Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Arabic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bengali
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Chinese (Traditional)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
Dutch
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Icelandic
Igbo
Indonesian
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malay
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romanian
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Spanish (Latin American)
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Mau minum lagi? Kopi?
Biar kuambilkan.
Tidak usah.
Kau pasti sudah menduga ini.
"Ada yang harus kita bicarakan"?
Biasanya aku bilang: "Kita mau ketemu?" tapi kali ini...
"Ada yang harus kita bicarakan."
"Ada yang harus aku sampaikan."
Kaubilang: "Ada yang harus aku sampaikan."
Masih kusimpan di kotak pesanku, kalau kau mau dengar.
Sudahlah, Undine.
Tidak usah!
Undine...
Aku mau kopi lagi.
UNDINE
Habis ini aku harus pergi.
Itu dia?
Aku harus pergi sekarang.
Kaubilang, kau mencintaiku.
Untuk selamanya.
Undine, sudahlah!
Kau tidak bisa pergi.
Kalau kautinggalkan aku, kau harus kubunuh.
Kautahu itu.
Jangan aneh-aneh.
Johannes?
Aku harus bekerja sekarang. Setengah jam lagi aku istirahat.
Nanti aku kembali.
Kau akan tunggu di sini dan bilang kepadaku bahwa kau tetap mencintaiku.
Kalau kau pergi, kau harus mati. Kau paham itu?
Apakah kau paham itu, Johannes?
Ya.
Pagi, Ibu Wibeau! - Pagi.
Ibu Wibeau!
Anda sudah ditunggu.
Ibu dan Bapak yang budiman!
Selamat datang atas nama senator untuk pengembangan kota dan pemukiman,
di sini, di Köllnische Straße 3 di distrik Berlin Tengah.
Nama saya Undine Wibeau.
Saya doktor bidang sejarah dan di senat saya bertugas memberi penjelasan bagi
tamu nasional dan internasional.
Saya diberi tahu bahwa Anda semua
mahir berbahasa Jerman, jadi saya akan memberi presentasi
dalam bahasa Jerman saja, jika Anda tidak keberatan.
Mari kita mulai!
Pertama-tama beberapa informasi tentang keempat maket di sini.
Yang paling utama tentu maket kota dari tahun 1991.
Setelah reunifikasi tahun 1990, kegiatan konstruksi mula-mula terfokus
kepada bekas pusat kota Berlin Timur, yang juga disebut pusat historis.
Untuk memudahkan evaluasi dampak proyek konstruksi terhadap tata kota
dibuatlah maket kerja ini.
Warna putih menunjukkan bangunan yang didirikan sebelum tahun 1990,
dan warna cokelat hasil pembangunan setelah itu.
Maket tanpa detail fasad menunjukkan bangunan yang belum jadi.
Model perencanaan Jerman Timur di kanan
menunjukkan rencana pembangunan di kawasan tengah Berlin Timur
sebelum tahun 1989.
Bisa dikatakan ini citra diri ideal
kota metropolitan sosialis itu menjelang keruntuhannya.
Perhatikanlah pengolahan fasad yang mendetail
dengan kaca mika warna-warni,
yang memberi pesona Jerman Timur tempo dulu kepada maket ini,
sejauh Anda meminati hal tersebut.
Sayangnya, maket ini sedang tidak utuh. Sebagian lagi ikut tur nostalgia Jerman Timur.
Anda tentu tahu bahwa keruntuhan Jerman Timur,
yang terkadang juga disebut revolusi, akan diperingati untuk kali ke-30.
Pada musim gugur nanti maket ini akan kembali lengkap
tapi saat ini, keseluruhannya hanya bisa dilihat dalam bentuk foto.
Maket yang disandarkan pada dinding di seberang
memperluas fokus ke kawasan pusat kota di bagian Barat.
Lewat detail-detail struktur interior blok
maket ini memberi gambaran yang baik
tentang hunian sewa zaman Kaisar Wilhelm yang khas Berlin
dari pertengahan abad ke-19, yang akan dibahas lebih lanjut nanti.
Terakhir, maket sentuh untuk para tamu tunanetra
dan mereka dengan keterbatasan penglihatan,
mencakup wilayah yang paling luas.
Tidak satu pun maket di sini
yang merepresentasikan luas wilayah Berlin sesungguhnya.
Maket sentuh pun hanya mencakup sebagian saja wilayah di dalam jaringan kereta pelaju.
Karena bentuknya yang khas pada denah kota,
kawasan ini dijuluki "kepala anjing". Luasnya 90 kilometer persegi,
atau kira-kira sepersepuluh luas keseluruhan kota Berlin.
Berlin dengan wujud dan luas
seperti sekarang didasarkan atas undang-undang Berlin Raya tahun 1920,
yang menjadikan Berlin, kota-kota tetangga dan daerah sekitarnya
sebagai satu kesatuan administrasi.
Untuk mencari titik asal Berlin, kita tidak perlu jauh-jauh.
Letaknya hanya beberapa ratus meter ke arah hilir sungai Spree dari sini,
tepatnya di tempat Jembatan Mühlendamm melintasi sungai Spree.
Adakah di antara Anda yang bisa menunjukkan lokasi kita sekarang?
Saya!
Di sini.
Apakah saya benar?
Ya.
Tanggal pendirian Berlin tidak diketahui dengan pasti.
Tapi besar kemungkinan struktur perkotaan pertama muncul
menjelang abad ke-13 sebagai tempat tinggal pedagang keliling jarak jauh.
Satu kali di sisi timur Berlin dengan gereja St. Nikolai,
lalu di pulau Kölln di sungai Spree dengan gereja St. Petri.
Kenapa di sini?
Nama "Berlin", yang berasal dari bahasa Slavia, bisa berarti "rawa",
tapi juga "tempat kering di rawa".
Johannes?
Johannes?
Undine!
Maaf?
Saya hanya mau bilang, presentasi Anda tadi luar biasa.
Saya biasanya di bawah air. Saya penyelam industri.
Saya periksa fondasi jembatan di sini. Dan sekarang lagi mau cari kopi.
Lalu saya pikir, siapa tahu Anda mau minum kopi sambil rehat.
Ponsel Anda jatuh.
Saya ambilkan, ya?
Saya tidak bermaksud mengganggu! Ini memang agak...
Ini memang agak lancang.
Tidak apa-apa! Saya permisi dulu.
Ya...
Jangan bergerak!
Sakitkah?
Saya cabut, ya?
Satu...
Ada satu lagi.
Kelihatannya dalam.
Seperti inikah penyelam industri?
Sialan.
Dasar brengsek kalian! Mudah-mudahan kalian punya asuransi?
Ada-ada saja.
Ada apa tadi? Kami sudah khawatir kau harus ditarik naik.
Aku lihat ikan wels. - Ikan wels yang itu?
Ya.
Benar-benar yang itu?
Si Gunther raksasa?
Oke! Jadi, sebesar apa dia?
Segini? Atau segini?
Atau malah segini? - Hai, kalian!
Cepatlah beres-beres.
Dua meter mestinya ada.
Ah, aku tidak percaya!
Hai!
Aku tidak mau kena macet dua jam di simpang susun Kamen.
Ayolah!
Tadi sempat direkam? - Kenapa?
Direkam atau tidak? - Ya, tentu saja.
Ada yang tidak beres? - Coba kulihat.
Dia lihat Gunther tadi. - Lihat siapa?
Gunther, si ikan wels. - Omong kosong apa lagi ini?
Christoph yakin betul.
Dia bilang, dia tidak percaya. - Aku bilang, aku tidak percaya.
Nontonnya sambil jalan saja.
Christoph tidak ikut. - Christoph tidak ikut?
Christoph tidak ikut. - Dia mau tetap di sini?
Sepanjang akhir pekan. - Aha. Ada apa?
Christoph menunggu Undine.
Itu urusan dia.
Ya ampun!
Gunther jelek amat. - Ya, itu dia.
Ayo, kita beres-beres.
Cepatlah! Aku tidak mau kena macet.
Aku bikin kacau.
Ada apa?
Hotelnya.
Meledak?
Kalau saja.
Aku paham.
Jahitannya sudah dicabut.
Sakitkah?
Jangan berhenti. - Enam jahitan.
Jangan berhenti!
Sekarang kau bisa masuk air lagi.
UNDINE
Hei! Undine
Undine. Hei!
Ah, ha, ha, ha,
stayin' alive, stayin' alive
Ah, ha, ha, ha,
stayin' alive, stayin' alive
Ah, ha, ha, ha,
stayin' alive, stayin' alive, stayin'...
Christoph! - Muntahkan! Maaf, tapi... - Aduh. Kau menyakitiku.
Tapi kau harus...
Aku tidak apa-apa.
Kau hanya kulepas sebentar karena ada yang mau kutunjukkan.
Ada namamu di bawah sana.
Kau bernyanyi apa tadi?
"Stayin' Alive".
Kami diajari begitu.
Karena iramanya.
Kau bisa beri aku nafas buatan lagi? - Apa?
Sekarang? - Tolonglah!
Kalau ada yang melihat kita?
Pasti disangka ada keadaan darurat. - Tolonglah!
Kubisa beri nafas buatan di rumah.
Kenapa kau berpakaian? - Aku harus ke stasiun kereta.
Oh, ya. Aku juga harus ke stasiun.
Christoph, kau tidur saja. - Jangan! Tunggu sebentar, ini...
Nah, beres!
Ayo!
Aku tidak tidur.
Kau ketiduran.
Aku hanya pejamkan mata sebentar. - Kau ketiduran!
Coba pejamkan mata. - Untuk apa?
Pejamkan mata!
Sudah berapa lama kita duduk di sini?
Tiga menit?
Lima menit!
Aku mencintaimu.
Sepuluh menit.
25 menit.
Keretanya datang.
Untukmu.
Nanti kutelepon.
Nanti kutelepon!
Ketika rencana pembangunan kembali Berlin Timur diajukan di Moskwa,
rencana itu ditolak mentah-mentah oleh para pemimpin politik.
Flat-flat buruh rancangan tim Scharoun dianggap terlalu bersahaja,
hunian keluarga berikut pekarangan terlalu borjuis,
sedangkan denah jalannya kurang megah.
Mereka meminta solusi representatif yang mencontoh Moskwa,
yang mampu mengekspresikan gagasan besar kebangkitan masyarakat
dan kemajuan sosial.
Mereka meminta komposisi arsitektur
yang sepadan dengan posisi ibu kota sosialis Jerman.
Sebuah pusat kota dengan poros besar dan gedung monumental,
bukan arsitektur kotak khas Amerika yang tanpa wajah dan sejarah.
Artinya, arsitektur yang sejalan dengan tradisi nasional!
Bukankah istilah nasional pada masa setelah keruntuhan Nasionalsosialisme
sudah kehilangan pamor sepenuhnya?
Menurut teori revolusi Soviet, tidak demikian.
Undine?
Undine!
Hei.
Undine, maafkan aku. Tapi kau tertidur pulas sekali...
Grup Leverkusen tiba jam 11 besok. Tolong urus Forum Humboldt juga, ya?
Gloria yang pegang Forum Humboldt. - Gloria lagi sakit.
Forum harus kupelajari dulu. Kalau Radialsystemnya Hobrecht bagaima...
Mereka minta Forum. Sepertinya mereka juga punya puri di sana dan
dan ada pemikiran serupa dari...
Mana bisa kutangani semuanya? - Kau pasti bisa.
Tapi perlu tertulis juga.
Kita pakai teks dari Gloria saja. - Gloria tidak bisa dihubungi.
Sampai besok, ya?
Terima kasih.
Selama tiga abad berikut, puri berulang kali diperluas dan dirombak,
sampai pada awal abad ke-18...
bentuk luarnya yang sekarang...
hampir seluruhnya terwujud.
Ehm... puri...
Puri Berlin bangunan profan gaya barok terbesar di utara pegunungan Alpen
dengan luas sembilan hektar...
Sembilan hektar dan...
Ehm, sembilan hektar...
Sembilan hektar dan...
Sembilan hektar dan 1200 ruangan.
Sembilan hektar dan 1200 ruangan, Sembilan hektar dan 1200 ruangan.
Sembilan hektar, 1200 ruangan,
sulit dihangatkan dan kurang disukai oleh pemiliknya.
Mula-mula letak puri di tepi barat kota.
Dengan adanya perluasan ke barat, puri semakin bergeser ke pusat kota,
menjadi titik tengah kota sekaligus acuan bangunan sekeliling,
kemudian titik awal jalan Unter den Linden,
yang merupakan Via Triumphalis Prusia.
Undine?
Christoph?
Unit kendali turbin 2 rusak dan...
... acuan bangunan sekeliling sekaligus titik awal
jalan Unter den Linden, yang merupakan Via Triumphalis Prusia.
Desain distrik Puri dengan katedral, gudang senjata, taman, dan museum lama
tentunya hanya dengan museum... hanya dengan puri sebagai acuan.
Aspek ini, yaitu rekonstruksi distrik Tengah yang hilang, kemudian menjadi
argumen utama dalam perdebatan seputar pembangunan kembali puri.
Sempat jatuh.
Oh, ya?
Kakinya patah. Tapi sudah kusambung dengan lem.
Aku sampai menangis karena kesal.
Aku sayang penyelam ini, dan aku kesal sekali, karena...
Karena dia jatuh.
Bekasnya tidak kelihatan.
Sambungannya bagus.
Kau lagi latihan?
Aku ada presentasi besok. - Ya? Tentang apa?
Forum Humboldt. - Jam berapa? - Jam 11.
Oh, jam 11. Oke. Jam segitu aku sudah harus bekerja.
Padahal aku mau ikut presentasimu.
Pasti bagus.
Maaf. - Kenapa?
Nanti kubereskan, oke? - Apa itu? - Nanti dindingnya kucat.
Ah, biar saja. - Aku jago mengecat.
Masa bodoh dindingnya!
Tunggu dulu!
Kau bisa presentasi sekarang?
Apa?
Ayolah!
Sekarang?
Ya.
Tapi ini membosankan. - Tidak, menurutku...
Sama sekali tidak...
Kau menceritakan hal-hal cerdas.
Dan begitu banyak! Dengan cara yang bagus.
Mula-mula...
letak puri di tepi barat kota.
Dengan adanya perluasan ke barat, puri semakin bergeser ke pusat kota,
menjadi titik tengah kota sekaligus acuan bangunan sekeliling,
kemudian titik awal jalan Unter den Linden,
yang merupakan Via Triumphalis Prusia.
Desain distrik puri memiliki katedral, gudang senjata,
taman, dan museum lama
hanya dengan puri sebagai acuan.
Aspek ini, yaitu rekonstruksi distrik Tengah yang hilang, kemudian menjadi
argumen utama dalam perdebatan seputar pembangunan kembali puri.
Pada Perang Dunia II, sebagian besar puri hancur,
tetapi pada tahun-tahun pertama pascaperang, beberapa bagian
digunakan antara lain sebagai ruang pameran.
Kalau saja perhatian dan keterlibatan pimpinan SED lebih besar,
pembangunan kembali puri tentu dimungkinkan,
seperti terbukti pada pembangunan kembali Puri Charlottenburg di Barat.
Tetapi pihak perencana kota Berlin Timur
mementingkan pembuatan lapangan rapat umum,
yang, menurut Walter Ulbricht,
akan mencerminkan semangat rakyat untuk berjuang dan bangkit kembali.
Karena itulah pada musim gugur 1950,
di tengah hujan protes, sisa-sisa puri diledakkan,
karena, menurut desas-desus,
tidak mungkin puri dan katedral diledakkan dua-duanya.
Lahan kosong bekas peledakan pada awal tahun 70-an
agak terisi dengan pembangunan Istana Republik.
Namun tetap saja ada kekosongan sureal yang menganga di tempat sentral ini,
setidaknya dalam pandangan Barat,
dan masih tersisa sensasi seperti nyeri pasca-amputasi.
Apakah di antara Anda ada yang bisa menunjukkan lokasi
yang dulu ditempati oleh puri?
Anda mungkin?
Saya?
Mari, silakan! Nanti saya bantu.
Ada bayangan?
Di situ.
Lumayan juga.
Setelah reunifikasi segera muncul proses diskusi
seputar pemanfaatan terbaik untuk lokasi di pusat kota itu.
Pada 2002 parlemen federal menyetujui bangunan baru
yang meniru fasad puri yang asli.
Keputusan rekonstruksi puri ini pada dasarnya berkat sebuah muslihat.
Pada 1993 Perkumpulan untuk Rekonstruksi Puri memprakarsai
sebuah simulasi tampak muka 1:1, agar para warga Berlin, khususnya,
menyadari apa artinya kehilangan bekas pusat kota mereka.
Dan berhasil: Masyarakat berubah sikap
mendukung rekonstruksi puri sesuai kondisi historis,
untuk selanjutnya digunakan sebagai museum dengan nama Forum Humboldt.
Ilmu arsitektur modern mengajarkan
bahwa bentuk bangunan seyogianya
merupakan jawaban terbaik terhadap persyaratan menurut kegunaan bangunan.
"Bentuk mengikuti fungsi."
Di pusat kota Berlin kini ada museum yang dibangun pada abad ke-21...
dalam wujud istana penguasa abad ke-18.
Yang menyesatkan di sini adalah tesis bahwa ini bukan perbedaan hakiki.
Ini kira-kira sama dengan menyatakan
bahwa kemajuan itu mustahil.
Ini sebuah pernyataan, sekali pun kita tidak menyukainya.
Saya juga kurang paham.
Kita belok kanan sini.
Mereka duduk, dan bertukar kenangan...
Kemudian, yang jelas...
... mereka berciuman. Mereka berbalas ciuman.
Dan si perempuan diam saja...
... Hamburg-Stasiun Utama,
Keberangkatan pukul 16.15 dari jalur 5.
Penumpang yang terhormat di jalur 7
dipersilakan segera naik!
Berhati-hatilah di pintu
dan ketika kereta berangkat!
Telepon aku, ya?
Hei!
Kau ada waktu sebentar? - Tidak.
Hei!
Presentasimu kemarin dimulai jam 11.
Jadi masih ada waktu.
Soal...
Soal Nora itu salah besar.
Aku minta maaf.
Aku akan tinggalkan dia.
Sebentar! - Johannes, aku harus pergi.
Begini saja, jam berapa kau istirahat?
Aku tunggu di seberang, di kafe. Di kafe kita, ya?
Sampai nanti.
Ibu dan Bapak yang budiman!
Selamat datang atas nama senator untuk pengembangan kota dan pemukiman,
di sini, di Köllnische Straße 3 di distrik Berlin Tengah.
Nama saya Undine Wibeau. Saya doktor bidang sejarah
dan bertugas mengantar dan memberi penjelasan bagi tamu nasional dan internasional.
Selama 30 menit berikut kita akan membahas maket-maket di sini
untuk memperoleh gambaran singkat mengenai pengembangan kota Berlin
dengan memberi perhatian khusus
kepada sejarah Puri Kota Berlin.
Pergilah. Aku tidak ada rasa lagi untukmu.
Aku sudah jatuh cinta lagi.
Aku baru sadar, aku belum pernah melihatmu dengan baju kantor.
Kau kelihatan luar biasa.
Seksi!
Cocok untukmu. Ayolah!
Duduklah.
Ayolah!
Kau harus cepat balik?
Tapi minum cappuccino sempat, kan? Satu cappuccino untuk nona ini!
Nona ini tidak bisa pesan cappuccino di sini.
Maaf? - Nona ini tidak dilayani di sini.
Dia dilarang masuk. Dan dia juga tahu, bukan begitu?
Tiga menit, terus silakan angkat kaki.
Ada yang terlewat olehku?
Begini,
aku baru telepon ke Bleiche dan pesan kamar yang itu di sana.
Kau masih ingat?
Yang menghadap ke kolam besar. Kamar kita.
Kau paling suka kamar itu.
Aku tunggu di sini, dan begitu kau selesai, kita langsung berangkat.
Halo? - "Stayin' Alive".
Apa?
Halo?
Aku lagi putar lagu itu.
Aku sudah dengar semua versi cover, tapi aslinya tetap paling bagus.
Undine?
Ada yang perlu kutanyakan.
Di kafe itu,
maksudku, kafe tempat kita diusir, yang ada akuarium...
Waktu itu aku menyusulmu ke sana,
pas jeda di presentasimu. - Christoph? Christoph!
Tunggu sebentar. Christoph? - Halo?
Christoph, sebentar. Suaramu kurang jelas.
Kau dengar aku? - Ya, coba ulangi.
Kau menunggu seseorang waktu itu?
Orang tertentu?
Aku tidak menunggu siapa-siapa.
Orang yang saling menyayangi harus bisa saling jujur.
Aku tidak menunggu siapa-siapa.
Kau bohong.
Tidak!
Tadi pagi, waktu kita jalan ke stasiun, kau masih ingat?
Ada laki-laki dan perempuan.
Kau menoleh kepada laki-laki itu. Aku merasakan detak jantungmu.
Waktu laki-laki itu lewat, jantungmu berhenti berdetak.
Diakah? - Christoph, aku bingung... - Diakah yang kautunggu?
... harus bilang apa.
Kau berbohong kepadaku. - Tidak!
Ti... Christoph!
Halo! Ini kotak pesan nomor...
Halo! Ini kotak pesan nomor...
Christoph?
Ya,
memang ada seseorang yang kutunggu di kafe itu.
Namanya Johannes.
Dia yang waktu itu kutunggu.
Waktu itu aku mencintai dia. Dan dia tidak datang.
Aku kira, aku takkan bisa hidup tanpa dia.
Dan kau benar!
Aku memang menangis.
Dan laki-laki yang berpapasan dengan kita, memang itu orangnya.
Dan bisa jadi, jantungku sempat berhenti sejenak.
Tapi habis itu berdetak lagi, di bawah tanganmu!
Dan aku jadi sadar, bahwa...
bahwa bukan dia yang kutunggu, bahwa kau yang kutunggu, dan...
itu membuatku bahagia.
Lebih bahagia dari kapan pun.
Telepon aku, ya?
Lari! - Aku tidak sanggup lagi.
Halo, maaf! - Christoph? - Halo!
Coba, tolong sebentar?
Nona, harap berhenti. - Lepaskan saya.
Hei...Lepaskan saya! Christoph!
Hei...
Anda Undine? - Ya! Suruh mereka lepaskan saya.
Tolong ditahan terus. - Apa-apaan ini?
Christoph kecelakaan.
Turbin mendadak membuka.
Kami tidak sempat menariknya ke atas.
Dia sangat lama tanpa oksigen. Kaki kanannya terjepit turbin.
Mungkin ada masalah unit kendali... - Rumah sakit mana?
Saya turut berduka, Undine. - Rumah sakit mana?
Rumah sakit kecelakaan Solingen. Mereka ahlinya.
Kalau Anda bisa tunggu sebentar, saya akan antar Anda ke sana.
Undine?
Dia dua belas menit tanpa oksigen.
Dia mati otak, katanya.
Dia sempat bilang sesuatu?
Dia sudah tidak sadar waktu kami akhirnya bisa
mengangkat dia.
Dia dua belas menit... - Maksudku, sebelumnya.
Sebelumnya?
Dia meneleponku semalam.
Semalam? - Ya, dan aku...
Aku berbohong kepada dia.
Semalam?
Kalian tidak bicara di telepon semalam.
Apa?
Kalian tidak bicara di telepon semalam.
Ya, aku, ehm...
Kami...kami bertengkar di telepon dan aku...
Jam 14.30 kemarin sore dia mulai menyelam.
Jam 14.57 kami mengangkat dia dari air.
Jam 15.40 dia dinyatakan mati otak di rumah sakit ini.
Jadi jangan mengada-ada, ya?
Tidak mungkin. Semalam kami bicara lewat telepon.
Dia sudah meninggal. Dan kau malah membual.
Undine...
Christoph...
Kau tidak lapar?
Tinggal enam kali.
Itu maksudnya gaya kupu-kupu?
Johannes, hampir jam sembilan. Ayo! - Sebentar.
Orang tuamu sudah mau datang. Cepatlah.
Ya.
Johannes?
Johannes!
Undine!
Undine!
Ya?
Saya mau ketemu Undine.
Maaf, bahasa Jerman saya...
Saya mencari Undine.
Saya tidak kenal Undine, maaf. - Dia di sini?
Anda tidak dengar saya? - Saya harus bicara dengan Undine.
Maaf, saya tidak bisa membantu.
Saya harus... Undine? - Jangan begini!
Aku harus bicara dengan dia! Undine? - Miguel! - Undine?
Anda tidak bisa begini!
Undine?
Tenang, Bung. Tenang. Dengarkan!
Kami tidak punya uang, oke? Pergilah, tidak perlu polisi. - Anda lihat itu?
Apa?
Anda kira itu darah?
Mungkin... mungkin anggur merah. Kelihatannya seperti anggur merah.
Memang anggur merah. Saya yang tumpahkan.
Itu bekas kami. Dan...
saya datang untuk membersihkan noda itu.
Dengar...
Ini apartemen sewa jangka pendek.
Teman Anda mungkin pernah di sini. Tapi kami sudah tiga bulan di sini.
Saya... saya ikut prihatin, Bung!
Kedua, para reformis pembangunan perumahan lama tidak tahu
akar masalah perumahan di Berlin.
Tingginya biaya pembebasan lahankah? Tingginya biaya pembangunankah?
Tingginya biaya pendanaan di pasar hipotekkah?
Ataukah praktik tertentu berbasis spekulasi di pasar properti?
Diskusi seputar semua pertanyaan itu berlangsung hampir 50 tahun,
sampai diperoleh kata sepakat:
Faktor penentunya adalah nilai tanah.
Dan nilai itu ditentukan dengan memasukkan ekspektasi keuntungan
pada saat penjualan.
Semua upaya reformasi sosial terhadap pembangunan perumahan
menemui jalan buntu selama puluhan tahun,
terlepas dari segala diskusi, pidato, pameran, perjanjian, dan protes.
Sepanjang zaman Kaisar Wilhelm tidak terjadi perubahan.
Ketika zaman itu berakhir pada tanggal 9 November 1918,
semuanya berubah.
... 1571/72 di istana...
Saya ikut presentasi Anda dan saya... - Kita segera mulai lagi.
Maaf, saya butuh jeda ini.
Radialsystem bukan keahlian saya, jadi... - Saya mencari Undine.
Undine Wibeau? - Ya.
Maaf, sudah beberapa bulan dia tidak kelihatan.
Mungkin Anda tahu di mana saya bisa mencarinya?
Entahlah! Bukankah dia tinggal di Hackescher Markt,
di salah satu gedung apartemen? - Ya, saya sudah ke sana.
Mungkin Anda tahu seseorang yang kenal dia?
Dia tenaga lepas. Saya...
Saya juga tidak tahu. Nah!
Sudah waktunya.
Saya mencari dia ke mana-mana, tapi tidak berhasil menemukannya.
Maaf, saya ingin membantu Anda, tapi... Kita lanjut sekarang, ya?
DUA TAHUN KEMUDIAN
Jochen menelepon.
Dia ada order.
Dua turbin di Lingese.
Katanya, kau tidak perlu ikut. Dia bisa mencari pengganti
dari Hamburg, si Ludger Feiwel. Katanya lagi lowong.
Biar aku saja.
Nanti kutelepon dia.
Aku harus minum ini, dan kau mau cari masalah lagi.
Hei.
Itu sudah lama sekali.
Semuanya pasti baik-baik saja.
Ada yang bergerak. - Yang benar saja!
Ada yang bergerak. - Jangan aneh-aneh! - Sumpah.
Minggu ke-16. Mana ada yang bergerak!
Luar biasa. Gerakannya hebat sekali.
Ya ampun!
Sedang apa dia?
Kau melihat sesuatu?
Tidak.
Tarik dia ke atas!
Ada apa?
Tidak ada apa-apa.
Aku menjatuhkan sesuatu. Tapi tidak apa-apa!
Aku sempat takut.
Ada apa tadi?
Aku tidak tahu.
Sambungan lasnya rapi.
Semuanya beres.
Undine!
Christoph?
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.