Kekecilan.

Ya sudah, besok datang pukul 10.00.

Wow, temanku menikah.

Temannya menikah responsnya cuma itu?

Harus senang.

Wah…

Seperti, "Selamat! Selamat ya!" Seperti itu.

Selamat! Selamat, ya, mau menikah.

Menikah di mana? Di rumah?

Ya.

Wah, selamat ya menikahnya di rumah.

- Jahat sekali. - Ya, biarkan jahat.

- Halo. - Pak.

Asalamualaikum.

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Bapak ditelepon tidak diangkat-angkat.

Memang acaranya jam berapa?

Sebentar lagi mulai, pukul 10.00.

Bagaimana?

Mau dihampiri?

Ke rumah Bapak?

Aqsa, hati-hati ya.

Ya, Bu. Sini.

- Tidak usah. - Sudah, tidak apa-apa.

- Ayo, naik. - Sudahlah, tidak usah, Aqsa.

Pakai, Kak.

Asalamualaikum, Bu.

Diangkat?

Pak?

Neng?

- Mau cari Pak Romi ya? - Ya.

Dari semalam sudah pergi.

Katanya dia mau menikah di kampung.

Sof…

Benar ya katamu.

Kemejanya kekecilan.

Sof…

Kalau ada apa-apa,

ingat, aku selalu ada untukmu.

Terima kasih ya, Aqsa.

Bapak bohong, Bu.

Sama saja dengan Guntur.

Kok bisa ya, Bu,

Bapak sejahat itu?

Kakak sabar, ya.

Insyaallah, ada jalan keluarnya.

- Tidak ada. - Ada.

Tidak ada, Bu.

- Tidak ada. - Ada, Kak.

Tidak ada.

Ibu selalu berdoa

mudah-mudahan kalian menjadi orang yang sukses,

dan bermanfaat untuk banyak orang.

Dan yang paling penting, pesan Ibu,

jangan sampai salah jalan.

Amin.

Dengarkan itu.

- Bu. - Apa?

Boleh tidak, aku saat sudah besar nanti,

aku menjadi artis seperti Kak Sofi?

- Apa? - Ikut-ikutan.

Tidak boleh.

Dedek. Dek.

Menjadi astronaut saja.

- Mau tidak menjadi astronaut? - Tertarik tidak ya?

Bu?

Sofi pergi ya, mau syuting.

Ibu temani ya, Kak?

Tidak usah, Bu, ada Aqsa.

Ya?

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Hati-hati ya, Kak.

- Dengar. - Ya, Mas?

Nanti aku awalan frame, kau ikuti saja langsung ya?

Oke, Mas.

- Mas, sudah jam berapa ini? - Sebentar ya, Mas.

Pasiennya dengan Mbak sendiri?

Hei.

Sofi?

Kau sudah di jalan, 'kan?

- Sini. - Sabar, santai.

Soalnya banyak yang menunggu di sini.

Kau sudah yakin?

Suster, siapkan alat-alatnya seperti biasa.

Kau lihat aku.

Beri tahu Sofi kalau karier dia di dunia pertalentaan selesai.

Berhenti!

- Suster. - Astagfirullahaladzim.

- Kakak. - Siapa ini?

- Kakak? - Bawa ibu ini keluar.

Aku ibunya.

- Kita pulang. - Bu.

- Bu, bisa tenang sedikit? - Kalau dokter terus melakukan ini,

aku akan laporkan ke polisi.

- Ayo, Kak, kita pulang ya. - Sofi sendiri yang datang kemari.

Dan dia sudah tanda tangan.

Aku punya hak. Dokter tidak punya hak apa pun.

Ayo, Kak.

Ayo, Kak. Hati-hati ya, Kak.

Kakak. Kakak bisa jalan, 'kan?

Suster, kenapa tidak ada yang jaga?

Cuma ini satu-satunya cara, Bu.

Tidak.

Bukan, ini bukan satu-satunya cara.

Ya? Masih ada Ibu.

Kita lewati ini bersama, ya?

Sofi malu.

Sofi malu.

Sofi malu, Bu, tidak mau.

Tidak mau.

Tidak usah malu. Ya?

Ada Ibu.

Yang penting itu sekarang Kakak dan anak Kakak.

Sekarang kita pulang. Ayo sekarang kita pulang.

Kita pulang ya?

Kita pulang.

Pelan-pelan ya.

Asalamualaikum.

Sofi?

Alaikum salam.

Aqsa?

Sofi sedang kurang sehat.

Boleh ketemu sebentar?

Ya, silakan.

Sofi di meja makan ya.

- Terima kasih, Bu. - Ya.

Sof?

Seharusnya dari awal aku percaya kepadamu.

Dia tidak baik.

Dia terlalu tua untukku.

Firasatmu benar.

Itu tidak penting, ya.

Itu sudah lewat.

Yang penting sekarang itu,

perasaanmu bagaimana?

Aku…

Aku kesal, Sa.

Aku kesal.

Kesal.

Aku kesal.

Tidak apa-apa kesal.

Bagus kalau kau kesal, tapi begini.

Kau tidak salah karena sudah terpikat,

tapi lain kali,

cintanya sama orang yang tepat.

Ya, Sof?

Keluar yuk?

Tak usah mengada-ada.

Aku pulang, ya.

Jalan-jalan, yuk.

Jalan-jalan ke mana?

Ruko?

Aku tidak tahu progresnya sekarang bagaimana.

Kumohon.

Warmindo Aqsa?

Ya.

Tidak ada yang lain?

Memang kenapa?

Narsis.

Ini memang punyaku.

Bawel kau.

Ini bukan cuma bagus, mewah.

Makan cilok terus kau. Sini, duduk.

Tapi kau cocok menjadi pedagang, Sa.

Yah, tadinya mau jadi manajer artis, tapi…

Pekerjaan pertama sudah masuk daftar hitam.

Maaf ya.

Tidak usah minta maaf.

Itu mimpimu.

Aku hanya ikut-ikutan saja.

Lalu, setelah ini apa?

Maksudnya?

Yah…

Sudah ada warmindo,

terus habis ini mau apa?

Mau menikah ya?

Jauh sekali berpikirnya. Belum.

Belum pantas saja jadi pasangan orang.

Pasangan itu, 'kan, melengkapi kita.

Ya?

Tapi dari pengalaman yang terjadi kepadaku,

pasangan itu

malah menjadi beban.

Tidak semuanya begitu.

Yah…

Kau belum ketemu yang pas saja.

Ya, kapan?

Tidak tahu. Semua orang punya jodoh, 'kan?

Sepertinya pasangan yang sempurna itu cuma ada di mimpi, Sa.

Aku janji…

Aku tidak akan terpikat lagi.

Aku tidak akan secinta itu sama orang.

Terpikat itu tidak salah.

Cinta sebesar itu pun tidak salah.

Yang penting sama orang yang pas.

Tidak apa-apa.

Namanya juga hidup.

Tapi…

Tahun ini yang penting…

cuan, cuan.

Maksudmu?

Maksudnya kita cuan?

- Ini? - Diajak.

- Ya sudah, oke. - Apa? Jangan begitu.

- Tidak, tidak usah. - Diajak.

- Untuk apa… - Diajak. Dari awal aku buat…

Pasti buka ini bersama Sofi, pasti.

Asalamualaikum, Bu Hamidah?

Alaikum salam.

Bu?

- Mbak? - Ya, Mbak.

Bisa.

Bu, ada penjual kue baru di pasar.

Katanya lebih enak dan murah.

Jadinya pelanggan kita pada ke sana semua.

Ujian ini ada-ada saja ya.

Biaya sekolah anak-anak lagi banyak, dagangan sepi…

Ya sudah, tak apa.

Mudah-mudahan besok bisa lebih baik.

Ya, Bu. Amin.

Oh ya, ini hasil penjualan kita hari ini, Bu.

Ya.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Alaikum salam.

Sofi?

Sofi, aku Mirna.

- Ya. - Hai!

Neng kenal?

Yang aku ketemu waktu casting itu.

Yang aku gantikan.

Ya tentu saja dia yang menang.

Dia lebih cantik darimu, jauh.

- Hei, duduk. Duduk sini. - Oh ya, duduk.

Jangan berdiri saja, nanti pegal.

Silakan, silakan.

Terima kasih.

Oh ya, Sof, kemarin kenapa batal?

Tapi berkatmu, wajahku jadi banyak sekali di stasiun MRT.

Ya, 'kan, Bu?

Terima kasih ya, Neng.

Hei, sebentar.

Kau ke sini karena lowongan kerja?

- Ya. - Kau model, Sof.

Sepertinya tidak jodoh.

Sama, Sof.

Sepertinya bukan jodoh aku juga.

Kalau tidak kepepet, sepertinya bukan aku yang terpilih.

Orang-orang pada stres kerja denganku.

Ma, sudah.

Sepertinya Sofi kita terima saja.

Tapi kerjaannya cuma mengemas saja, Sofi.

Jadi, bayarannya tidak besar.

Tante, tidak apa-apa. Aku memang sedang butuh.

Yang penting halal.

- Boleh lihat dulu? - Oh, ya, boleh.

Sudah, nanti biar aku saja yang cek.

Terima saja.

Ya, karena ini permintaan dari anak kesayangan Tante,

jadi, Sofi, selamat bergabung.

Ya ampun. Terima kasih ya, Tante.

- Sama-sama, Nak. - Mir.

- Aqsa. - Ya?

Aku keterima!

Tebak keterima apa?

- Kerjaan? - Tentu saja.

Sekarang aku sudah bukan pengangguran.

Ada yang mau kerja denganmu?

- Ya. - Benar?

- Benar. - Wow.

Wah, selamat ya!

- Aduh. - Ini apa?

Merayakan aku dapat pekerjaan dan sudah bukan pengangguran.

Lalu, pekerjaannya apa?

Butik hijab. Jadi, aku lihat di lowongan kerja, ada di media sosial.

Maaf, butik hijab?

Ya.

Sudah rapi belum?

Sebentar, ada yang menyangkut.

Pagi, Sof!

Bosku.

Bukan, aku sama seperti Sofi.

Bosnya mamaku.

Aqsa.

Mirna.

Nanti waktu pulang, perlu aku jemput?

- Tidak… - Perlu.

Maksudnya, di sini kalau sore suka tidak ada ojek.

Maksudku, kau bukan ojek, Sa.

- Tapi… - Aman. Santai.

Ya sudah, duluan. Semangat ya?

- Asalamualaikum. - Alaikum salam!

Dah.

- Dah. - Dah, Mirna.

- Masuk yuk. - Ayo.

Yuk.

Yuk.

Wah, kau cantik.

Oh ya, Sof, tidak apa-apa, 'kan, kalau jam kerja kau pakai hijab?

Setelah itu, kau bisa lepas lagi. Tak apa, 'kan?

Tak apa.

Oh ya, ini hijab untukmu.

Cocok, buat ganti-ganti.

Buat aku?

Terima kasih ya.

Bagus. Cocok buatmu.

Bagus ya.

Cuma sekarang itu, bagus saja tidak cukup.

Semua harus sesuai target.

Pemasok kita suka kasih bonus kalau penjualan kita sesuai target.

- Oh ya? - Ya.

Bonusnya itu banyak. Bisa uang, lalu bisa keliling Eropa.

Ayo, Sof. Siapa tahu kita bisa keliling Eropa juga.

Aku dan Mama sudah coba banyak hal untuk menaikkan penjualan,

tapi belum terangkat.

Sudah pakai buzzer.

Cuma ternyata biaya buzzer itu mahal sekali.

Kalau teknik penjualan halus, sudah pernah?

Teknik penjualan halus?

- Sudah siap? - Sudah.

- Aku berdiri di sini, 'kan? - Ya.

Oke.

Satu, dua, tiga.

Hai, Semua, aku…

- Asalamualaikum. - Aqsa?

Alaikum salam.

Titipan.

Aku ganggu ya?

Tidak, baru latihan kok.

Seperti ini lo, Mir.

Hai, Semua, aku Mirna! Kenalkan.

- Aku mau kasih kalian… - Aduh, aku tidak bisa.

Kok tidak bisa?

Bisa kok, orang cuma itu saja.

Kau saja.

Hai. Halo, Semuanya! Aku Sofi.

Dan hari ini aku mau kasih kalian tutorial hijab.

Cara pakainya gampang sekali, cocok buat sehari-hari,

dan cara pakainya cuma dalam lima menit.

Tapi karena aku baru pakai hijab,

jadi, aku kurang mengerti cara pakainya bagaimana.

Sekarang aku ditemani sama temanku,

Mirna!

Hai.

Jadi, pertama,

ini bahan yang sama.

Pakai pentul.

Ini ke belakang.

Terus, pakai pentul lagi.

Sudah! Wah, cepat sekali.

INSPIRASI BAJU HIJAB SEKALI INI.

TOLONG SERING LIVE SEPERTI INI.

BAJU DAN KAKAKNYA LUCU SEKALI.

TAMPILANNYA BAGUS SEMUA.

BAGUS SEKALI KONTENNYA!

MAU AKU SONTEK, PASTI!

INSPIRASI SEKALI INI. TERIMA KASIH, KAKAK.

BAIK UNTUK SEMUA TAHAP KEHAMILAN

Sof, lihat pesanan kita banyak sekali!

Mama pasti senang sekali.

Masyaallah.

Mirna, ini benar?

- Benar! - Pesanan kita sebanyak ini sekarang?

Luar biasa.

Ini jangan-jangan kita bisa buka cabang kedua.

- Amin. - Amin.

Sofi,

Ibu bisa bicara sebentar?

Sofi,

Ibu dalam menjalankan bisnis selalu jujur, ya.

Jadi, tidak mungkin kau yang sudah

memberikan banyak keuntungan untuk toko kami,

lalu pengikutnya juga bertambah ya, Neng?

Banyak sekali.

Tapi kau tak dapat apa-apa.

Jadi,

Ibu sudah bicara sama Mirna.

Ini untukmu.

Produk super, premium dari toko kita.

Mulai sekarang, Sofi tidak cuma menjadi karyawan.

Tapi jadi duta merek.

Nanti baju sehari-harinya Sofi, Ibu sponsori.

Jadi, dipakai ya?

Dan jaga nama baik toko hijab kita.

Gajimu juga Ibu naikkan.

Asyik.

Tapi maaf ya, Sofi.

Agak gemukan ya?

Dijaga penampilannya ya, Sofi.

Jangan bikin kecewa para netizen.

Baju-baju seksi ditaruh saja di rumah.

Dipakai kalau sudah ada suami.

Ya?

Ya sudah. Itu pesanan yang buat Medan sudah disiapkan?

Ada. Sini, Ma.

- Yang ini bukan? - Langsung turunkan ke bawah saja.

Yang ini, 'kan? Itu.

Nah, ya.

Semuanya?

Ini benar, 'kan? Kakak tidak salah beli?

Ya, ini lucu sekali!

Terima kasih ya, Kak Sofi.

Terima kasih ya, Kak.

Sama-sama.

Aku coba di luar ya Kak?

- Ya. - Yuk.

Terima kasih ya, Kak.

Aku kasih Ibu ini.

Gaji pertama Sofi dari butik.

Buat pegangan Ibu saja ya?

Terima kasih ya.

Sama-sama, Ibu.

Ini…

Sofi dikasih banyak sekali baju muslim dan hijab.

Katanya suruh pakai.

Cantik.

Sofi tidak mau, Bu.

Malu.

Pakai hijab sama pakai baju muslim ini seperti cuma buat menutupi aib.

Lagi pula, ini mau sampai kapan ditutupinya, Bu?

Sofi sudah bilang, Sofi cuma bikin malu keluarga.

Kakak tidak boleh bicara seperti itu.

Dipakai saja hijabnya, cantik kok.

Anak ini cuma buat beban.

Tidak pantas Sofi berhijab.

Tidak mau Sofi jadi orang munafik.

Kak.

- Sofi pergi ya, Bu. - Hati-hati.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Masyaallah, Sofi.

Masyaallah, cantik sekali.

Aura surganya keluar lo.

Ya, beruntung sekali ya Bu Hamidah.

Punya anak alim seperti Sofi.

Semoga istikamah ya, Sofi.

- Cantik sekali kau sekarang pakai hijab. - Ya.

Tidak seperti anakku.

Susah sekali diberi tahu.

Atas buka, bawah buka.

Pokoknya diobral semua.

Sabar.

Ibu-Ibu, aku pergi dulu ya. Aku buru-buru.

- Ya. - Asalamualaikum.

Alaikum salam.

Hati-hati ya, Kak.

- Pamit dulu yuk? - Ya, ayo.

Sudah telat. Bu Hamidah, kami pamit dulu.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Kapan ya pakai hijab?

Sabar, Bu, nanti juga ada masanya.

Asalamualaikum!

Hari ini, Sofi punya kabar baik yang mau dibagikan

ke para pengikut tersayang semuanya.

Jadi…

Kasih tahu tidak?

Mulai hari ini, Sofi resmi berhijab!

Tepuk tangan, ya.

Makanya, yuk, yang mau jadi lebih cantik seperti Sofi…

yuk, dipilih koleksinya.

Ada di Tika Hijab Boutique.

- Asalamualaikum, Aqsa! - Alaikum salam.

Kenapa lihat aku?

Maaf, bukan melihatmu.

Sof.

Masih kerja?

Tidak, sudah selesai.

Kok masih pakai hijab?

Lo, Aqsa belum tahu?

Sofi sekarang sudah benar-benar berhijab.

Seterusnya seperti ini?

Doakan saja istikamah. Ya, 'kan, Sof?

Bagaimana kalau kita rayakan saja?

Makan-makan?

Boleh.

Di warungku bagaimana?

- Ayo. - Kau bawa mobil, 'kan?

- Ya. - Ketemu di sana ya?

Oke. Sof, bagi lokasi, ya?

- Ya. - Dah.

Kenapa?

Tidak apa-apa.

Melihatnya seperti itu.

Cantik.

Habis wudu.

Kalau begitu, sering-sering berwudu.

- Setelah lampu merah, belok… - Kanan.

Kanan.

Mir, sepertinya kau salah.

Sebentar, aku keluar ya.

Sepertinya aku lihat mobilmu.

Lihat aku, 'kan?

Oke, dah.

Sa!

- Asalamualaikum, Aqsa. - Alaikum salam, Mirna.

Tadi petanya salah, jadi, telat. Maaf ya.

Santai saja, tenang. Mau pesan langsung?

Wah, itu sepertinya enak.

Mau sama seperti Sofi?

Boleh, disamakan seperti Sofi saja.

Oh ya sudah, duduk saja. Langsung aku buatkan.

- Silakan. - Duduk.

Ini makan duluan tidak apa-apa, 'kan?

- Silakan. - Hore.

Makan.

Sof! Sofi.

Sof, sudah.

Nanti ini aku saja yang bereskan.

Sini.

- Kenapa? - Sini.

Sebentar.

Lo, mau apa? Ini belum waktunya live.

Ada pemasok kita namanya Bahar.

Dia mau bertemu denganmu.

Ketemu aku? Untuk apa?

Silakan, silakan masuk.

Oh. Ya.

Alhamdulillah, Mas.

Bulan ini benar-benar rezeki buat toko kita.

Nah, ini, kenalkan.

- Senjata pamungkas toko kita. Sofi. - Bahar.

Sofi.

- Ya. - Pemasok.

Bagaimana Mas Bahar dengan produk toko kita ini?

Sofi kelihatan cantik sekali, 'kan? Cocok, 'kan?

- Cocok. - Cocok!

Oh ya, Mas, penjualan live

dan kosan estetik yang ada di toko kita juga,

- itu idenya Sofi. - Ya.

Wah, naluri bisnismu juga kuat ya.

- Cocok. - Cocok lagi.

Hei, tapi ini Sofi kalau sedang berjualan live,

pasti tidak perlu pencahayaan tambahan ya?

- Kenapa ya, Mas? - Soalnya wajahnya itu…

Bercahaya.

Ya.

Agak lapar ya?

- Mas Bahar lapar ya? - Ya, lapar.

Mau apa ya?

- Makanan yang viral itu ya, Mas? - Sof.

Kalau yang enak di sini apa ya, Sof?

- Terima kasih. - Ya.

- Hati-hati. - Oh, ya.

- Silakan. - Aqsa.

Kenalkan, ini Mas Bahar.

- Bahar. - Aqsa.

- Ini restoran baru ya? - Oh, ya.

Jual furnitur juga?

- Tidak. - Ini…

Meja dan kursinya kosong soalnya, tidak ada orang.

Enak tidak ini?

- Duduk saja dulu. - Ya.

Pemasoknya Bu Tika.

Sof, aku senang sekali kalau melihatmu berjualan live, Sof.

Boleh tidak, dicontohkan sedikit di sini?

Tidak. Malu, Mas.

Sedikit saja.

- Malu. - Tidak apa-apa.

Ayolah.

- Begini saja… - Bagaimana?

Asalamualaikum. Halo, Semuanya.

Balik lagi ke acara tutorial hijab bersama Sofi.

Masyaallah.

Adem sekali suaramu, Sof.

Seperti ubin musala.

Sof, maaf.

Ada sheets yang aku masih kurang tahu cara inputnya.

- Boleh diisikan? - Sebentar ya, Mas.

- Oh ya, tidak apa. Nanti aku… - Sof.

- Terima kasih ya. - Sudah kau buka?

Sudah, kau cek saja sendiri.

Bagaimana ini? Ini belum dibuka.

Kau aman?

Aman. Maksudnya?

Ya, jujur, dia agak aneh orangnya.

Ya, mau bagaimana lagi? Ini pemasoknya Bu Tika.

Ya, mengerti, tapi kalau dia membuatmu tidak nyaman,

kasih aku kode, ya?

Tenang, ini bisa kutangani kalau yang seperti ini.

Tidak usah merasa tidak enak.

Dia mau apa?

Sofi.

- Mau pulang, Sof? - Ya, ini mau pulang.

Ayo, sekalian saja pulang bersama. Yuk?

- Tak usah, Mas, ini sudah… - Sama aku, kok.

Sof, tidak enak.

Ayo, Sof.

Ya sudah kalau begitu.

Duluan ya.

- Dah. - Dah.

- Ayo, Sof. - Hati-hati ya.

- Ya, dah. - Dah, hati-hati.

Silakan.

Sof, boleh geser, tidak?

Malas berputar.

Oh, ya. Silakan.

Terima kasih ya, Mas, sudah diantar pulang.

Oh, ya, Sof. Sama-sama.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam, Sofi.

Hei, Sof.

Ini jalannya ke mana ya, Sof?

Mas tujuannya mau ke mana?

Mau ke KUA bersamamu.

- Ya. - Ya, Sof.

Asalamualaikum, Bu.

- Alaikum salam. - Ini rumahnya Sofi ya, Bu?

Aku ibunya Sofi.

Ada yang bisa kubantu?

Oke.

Satu, dua, tiga.

- Bagus! - Satu, dua, tiga.

Coba lebih seru, lebih luwes lagi.

- Oke. - Sat…

- Bagus. - Satu, dua…

Takut kecapaian, pakai sofa kali ya?

Hati-hati.

Ini duduk?

Bagus.

- Satu, dua. - Tangan.

Hei, hati-hati.

Sof, kalau kecapaian bilang ya.

- Ya. Orang duduk saja kok. - Oke.

Ya.

Mirna, ini aku majukan juga ya?

Sayang.

Kunci mobil ada padamu, 'kan?

- Ada, ini. - Ya sudah. Yuk.

Mir, sepertinya barangku ada yang ketinggalan di mobil.

Oke, aku siapkan OOTD dulu.

Hei, Pengecut.

Siapa, Mas?

Kau tunggu di mobil saja ya, Sayang.

Mau apa lagi kau?

Bukannya aku sudah bilang sama bapakmu untuk jangan ganggu aku lagi?

Uang 15 jutanya kurang?

Lima belas juta?

Ini, lima belas juta, tunai.

Soal pembagiannya, Bapak mau kasih Sofi atau apa, biar Bapak saja yang atur.

Yang penting,

aku tidak mau disangkutpaukan sama bayi yang dikandung Sofi.

Tenang saja, Sofi itu anakku. Beres.

Oke.

Seperti yang kau lihat.

Sekarang aku sudah bahagia.

Aku sudah dapat perempuan baik-baik.

- Sarjana. - Sof?

Dewasa.

Dan pastinya tidak sok suci sepertimu.

Dia tahu tidak?

Kalau kau itu cuma bekas aku.

Sof, sudah.

- Astaghfirullahaladzim! - Apa-apaan kau?

Mas Guntur!

Pak!

Sudah, hentikan!

- Cukup. - Mas…

- Jangan berkelahi di sini. - Mas.

Kau tidak apa-apa, Mas? Ya ampun.

Sof.

Kalian dari mana?

Cari seblak.

Oke.

Oh ya, kalian pesan dulu saja. Aku sudah bayar di awal.

Aku mau ke toilet dulu.

Oh ya, Sof, pesananku sama sepertimu saja.

Sof?

Mbak?

Ada…

handuk kecil dan es batu?

Sudah, aku saja.

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

- Kak. - Bu.

Ini?

Tadi Bahar ke sini.

Kakak kok tidak pernah cerita ke Ibu?

Sofi baru kenal, Bu, sama Bahar.

Kita duduk dulu yuk.

Bahar tadi ke sini,

menyampaikan niat baik dia mau menikahi Kakak.

Dia juga tahu kondisi Kakak.

Ibu sudah cerita semuanya.

Dan kalau Kakak terima,

mungkin ini keputusan terbaik.

Supaya anak Kakak punya ayah dan akta lahir.

Ya, sebentar, maaf.

Sebentar, ya.

Ayo masuk.

Sini sebentar.

Nah, jangan dipegang dulu, masih basah catnya.

Ada beberapa hal lucu, ada boneka-bonekaan,

buat rumah-rumahannya.

Maaf, habis mengecat.

- Kupindahkan dulu sebentar. - Sa, stop.

Sebentar.

Aku belum cerita kepadamu, aku…

Aku dilamar.

Oleh…

Bahar.

Sepertinya aku akan…

terima.

Sof…

Kita berteman sudah

lumayan lama, ya?

Jadi, semua rahasiamu, aku tahu.

Jelek-jeleknya dirimu, aku tahu.

Dan kau juga tahu, 'kan,

kalau kau ada masalah apa-apa,

kau bisa datang kepadaku?

Ya.

Sof, aku tahu kau hamil.

Dan kalau kau mau menikah dengan Bahar gara-gara…

Sof, dengar dulu.

Kau tidak butuh Bahar, Sof, ada aku di sini.

- Aku akan membantumu. - Ini kesalahanku.

Ini urusanku dan aku yang harus tanggung jawab.

Tidak harus sendirian. Ada aku di sini, Sofi.

Bisakah kau tidak sok bertanggung jawab seperti itu?

Sampai membuat ini segala. Buat apa, Sa?

Kalau memang kau tahu dari awal aku hamil, kenapa kau tidak bicara sama…

Aku cari waktu yang pas.

- Kenapa kau tidak bilang dari awal? - Aku malu.

Aku malu, Sa.

Kau ingat waktu aku tidak jadi datang ke studio untuk syuting?

Kau kira itu kenapa?

Aku mau aborsi, Sa. Aku mau aborsi!

Pernahkah terlintas di otakmu bahwa aku mau aborsi? Tidak, 'kan?

Kau tidak pernah berbuat dosa.

Kata siapa? Dosaku banyak.

- Memang kau pernah bunuh orang? - Memang kau pernah?

Hampir!

Sof, tenang dulu ya.

Tidak. Begini, kau lihat semua ini.

Kau lihat.

Kau sudah berhasil mendapatkan apa yang kau mau.

Aku?

Aku tidak.

Mungkin kau lahir ke dunia ini untuk menjadi orang yang lurus,

lalu aku tidak, dan tidak apa-apa, tak ada masalah.

Tapi ini satu-satunya cara untuk memperbaiki hidupku.

Apa kau mengerti, Sa?

- Tapi kau tidak mencintai Bahar, Sof. - Aku pernah cinta sama orang.

Tidakkah kau lihat hasilnya?

Aku dihamili, dia tak mau tanggung jawab, lalu pergi begitu saja dari hidupku.

Aku sudah tidak percaya dengan cinta, Sa!

Sof, masih ada cara lain. Ya?

Kita cari bersama.

Sof…

- Permisi, Bu? - Ya?

Lihat Pak Romi?

Aduh, dari semenjak itu, sudah tak pernah kelihatan, Neng.

Terima kasih, ya.

Mau.

Kakak?

Asalamualaikum. Sofi cantik sekali.

Terima kasih, Bu.

Sofi, cantik sekali.

- Bu, permisi ya. - Ya.

PERNIKAHAN SOFI DAN BAHAR

Ya, Bu.

- Cantik amat. Kakak mana? - Ada di dalam.

Ayo. Satu, dua, tiga.

- Alaikum salam. - Dua, tiga.

Kurang bagus.

- Coba di sana. - Repot.

Nah.

Satu, dua, tiga. Bagus! Bagus, Ma, sekali lagi.

Coba.

Seperti ini.

Nah.

Kak?

Ibu, Mirna, sebentar ya.

Neng,

ijab kabulnya hari ini

secara agama dulu ya?

Buku nikahnya nanti menyusul.

Insyaallah sah.

Ya?

Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, mari sebelum kita mulai akad nikahnya,

kita bersama-sama membaca Al-Fatihah.

Al-Fatihah.

- Bahar. - Ya.

Ikuti saya.

Saya nikahkan dan saya kawinkan

Sofia Maharani binti Romi Sulistyo

dengan Baharudin Bahtiar bin Hasanudin,

dengan mas kawin seperangkat alat salat dan logam mulia seberat satu kilogram

dibayar tunai.

Saya terima nikahnya Sofia Maharani binti Baharudin…

Astaghfirullahaladzim.

- Gugup ini. - Ya.

Baru pertama kali ini, ya?

- Kita coba sekali lagi, Pak. - Ya, Pak.

- Siap ya? - Ya.

Satu tarikan napas, yakin?

Saya nikahkan dan saya kawinkan Sofia Maharani binti Romi Sulistyo

dengan Baharudin Bahtiar bin Hasanudin,

dengan mas kawin seperangkat alat salat dan logam mulia seberat satu kilogram

dibayar tunai.

Saya terima nikahnya Sofia Maharani…

Bubar!

Kurang ajar kau, ya.

Bubar!

Bubar semua!

Tidak ada pernikahan di sini, bubar!

Bubar!

Kau lupa siapa yang membiayai hidupmu?

Duitmu itu warisan almarhum ayahku!

Ini siapa, Nak Bahar?

Punya istri, malu itu sama hijab!

Mbak!

Sudah!

Pelakor kau!

Bukan anakku itu, sumpah demi Allah.

Lalu, anak siapa? Mengapa kau nikahi kalau begitu?

Cuma ingin membantu dia.

- Omong kosong! Bangsat kau, alasan saja! - Keluar!

- Pelakor! - Keluar!

Keluar kau. Keluar. Keluar!

Kak? Kakak?

Kak? Kakak.

Kakak, buka pintunya.

- Sofi… - Kita pulang.

- Sofi, Ma. - Kita pulang.

- Kak? - Sof.

Kak, tolong buka pintunya.

Sof. Sofi?

- Sofi. - Aku izin dobrak sebentar ya, Bu.

Kak!

- Kakak. - Bu, aku tidak mau.

Aku tidak pernah mau anak ini, 'kan?

Coba lihat? Aku buat malu Ibu.

Buat malu kita semua, aku malu.

Seharusnya mati saja.

- Mati saja dari awal, Bu! - Kakak!

- Mati! - Kakak, istigfar!

Kakak, istigfar.

Kakak, istigfar.

Tidak boleh seperti itu.

Kakak tidak boleh bicara seperti itu.

Kakak istigfar, Kak.

Istigfar, Kak.

Kakak tenang.

Bu, aku dari awal sudah bilang sama Ibu.

Aku…

Aqsa, tolong. Kakak.

Bu…

Aqsa, tolong.

Aqsa.

Kita lihat dulu ya. Mudah-mudahan hasilnya baik.

Bu…

Detak jantung bayinya sudah tidak ada.

Sofi sekarang ini sedang mengalami bayi lahir mati.

Dan untuk menyelamatkan Sofi,

kami harus melakukan induksi

supaya bayinya nanti keluar secara normal.

Berarti nanti,

bayinya normal ya, Dok?

Tindakan ini adalah yang terbaik untuk menyelamatkanmu, Sofi.

Dan untuk bayinya

sudah tidak bisa dilakukan apa-apa lagi.

Mari, Bu. Ikut ke ruanganku.

Titip Sofi ya, Aqsa.

Kau mau…

- Mau aku tunggu di sini atau? - Dikabulkan doaku, Sa.

Sama Allah.

Bayinya sudah tidak ada.

Sof…

Aku tinggal salat isya sebentar, tidak apa-apa?

Sebentar ya.

Sa.

Kalau di depan ada suster,

pinjamkan mukena buat aku, ya?

Maaf ya.

Aku selalu jahat kepadamu.

Aku tidak pernah mau kau ada.

Sekarang ketika kau tidak ada,

aku merasa kesepian.

Seandainya ya, Nak…

Allah kasih kesempatan buat aku perbaiki semuanya…

Ini.

Pakai saja.

Gelang kita mana?

Kok tidak dipakai?

Ada.

Tadi aku lepas waktu salat.

Kukira sudah tidak mau pakai.

- Bisa tidak? - Bisa kok.

Sini.

- Selamat malam. - Malam.

Bu, ini obat induksinya ya.

Selama empat jam, kontraksimu Suster pantau.

Namun, jika kontraksinya kurang,

kita pertimbangkan tindakan operasi Caesar.

Oh, ya.

Sebelum melakukan tindakan,

kita perlu persetujuan dari keluarga.

Aku saja, Aku…

Keluarga.

Ya.

Kalau begitu, aku permisi dulu ya? Kalau ada apa-apa, panggil aku saja.

- Mari. - Terima kasih, Sus.

Kenapa, Sof?

Ada yang gerak.

Gerak?

- Ya. - Maksudmu?

Ya, perutku. Perutku…

- Kau minum obatnya tidak? - Ini obatnya.

Aku panggil suster sebentar.

Suster. Suster!

- Sus. - Ya?

Ini…

- Kenapa? - Sus.

Ini kok perutku seperti ada yang gerak ya?

Aku cek dulu ya.

Tarik napas.

Tarik napas…

Masyaallah, detak jantungnya ada lagi.

Aku panggil Ibu.

Bu.

Sus, ini sungguhan?

Ya, benar itu.

Kak?

Bu.

- Kenapa? - Ini, Bu.

Detak jantungnya ada lagi.

Alhamdulillah.

Ini jarang terjadi.

Ini semua atas kuasa Allah swt.

Selamat ya.

- Ayo kita observasi lagi. - Baik, Dok.

- Pelakor, hei! - Bahar!

Mbak!

Mulai detik ini, yang namanya Sofi

tidak ada hubungannya lagi dengan toko kami.

Kami juga ditipu.

- Ma, sudah. - Sudah, Mama lagi klarifikasi ini.

Ya? Pokoknya jangan kaitkan toko kami lagi.

- Sudah Ma, sudah. - Sudah tak apa, biar mereka tahu.

Dia sudah tak ada hubungannya sama kita.

Pokoknya jangan dikaitkan lagi.

- Kita jualan saja, jualan saja. - Dengan toko kami ini ya.

Tidak ada hubungan, kami tidak menoleransi yang namanya…

Ibu, terima kasih ya. Mohon maaf kalau selama ini merepotkan.

Sama-sama. Aku juga ya.

Kalian hati-hati.

- Terima kasih, Bu. Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Hati-hati ya.

- Aqsa, jangan mengebut ya. - Pasti.

Sampai ketemu, asalamualaikum.

Tak usah dipikirkan.

Sudah, anggap saja pembenci.

Ibu tidak mengerti kenapa kau tidak mau tetap tinggal bersama kami.

Bu, sebentar lagi aku akan melahirkan.

Kasihan adik-adik, Bu,

jadi kena efek omongan orang lagi.

Bukan salah mereka.

Bukan salah Ibu juga.

Ya?

Kabari Ibu terus ya?

Hati-hati, Kak.

Mobil siapa ini, Sa?

Mobilku.

Motornya kujual untuk beli ini.

Sepertinya lebih aman buat…

Barang-barang warung.

Kakak tidak dipeluk?

Kakak baik-baik di sana ya?

Pasti.

Ibu juga.

Bisa?

Hati-hati. Ya.

- Aman? - Sudah.

Bisa tidak ini?

Bisa, sini.

Terus bagaimana kalau ternyata…

- Dah! - Asalamualaikum.

Asalamualaikum.

Maaf ya, satu lantai lagi.

Ya ampun, Sa.

Susah cari tempat sekarang.

Yang ada cuma ini.

Tapi nyaman kok. Ya?

Dan aman juga, di bawah ada satpam.

Bismillah.

Nah.

Lumayan, 'kan?

Kita mau beli apa? Yang ketinggalan apa?

Sikat gigi, odol, sabun, sampo…

- Oke. - Sapu, yang seperti itu.

Itu untukmu. Kalau Adik Bayi mau apa?

- Mau ayam geprek. - Ayam geprek?

Itu Adik Bayi atau ibunya?

Sudah ada namanya belum?

Belum.

Masa belum kepikiran sudah sebesar ini?

- Ayo coba pikirkan siapa, kalau cowok? - Ya sudah. Domani.

- Domani? Apa? - Apa ya?

Oke, kalau perempuan?

- Nurul. - Nurul? The Nuruls tiba-tiba.

Ini saja, kemarin aku sempat cari-cari.

Namanya lucu.

Sela.

- Sela? - Ya.

Artinya itu kalau tidak salah

surga bunda atau cahaya bunda.

Terus nama panjangnya Sela apa? Sela on 7, itu?

Selaaaaa…

- Belajar lagi ya. - Lucu, 'kan?

Kurang lucu.

Bismillah.

Kosong.

Apa lagi yang mau direnovasi?

Siapa mau renovasi?

Yah, kenapa dikosongkan seperti ini?

Untukmu.

Sofi.

Hidup

harus terus berjalan.

Ambil.

Sudah, tak usah dipikirkan.

Ambil.

Aku buat apa ya?

Tak tahu, bebas.

Ini milikmu.

Sepertinya ke kiri sedikit.

Oke.

Tidak, yang tadi lagi saja.

Yang ini di sini saja, Mas.

Bagaimana?

Terima kasih, ya.

Sama-sama.

Halo, Mbak, mau cari apa?

Ya, Mbak, aku lagi cari baju buat acara pengajian.

Warna kulit Mbaknya hangat sepertinya.

Ini bagus, Mbak.

Terus atasannya…

Kalau tidak yang ini, yang ini.

Mbak, tidak mau pakai kerudung yang dipakai itu?

Ya Allah, Mbak, aku merasa belum pantas untuk berhijab.

Kalau menurut aku ya,

kita itu berhijab sebagai bentuk syukur kita

karena Allah sudah memberikan yang terbaik dalam hidup.

Lagi pula, Mbak, yang bisa menilai itu cuma Allah.

Bukan manusia.

- Silakan, Kak. - Terima kasih, Bu.

Serius sekali bekerjanya. Sudah, sini makan dulu.

Taruh dulu.

Selamat makan.

- Bismillah. - Tukar.

Kenapa tukar? Itu sehat, bagus untukmu.

Sof… Ya sudah, satu suap.

Satu saja.

- Lagi? - Panas.

Yang tadi setengah.

- Terima kasih ya, Mas. - Terima kasih, Mas.

Wah…

- Senin. - Senin.

Jempolnya.

Aqsa. Sa?

Sa…

Sepertinya sudah waktunya.

Apa? Bagaimana?

Ini baru tujuh bulan.

- Bang minya bagaimana? - Ini.

Sakit!

Bang, yang pedas yang mana?

Dicoba saja ya? Ayo masuk.

- Masuk dulu. - Bayarnya bagaimana?

Gratis, Mas, gratis.

- Pelan-pelan. - Aqsa!

Sudah, ayo. Sudah, masuk dulu.

Kok malah masuk? Ayo ke rumah sakit, Sa.

Masa jalan kaki? Tak mungkin. Pakai mobil, 'kan?

Ayo, sebentar. Duduk dulu, aku cari kunci mobil.

Ayo, napas.

Jangan lupa napas.

Sebentar ya, Sof.

Aqsa!

- Sof. - Sa!

- Kunci mobil ada padamu tidak? - Tidak tahu, Sa!

Sabar ya, Sof.

Aqsa!

Sa!

Sof, kita telepon ambulans ya?

Telepon ya, ke rumah sakit?

Tidak, sudah tidak kuat.

Telepon bidan.

- Bidan atau apa, Sa. - Pinjam ponselmu sebentar.

Kata sandi.

Bidan…

Bidan… Sakit!

Ya, begitu.

- Asalamualaikum? - Alaikum salam, Bu.

Bu, kami di sini.

Sudah sampai.

Adik, siapa namanya?

- Siapa namanya? - Sofi.

Sofi, sebentar ya.

Aduh.

Sudah pembukaan lahir.

Minta tolong ambilkan seprai, selimut, atau apa saja.

Selimut!

Ini, Bu, maaf.

Sudah disiapkan dari tadi.

Ada selimut, handuk.

Sebentar, diangkat pantatnya.

Tolong ambilkan air hangat di baskom.

Sof… Sebentar ya.

Kau bisa.

Kau bisa, ya?

Sofi, tenang ya.

Tenang, yang ikhlas.

Ini, Bu.

- Air hangatnya. - Terima kasih.

Tarik napas ya?

Sof, tahan.

Nah, sekarang dorong.

Ya.

Yang sabar ya.

Sana!

Halo?

Asalamualaikum, Ibu.

Ibu, Sofi lahiran di ruko.

Lahiran di ruko?

Ibu mau dijemput atau bagaimana?

Tidak usah. Aqsa tunggu di sana saja ya? Temani Sofi ya?

Ya, Bu, sebentar lagi ini.

Sekarang dorong.

Dorong sekarang.

Sedikit lagi!

Sudah lahir, Bu.

Alhamdulillah.

Sofi.

Ini adik bayinya.

Ya, ini.

Cantik seperti ibunya.

Hai.

Sela.

Anaknya Ibu.

Tadi keluar dari perut Ibu.

Ibu minta maaf.

Kita harus sembuh dan tumbuh bersama.

Janji?

Janji ya?

Apa, Sayang?

Dik, kalau mau sekalian diazankan, silakan saja.

Pelan-pelan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Laa ilaaha illallah

Asalamualaikum.

Alaikum salam.

- Namanya siapa? - Namanya Sela.

Kak…

Ibu Sofi.

- Lihat. - Selamat ya, Nak.

- Lucu ya? - Ya.

Siapa namanya?

Sela, 'kan?

Ini.

Mau ketemu Nenek?

Ini nenekmu.

Memang Nenek?

Lalu, siapa?

- Oma. - Oma.

Eyang, Eyang Uti.

Eyang.

Cantik.

Seperti Kak Sofi.

Sela.

Itu, ada siapa?

Ada bantal baru buat Sela.

- Terima kasih. - Ada popok…

- Coba bilang. - …karena kotorannya banyak sekali.

- Terima kasih. - Sepertinya dia mau sama Om Aqsa.

- Memang Om Aqsa bisa gendong bayi? - Bisa. Coba.

Cantik amat.

Cantik amat?

Mirip sekali denganmu.

Ya? Tapi keras kepalanya jangan sama seperti mama ya?

Pusing.

Mamamu keras kepala sekali.

Ya? Cantiknya saja yang mirip, ya?

Asalamualaikum, Sof.

Sebentar.

Sof, cepat.

Hai.

Tadi di jalan, aku menemukan sesuatu yang lucu sekali. Lihat.

Boneka kapibara.

Buat Sela. Ini.

Sekalian tadi lewat, beli popok. Pegang sebentar.

Di sini ada selimut baru, topi, kaus kaki buat Sela.

Dan, tenang…

Buat ibunya juga ada, makanan.

Supaya kuat.

Sela di mana?

Itu, tidur.

Si Cantik.

Terima kasih ya.

Sama-sama.

Ya sudah, kalau begitu,

aku pulang ya.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

- Sa. - Ya?

Mau mengobrol sebentar. Di sana saja kali ya?

Boleh.

Hei, Sof.

Tadi aku sempat lihat video tempat liburan.

Sepertinya kalau nanti kita…

Sepertinya tidak ada "nanti".

Maksudnya?

Sa, sudah ya.

Sudah cukup kau berkorban untukku dan Sela.

Salahku di mana ya?

Tidak, kau tidak salah.

Maaf.

Kau bilang aku tidak salah, tapi kau seperti mendorongku sekarang.

Kau itu terlalu baik, Sa.

Terlalu baik?

Lalu, kau mau aku melakukan apa?

Jadi bajingan?

Menyakitimu, meninggalkanmu?

Itu maumu?

Sumpah, Sof, aku tidak mengerti. Maumu apa dariku?

Aku tidak mau apa-apa.

Aku hanya ingin mengingatkanmu, Aqsa.

Kau punya hidup juga.

- Kau berhak bahagia juga. - Bahagia kok.

Kata siapa aku tidak bahagia?

Tapi, maksudku, kalau bersamaku terus, kau cuma buang-buang waktu.

Buang waktu bagaimana?

Aku jadi semangat berbisnis sekarang.

Jadi belajar banyak hal.

Seperti…

- ilmu mengasuh anak buat Sela. - Sa.

Sela itu anakku, bukan anakmu.

Nanti, Sa. Nanti ada waktunya.

Aku yakin nanti kau akan bertemu dengan perempuan yang baik-baik,

datang dari keluarga yang baik-baik.

Yang sempurna, yang cantik.

Pantas kau jadikan istri.

Aku juga yakin nanti suatu saat

ketika kau punya anak, kau akan menjadi bapak yang baik.

Tapi kalau kau di sini terus bersamaku, bersama Sela, mau ke mana, Sa?

Sof, stop.

Sampai kapan mau merendahkan diri terus seperti ini?

Aku tidak merendahkan diri.

Apa kau dengar kata-katamu sendiri?

"Cari perempuan baik-baik, cari perempuan sempurna."

"Tidak akan ada masa depan kalau bersamaku."

Sof…

Aku maunya kau.

Sof…

Aku tidak bisa membayangkan teman hidupku siapa kalau bukan kau.

Aku menyayangimu, Sof.

Menyayangi Sela.

Dengan atau tanpa status.

Sepertinya…

besok kau tidak usah ke sini lagi, Sa.

Sekarang kau bilang kepadaku.

Bilang kepadaku, kau tidak membutuhkanku.

Aku pamit dulu sama Sela.

Lihat ini.

Jaga Mama ya.

Aku tidak akan terpikat lagi.

Terpikat itu tidak salah.

Yang penting sama orang yang pas.

Kalau ada apa-apa,

ingat, aku selalu ada untukmu.

Kenapa?

Melihatnya seperti itu.

Cantik.

Habis wudu.

Sekarang kau bilang kepadaku.

Bilang kepadaku, kau tidak membutuhkanku.

Tempat liburan yang tadi kau ajak

panas atau dingin?

Aku mau menyiapkan bajunya Sela.

Jangan pernah meninggalkanku lagi seperti tadi ya?

Aku akan selalu membutuhkanmu.

Maaf ya.

Apakah kau tahu

kalau aku menyayangimu?

Kok?

Kok ketawa?

Kenapa aku dipukul?

Tidak pakai sepatu lagi dia.

Takut kehilangan sekali, ya?

Menyebalkan sekali.

Sampai seperti itu.

Senang, 'kan?

Aku dari awal sudah tahu.

Kau saja yang gengsi.

Tapi kau tidak pernah bilang.

Sudah dimakan belum tadi?

Tentu saja belum.

Jadi, sayang ya?

- Ya. - Benar, 'kan?

- Hore! - Hore, pintar sekali.

- Enak. - Bapak!

Bapak.

- Lagi. - Ibu juga mau di sini.

Ini, Sayang.

Ampun, matanya seram.

Serius amat mainnya?

Hei, direkam sama Bapak itu.

- Lucu sekali. Sela! - Bapak!

Sayang.

Sela.

Coba lihat.

Dia tidak suka kena berewoknya Bapak.

Gara-gara Bapak.

Maaf. Maaf, Sayangku.

Asalamualaikum. Di mana Sela-ku?

- Alaikum salam. - Ada kado, Sayang.

Ya? Hei, Sayang.

Lihat ini.

Bapak ini…

Yang direkam anaknya saja, aku tidak.

- Asalamualaikum. - Alaikum salam.

Wah, keluarganya indah sekali.

- Ulang lagi. - Tidak. Tidak ada, sudah.

- Sudah ini saja. - Itu…

Pakai gelangnya. Ini dikasih Bapak.

Lucu?

Suka? Sela suka?

Sudah siap, Bapak?

- Serius seperti ini? - Ya.

Nah, sudah pas, 'kan?

Kau mau ke mana, Sela? Ya?

- Dia mau susu. - Dia malu sama bajunya.

- Di mana susunya? Ini masih ada ini. - Ambilkan.

Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.