Afrikaans
Akan
Albanian
Amharic
Armenian
Azerbaijani
Basque
Belarusian
Bemba
Bihari
Bosnian
Breton
Bulgarian
Cambodian
Catalan
Cebuano
Cherokee
Chichewa
Chinese (Simplified)
Corsican
Croatian
Czech
Danish
English
Esperanto
Estonian
Ewe
Faroese
Filipino
Finnish
French
Frisian
Ga
Galician
Georgian
German
Greek
Guarani
Gujarati
Haitian Creole
Hausa
Hawaiian
Hebrew
Hindi
Hmong
Hungarian
Icelandic
Igbo
Interlingua
Irish
Italian
Japanese
Javanese
Kannada
Kazakh
Kinyarwanda
Kirundi
Kongo
Korean
Krio (Sierra Leone)
Kurdish
Kurdish (Soranî)
Kyrgyz
Laothian
Latin
Latvian
Lingala
Lithuanian
Lozi
Luganda
Luo
Luxembourgish
Macedonian
Malagasy
Malayalam
Maltese
Maori
Marathi
Mauritian Creole
Moldavian
Mongolian
Myanmar (Burmese)
Montenegrin
Nepali
Nigerian Pidgin
Northern Sotho
Norwegian
Norwegian (Nynorsk)
Occitan
Oriya
Oromo
Pashto
Persian
Polish
Portuguese (Brazil)
Portuguese (Portugal)
Punjabi
Quechua
Romansh
Runyakitara
Russian
Samoan
Scots Gaelic
Serbian
Serbo-Croatian
Sesotho
Setswana
Seychellois Creole
Shona
Sindhi
Sinhalese
Slovak
Slovenian
Somali
Spanish
Sundanese
Swahili
Swedish
Tajik
Tamil
Tatar
Telugu
Thai
Tigrinya
Tonga
Tshiluba
Tumbuka
Turkish
Turkmen
Twi
Uighur
Ukrainian
Urdu
Uzbek
Vietnamese
Welsh
Wolof
Xhosa
Yiddish
Yoruba
Zulu
Umi, kenapa kalau perempuan yang melawan
disebutnya Wanita Ahli Neraka?
Kalau dalam bahasa Arab,
"ahli" artinya berbeda.
- Oh. - Artinya "Penghuni".
"Ahli" artinya jagoan juga, 'kan, Umi?
- Memangnya Farah mau jadi jagoan? - Mau!
Tapi Farah takut jadi penghuni Neraka.
Farah mau jadi jagoan yang bisa melawan Neraka yang ada di dunia,
biar nanti Farah bisa ketemu Ibu dan Bapak Farah di Surga.
…Ini pernah disabdakan oleh Rasulullah,
bahwa beliau mengingatkan kepada para semua perempuan…
Astagfirullahaladzim.
"Bismillahirahmanirahim…"
- Aduh… - …Wahai para perempuan,
bersedekahlah!
Karena sesungguhnya aku diperlihatkan kebanyakan penghuni Neraka
adalah kalian, kaum perempuan.
Sungguh, siksa Neraka itu teramat pedih.
Makan bangkai adalah salah satunya.
Hal itu karena perempuan suka sekali bergunjing.
"Tidak bisa menjaga lisan mereka."
Aduh. Astagfirullahaladzim.
Din…
Makanya, jangan dengarkan yang aneh-aneh.
Sudah jarang main HP, sekalinya main HP, dipakai untuk dengarkan yang aneh-aneh.
Mimpi buruk, 'kan?
Kau yang aneh.
Aku ini mendengarkan ceramah. Masa dibilang aneh?
Idih…
Ih…
Tatapannya seram sekali.
Kenapa?
Aku lagi… Aku lagi dengarkan ini, Mbak… Apa…
Nanti buat murajaah ke Umi,
jadi, aku harus hafalkan dulu.
Sungguh.
Ya sudah, aku mau dengarkan juga.
Kalau itu, tidak boleh. Itu tidak bisa.
- Tidak! Tidak mau! - Mbak mau dengarkan. Mana?
- Mbak tidak boleh mendengarkan. - Sini. Sini, tidak?
Tidak, tunggu! Menyerah!
Pantas saja jarang murajaah sama Umi.
Kau ini, Din, sudah sering kuberi tahu.
Jangan kebanyakan mendengarkan lagu.
- Kau menjadi lalai. - "Menjadi lalai."
Kau bicaranya seperti Umi. Aku hanya dengar sesekali saja.
Sering.
Sebenarnya, kalau boleh memilih, Mbak,
aku mau menjadi penyanyi.
Yah…
Suaramu memang bagus, Din.
Masyaallah, dipuji.
Tapi baiknya jadi qari aja.
Nanti, kalau mau bernyanyi,
sama anak saja.
Bagus, Din, dapat pahala.
Itu bukan pilihan, Mbak. Aku sudah tahu.
Ih! Apa-apaan kau ini?
Sudah, permisi!
- Tidak. - Ini ranjangku. Permisi, tidak?
- Din… Permisi, tidak? - Tidak mau.
Abi ingin setelah mereka lulus, mereka sekolah di luar. Inginnya.
Kalau ada rezeki.
Amin. Insyaallah.
Nanti, Abi bicara sama Wahab, Umi tolong buatkan teh, ya.
Tidak pakai gula, 'kan, Bi?
- Pakai gula. - Diabetes, Bi.
- Astagfirullah, sedikit saja. - Tidak.
Laa ilaaha ilallah.
Halo!
- Masyaallah. - Asalamualaikum, Ustaz.
Wa'alaikumsalam warahmatullah.
- Sehat, Wahab? - Alhamdulillah.
Masyaallah, makin segar sekarang.
Lagi sibuk kampanye?
Begitulah.
Wahab, kalau boleh aku kasih nasihat,
sebelum memimpin sebuah daerah,
belajarlah memimpin keluarga.
Ya, itulah, Ustaz, salah satu alasanku datang ke sini.
Untuk meminta wejangan terkait masalah pendamping.
Masyaallah. Ya sudah.
- Lirik-lirik. - Kita bicara di dalam.
- Apa-apaan kau? - Biar lebih nyaman.
- Ayo, Mbak. Kepo. - Kulihat, alhamdulillah
kesadaran para warga agar anak mereka paham agama itu…
- Bawa. Ini aku saja. - …sekarang lebih matang.
- Bukan begitu, Ustaz? - Alhamdulillah.
- Itu sudah maunya Allah. - Nah…
Ya, selain soal dana bantuan buat pesantren yang tadi kubahas,
aku sudah siap, Ustaz, untuk memiliki pendamping.
Ajib, masyaallah.
Niat menyempurnakan setengah agama.
Ya.
Wanita yang bisa menjaga martabatnya,
bisa juga menjaga lisannya…
Dan, tentu,
yang bisa, bersedia,
untuk mendampingiku.
Masyaallah.
Kenapa pada mengintip?
Bukan mahram kalian. Tidak boleh begitu.
Tidak. Ini menyapu, Umi.
Ayo, sekarang bubar. Ayo.
Kau juga bubar.
Ayo, Semuanya.
Ya, Umi.
Alhamdulillah, ya.
Semua santriwati di sini,
mereka semua sudah tahu,
bahwa selain kepada ibunya,
Surga utama perempuan itu adalah pada suaminya.
Umi.
Lo, kau masih di sini?
Umi, Mas Wahab katanya cari istri, ya?
Kalau Farah menikah, kira-kira Umi setuju, tidak?
Farah yakin tidak mau lanjut kuliah dulu?
Ya, kuliah bisa sambil jalan, Umi.
Lagi pula, sudah lama, Umi,
Farah menantikan waktu untuk mengabdi dalam rumah tangga.
Umi sendiri yang bilang Surga ganjarannya.
Menjadi istri bukan sambilan. Tugasnya berat.
Apalagi ini mendampingi orang penting.
Memangnya kau siap?
Insyaallah Farah siap, Umi.
Umi…
Umi mau, 'kan, lihat Farah
jadi istri yang salihah?
Lalu, nanti bisa masuk Surga bersama Umi.
Rekomendasikan Farah ya, Umi?
Ayo ke sana dulu. Ayo.
- Mas, ini dipakai dulu. - Oh.
Terima kasih, Istriku.
Sudah siap?
Dulu, waktu ayahku baru mulai usaha di daerah sini,
beliau selalu menegaskan
bahwa semua usahanya itu
untuk kesejahteraan warga.
Tujuannya satu.
Kepentingan kita bersama.
Tapi aku sadar
itu semua akan susah sekali terwujud
tanpa bantuan dari Bapak-Bapak,
tanpa bantuan dari Ibu-Ibu,
dan tentu saja tanpa bantuan dari
istriku yang tercinta.
Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Saudara, Saudari sekalian,
perkenalkan, istriku, Farah.
Aku yakin, di setiap laki-laki hebat,
pasti ada wanita yang kuat.
Dan dengan adanya istriku, mendampingiku…
Farah.
…aku yakin, aku bisa memenangkan pertempuran ini.
Lalu, aku berjanji
- aku akan memberikan kehidupan… - Farah.
…yang lebih baik bagi para wanita di kampung ini.
Bangkit bersamaku!
Bangkit bersama Wahab!
Bangkit bersama Wahab!
Bangkit bersama Wahab!
Bangkit bersama Wahab!
Bangkit bersama Wahab!
Aduh!
Tenang, Ibu-Ibu. Tenang, Semua.
- Bu… Ibu tenang. - Ada apa, Bu?
- Bu, ditekan. - Bu Dewi…
Ada apa? Ada apa ini?
Astagfirullahaladzim.
Hei, Sayang, ada apa?
Tidak.
Tidak apa-apa, Sayang.
♪ Bapak-Bapak pilih Agung! ♪
♪ Ibu-Ibu pilih Agung! ♪
♪ Anak muda pilih Agung! ♪
♪ Karena Agung pilihanku! ♪
Pendukungnya heboh, ya.
Ya, Pak Agung dan keluarganya asli sini.
Sudah lama mereka menguasai daerah sini.
Sudah beberapa kali juga dia jadi Bupati.
Tidak tahu juga kenapa selalu seperti itu.
Kalau Pak Setyo?
Kalau Pak Setyo kandidat basa-basi.
Buat jadi pilihan saja bagi orang-orang yang sudah lelah memilih Pak Agung.
Itu pun juga tidak banyak yang memilih Pak Setyo.
Tapi, Mas…
Kalau lagi masa-masa kampanye begini,
mungkinkah salah satu dari mereka
berbuat…
…hal-hal yang aneh?
Hal-hal musyrik begitu?
Mengapa kau bertanya hal seperti itu?
Tadi seperti aneh begitu, Mas, ada ibu-ibu yang mimisan.
Terus juga…
Sudahlah. Lupakan.
Tidak. Tapi aku yakin
Mas sudah menjadi lawan yang sepadan buat mereka.
Dan insyaallah kali ini Mas pasti menang.
Kalaupun aku bisa menang…
Itu karena sekarang aku memilikimu.
Allah telah menggantungkan kewajiban.
Yang pertama, ketaatan dan mencari rida suami.
Namun, banyak ibu-ibu yang melawan suaminya karena anak.
Akan tetapi, yang lebih parah adalah mereka yang mengutamakan
keselamatan dunia dibandingkan akhirat.
Itu poin penting karena setelah menikah,
ketaatan yang tadinya kepada ayah, pindah kepada suami.
Hadis ini sangat kuat, itu sebabnya hendaklah para perempuan
untuk menjaga aib suami, taat, dan patuh untuk menjaga rida suaminya.
Dari hadis tadi, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu perlu merenungkan.
Bapak-Bapak juga sampaikan kepada anak perempuannya,
kepada saudarinya, perlu dibahasakan.
Yang pertama, dari hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW berkata,
"Bila wanita, istri, menjaga lima waktu salatnya."
Coba Ibu-Ibu renungkan dengan baik, ya.
Tanpa disebutkan salat sunah.
Ibu-Ibu kalau salat sunah berarti ekstra.
Lima waktu salat saja yang wajib.
Berpuasa Ramadan.
Tidak disebutkan puasa Senin dan Kamisnya.
Mas.
Mas, jangan.
Nanti dilihat Embok.
…jaga waktu salatnya dan puasa Ramadannya.
Mas?
Dan terakhir, dia menaati suaminya.
Ya. Menaati suaminya.
Maka, pada saat dia meninggal dunia…
Mas?
…dia dapat masuk dari delapan pintu Surga. Dia boleh pilih.
Mas Wahab?
Ibu-Ibu perlu tahu, delapan pintu Surga itu,
pintu ke delapan itu pintu tertinggi.
Aku dan Bapak-Bapak di sini,
kalau kita ingin masuk lewat sana,
harus masuk ke dalam empat golongan.
Golongan pertama…
Bu Farah.
Embok.
Susunya mau kuganti, Bu?
Tidak apa-apa. Tidak usah.
Bu Farah.
Mau kubantu?
Tidak usah, Embok. Terima kasih, ya.
Hai.
Mas.
Mas mengagetkan saja.
Mas dari mana?
Dari… wah.
Kelihatannya enak.
Mas.
Kalau itu, waktu Mas umur berapa?
Oh, itu lebih dari…
Dua puluh tahun yang lalu.
Rumah yang di foto juga sudah
bukan milikku lagi.
Aduh!
Maaf. Maaf, Sayang.
- Yah… Aduh… - Aduh…
Maaf, ya.
Tidak apa-apa.
Aduh.
- Maaf, ya. - Tidak apa-apa.
Aduh…
Mas, aku kepikiran ide buat programmu.
Jadi, kau pernah bilang
programmu itu salah satunya pemberdayaan perempuan.
Ya.
Nah, aku punya ide, Mas.
Bagaimana kalau kita bawa edukasi ke teman-teman santriwati…
Bagaimana kalau kau mengajari mereka untuk masak?
- Kok masak? - Ya.
Salah satu cara wanita bisa masuk Surga adalah dengan masak buat suami.
Bagus, 'kan,
kalau para wanita banyak masuk Surga karena belajar masak?
Allahu Akbar.
Farah.
Tidak semua orang menyadari kejahatan yang mereka buat.
Dia yang berdusta, dia yang bertelanjang,
dia yang kufur, dan dia yang berkhianat.
Tapi setiap kejahatan pasti ada ganjarannya.
Aduh!
Apa ini?
Asalamualaikum, Sayang.
Alaikum salam.
Mas…
Kau semalam pulang jam berapa?
Subuhnya di mana?
Maaf tidak menemanimu sampai tidur semalam.
Ada rapat dadakan.
Ada friksi sama tim petahana.
Tapi kau tidak apa-apa, 'kan?
Sayang.
Hari ini kau akan dirias sama Embok.
Mas…
Hari ini…
Aku perasaannya tidak enak, Mas.
Embok.
Embok.
Padahal aku bisa dandan sendiri lo, Embok.
Merepotkan segala.
Sudah permintaan, Bu Farah.
Memang harus semenor ini ya, Embok?
Mbak Farah!
Mbak Farah!
- Umi! Mbak Farah datang! - Din.
- Masyaallah. - Asalamualaikum, Ustaz.
Alaikum salam. Sehat?
- Alhamdulillah, sehat. - Masyaallah.
- Farah. - Abi.
- Masih ada wudu? - Masih ada wudu. Abi mau mengajar.
Ayo, masuk.
Ayo.
- Umi! - Ustaz.
- Apa ini? - Buat beduk.
- Farah… - Semoga berkenan.
Apa kabar, Nak?
Ini kukuliti sendiri.
Masyaallah. Terima kasih banyak, Wahab.
- Baik, alhamdulillah, Umi. - Sebentar, tunggu Umi.
- Alhamdulillah. - Mbakku!
- Umi. - Wahab.
Masyaallah, cantik sekali.
- Bisa saja. - Mbak Farah.
Mbak Farah makin cantik saja, ya.
- Alhamdulillah. - Mbak Farah!
Kata Rasulullah SAW,
"Aku pernah melihat Neraka."
"Tapi aku tidak pernah melihat yang di dalam Neraka,
penduduk terbanyaknya adalah para wanita."
Hadis ini juga terkenal dengan hadis Wanita Ahli Neraka.
Lalu, apa saja ciri-ciri Wanita Ahli Neraka?
- Ya Allah. Materinya ini lagi, Mbak. - Pertama, dia yang durhaka
- terhadap suami. - Bosan.
Kedua, dia bersolek berlebihan.
Yang ketiga, wanita yang keluar rumah tanpa izin suami.
Yang keempat, dia mengumbar aib suaminya.
- Dan yang kelima… - Dan yang kelima.
- …wanita yang berpakaian, tapi telanjang. - Wanita yang berpakaian, tapi telanjang.
- Naudzubillah min dzalik. - Naudzubillah min dzalik.
Ya ayyuhal ahbab.
Wahai para pencinta baginda Muhammad SAW.
Astagfirullahaladzim.
Dan kita para laki-laki…
Mbak! Mbak Farah!
Apa?
Astagfirullahaladzim, Mbak Farah!
- Kenapa? Kenapa di sini? - Din!
Ada apa?
Berdiri dulu, ya. Ya? Ayo.
- Jalankan amalannya. - Umi.
Tolong tukar amalannya, Umi.
Kenapa memangnya?
Ini yang kemarin lo.
- Masa? - Ya.
Astagfirullahaladzim, lupa. Sebentar. Nata!
Sudah, ayo.
Mbak Farah kenapa?
Lagi kurang enak badan?
Terima kasih, Umi. Mari.
Sudah, duduk dulu.
Lo, mimisan?
Astagfirullah. Umi, tolong tisu. Wahab mimisan.
- Astagfirullahaladzim. Ya, sebentar, Bi. - Mas!
Mas Wahab.
Astagfirullahaladzim.
Astagfirullahaladzim.
Mas, kau merasa akhir-akhir ini ada yang aneh tidak?
Aneh bagaimana?
Yah…
Aku merasa ada yang tidak beres, Mas.
Aku cuma takut ada yang mau mengganggu kita,
sampai ke rumah tangga kita, Mas.
Ini pasti karena kejadian tadi, ya?
Itu salah satunya.
Tapi bukan cuma itu.
Beberapa hari ini,
aku sering melihat sosok perempuan, Mas.
Aku juga tidak tahu dia siapa.
Aku juga tidak mau menuduh siapa-siapa karena…
Ya, takut dosa, suuzan sama orang lain.
Tapi bagaimana kalau itu ternyata lawanmu
yang tidak menyukaimu dan mau mengerjaimu, Mas?
Aku khawatir denganmu.
Aku hanya ingin membantumu, Mas.
Mas…
Mas!
Kunci semua pintu.
Siapkan semua yang diperlukan.
Mas…
Kau mau bantu aku?
Aku bisa bantu apa?
Mas… Mas Wahab!
Mas Wahab.
Aku mau kau tunggu aku di sini.
Mas.
Sekarang.
Mas Wahab.
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna
dari kejahatan ciptaan-Nya.
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna
dari kejahatan ciptaan-Nya.
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah…
Aduh…
Mas Wahab?
Mas?
Mas?
Mas Wahab?
Mas?
Mas Wahab?
Embok?
Mas Wahab?
Mas Wahab?
Mas?
Astagfirullahaladzim! Ya Allah, Mas!
Mas! Ini apa?
Itu…
Ya Allah, Mas!
Mas, istigfar! Astagfirullahaladzim.
Mas, Ya Allah. Astagfirullahaladzim.
Mas… Sadar, Mas.
- Asalamualaikum, Bapak-Bapak. - Alaikum salam.
Ini ada sedikit makanan dari kajian tadi.
- Terima kasih. - Sama-sama.
- Ya, mari. - Ya, Mbak.
Mbak Farah?
Mbak!
Mbak Farah, tunggu, Mbak!
Mbak Farah, tunggu!
Mau ke mana, Mbak?
Mbak…
Hei.
Bagaimana tidurnya? Nyenyak?
Mas…
Ya ampun, maaf. Aku tidak sempat menyiapkanmu sarapan.
Sini, duduk.
Kau mau apa? Kopi?
Teh?
Mas…
Ada tamu.
Ada apa?
Pak Agung meninggal, Pak.
Kapan?
Infonya tadi pagi, Pak.
Info dari posko, Pak.
Sekarang jenazah ada di rumah duka, Pak.
Terus. Terus. Stop.
Ibu Agung.
Ibu.
Terima kasih.
Mas… Mas Hendra sudah datang.
Aku temui Hendra dulu. Kau di sini dulu, ya.
Farah.
Kau yang bunuh dia!
Bismillahirrahmanirrahim.
Apa?
Kau yang bunuh saya!
Farah!
- Bukan aku. Bukan! - Farah, istigfar.
- Farah. - Kenapa kau, Nak?
Farah, istigfar, Nak.
- Istigfar. - Ayo, kita pulang.
Farah!
Farah.
- Mas. - Farah!
- Farah! - Kelelahan dia, Umi.
Akhir-akhir ini lagi banyak kejadian yang berhubungan sama kampanye.
Mungkin lagi cemas saja.
Wahab, kalau boleh aku tahu, kejadian apa?
Aku harus bawa istriku pulang.
Asalamualaikum.
- Wa'alaikumsalam warahmatullah. - Alaikum salam.
Ya Allah, kau kenapa, Nak?
Kematian tidak terduga calon nomor urut satu,
Pak Agung Arya Suratno,
meninggalkan duka mendalam pada keluarga dan pendukungnya.
Belum terlihat jelas efek berkurangnya
calon peserta pilkada terhadap hasil pemungutan suara.
- Saat ini, Pak Setyo… - Matikan radio.
- Mas, kematiannya Pak Agung… - Sudah…
Tenang saja, ya.
- Mas, tapi aku… - Tapi apa?
Jangan membantah suami.
Kau tidak mau menjadi ahli Neraka cuma gara-gara melawan suami, 'kan?
Bi.
Apa sebenarnya Abi menyadari saat melihat Farah?
Kelakuannya sekarang seperti aneh, ketakutan.
Umi menjadi khawatir melihatnya seperti itu, Bi.
Sejujurnya,
Abi juga khawatir melihat keadaan Farah.
Tapi…
Abi berusaha untuk berhusnuzan, berprasangka baik.
Siapa tahu benar yang dibilang suaminya Farah.
Ini adalah serangan saingan politiknya Wahab.
Ya, tapi, Bi…
Bisa dipastikan dulu tidak, kondisinya?
Karena Umi melihat Farah seperti minta tolong, Bi.
Sejujurnya, Umi juga takut kalau sebenarnya kita juga salah.
Salah karena membiarkan Farah ikut Wahab ke rumahnya lagi.
Kenapa tidak dibawa ke sini dulu, Bi, sama kita?
Mi, itu bukan ranah kita lagi.
Kalau kita masuk ke rumah tangga orang, menjadi mudarat.
Farah dan Wahab sudah menikah, 'kan?
Sudah bukan hak kita lagi.
Abi merasakan apa yang Umi rasakan. Abi khawatir. Abi juga takut.
Sudahlah, kita doakan yang terbaik buat Farah.
Asalamualaikum.
Alaikum salam. Din.
Ini buku titipan Abi.
- Oh, ya. Terima kasih, ya. - Sama-sama.
Din, ikut Umi ke belakang.
Ya sudah, Bi. Asalamualaikum.
Wa'alaikumsalam warahmatullah. Terima kasih.
Ya.
Tolong kasih makanan ini ke Mbak Farah, ya.
- Umi takut dia sakit. - Oh, ya, Mi.
- Ya sudah, Dina berangkat dulu, ya. - Hati-hati, ya.
- Ya, asalamualaikum. - Alaikum salam.
Mau antar makanan, Pak.
Buat Mbak Farah.
Asalamualaikum!
Malam, Bu.
Asalamualaikum, Mas Wahab.
Ini ada titipan dari Umi. Makanan.
Buat Mbak Farah.
Aku boleh sekalian menjenguk Mbak Farah, 'kan?
- Mbak Farahnya lagi istirahat. - Tapi kemarin sudah cerita dia kenapa?
Ya. Terima kasih.
Tapi Mbak Farah lagi istirahat dan ini bukan waktu yang tepat.
- Tapi sebentar saja, Mas. - Embok, masuk.
Bu!
- Permisi, Mbak. - Mbak, sebentar.
- Ya? - Keluarnya bisa lewat sini, 'kan?
Bukan untuk umum, Mbak. Lewat depan saja, lebih terang jalannya.
- Permisi, ya. - Oh…
- Pergi! - Bu Farah!
Ada apa, Bu Farah? Bangun, Bu.
Bangun, Bu.
Duduk.
Aduh.
Maaf, Bu.
Maaf, ya.
Aku ke belakang sebentar ya, Bu.
Susunya diminum dulu.
Permisi, Pak, ada masalah di posko.
♪ Danyang semara bumi ♪
♪ Danyang rumekso negeri ♪
♪ Danyang punden mami ♪
♪ Ranti srono ♪
♪ Dunyo nyawiji ♪
Ini aku pegang.
Mas, tadi di belakang aku lihat ada…
Astagfirullahaladzim.
Apa aku bilang? Jangan ke belakang!
Banyak yang bukan mahrammu di sana, Farah!
Nurut!
Halo.
Mbak Farah?
Halo, Mbak?
Mbak?
Mbak Farah?
Mbak?
- Jangan ganggu aku! - Astagfirullahaladzim.
Kau lagi mengejar surgamu dengan nurut sama aku.
Tenang.
Kau sudah melakukan tugasmu sebagai istri dengan benar.
Sut.
Sut…
Sut…
Sut…
Sudah…
- Umi. Umi! - Ya, Din? Apa?
Sampai sekarang Mbak Farah sama sekali tidak bisa dihubungi, Mi.
- Dina khawatir, Mi. - Astagfirullah.
Ayo, kita… Kita harus melakukan sesuatu.
Ya, Umi juga mengerti situasinya,
tapi kau tahu sendiri Abi.
Pasti melarang.
Ini ada yang aneh.
Bagaimanapun caranya, kita harus bisa dekat sama Mbak Farah,
kita coba membantu.
Kita ketemu, Mi.
- Ya. - Ya, Mi?
Ya, nanti Umi pikirkan caranya.
Sekarang kita harus banyak berdoa untuk Farah, ya?
Pagi, Istriku.
Kau temani aku hari ini.
Ini awal perjalanan kemenangan kita.
Karena…
Aku memilikimu.
Hasilpolling terakhir sebelum memasuki masa tenang telah masuk.
Polling menunjukkan Bapak Setyo
- masih di posisi pertama… - Asalamualaikum.
…dan Bapak Wahab di posisi kedua
- dengan selisih 5%. - Ini hasil ternak dari Pak Wahab.
Susu sapi.
Meninggalnya Bapak Agung secara misterius beberapa waktu lalu,
tentu menjadi pukulan telak bagi pendukungnya.
Ini bukan kampanye ya, Bu.
Tapi nanti Ibu ingat nomor tiga, ya.
Oh, ya.
- Nomor tiga. - Ya, Pak.
Aku menikah cuma ingin dapat Surga.
Tapi kenapa rasanya seperti di Neraka?
Sebenarnya,
siapa yang kunikahi, Embok?
Mbak Farah?
Mbak Farah! Ya Allah, Mbak Farah!
Mbak! Pak, aku mau ketemu Mbakku!
- Mbak Farah! - Ramai ini.
Mbak Farah! Ini Dina, Mbak! Mbak!
Bi! Susul, Bi!
- Permisi. - ♪ Bersinar, bersinar, bersinarlah! ♪
- Mbak! - ♪ Bangkitlah bersama Wahab! ♪
♪ Bersinar, bersinar, bersinarlah! ♪
♪ Bangkitlah bersama Wahab! ♪
Selamat datang di Bumi, wahai Penghuni Neraka.
Nikmati surgamu.
Jangan!
Astagfirullahaladzim.
- Istigfar! - Mbak Farah, ini Dina!
Istigfar. Ini Abi, Nak. Istigfar!
Farah, istigfar, Nak. Ini Abi.
- Istigfar, Nak. - Farah!
- Istigfar. - Maaf, ya.
Aku harus bawa istriku pulang.
Kita bawa Farah ke pondok.
- Tapi ini… - Ibu Farah harus dirukiah di pondok.
Umi, Dina, bawa Farah.
- Ya, Bi. Ayo, Nak. - Istigfar, Nak. Ayo.
Astagfirullahaladzim. Ayo.
Ayo. Tidak apa-apa, Mbak.
Pelan-pelan.
Tenang, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak.
Taruh Farah di kursi.
- Ya, Bi. - Duduk di sini.
- Ayo, Mbak Farah. - Jangan pada melihat!
- Sana! Laa ilaaha illallah. - Mau apa kalian?
Sana.
- Farah! Umi! - Astagfirullahaladzim.
Tolong ambil air!
Ya Allah, Mbak Farah!
Dina, angkat Farah!
- Ya Allah, tidak kuat, Bi! - Wahab, bantu Farah!
- Cepat! - Bawa ke meja!
- Ya, Bi. - Wahab, tolong bawa ke meja!
Astagfirullahaladzim.
Allah juga membuat perumpamaan
bagi orang-orang yang beriman,
yaitu istri Firaun.
Wahab, kau jaga kepalanya! Cepat!
…tapi aku harus menjadi istri penurut agar dapat pintu Surga.
Umi.
Maafkan Farah, Umi.
Maafkan Farah.
Kau kuat, Nak.
Tak ada Tuhan selain Allah. Yang Maha Hidup dan mengurus makhluk-Nya,
tidak mengantuk dan tidak tidur.
Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan dan di belakang mereka.
Astagfirullahaladzim.
Kursi-Nya meliputi langit…
- Ya Allah, Farah! - Farah!
Umi! Ya Allah!
- Farah! - Umi!
Astagfirullahaladzim.
Ya Allah.
Farah!
Astagfirullahaladzim!
Astagfirullah.
Umi, Dina, balikkan Farah!
Bismillahirrahmanirrahim.
Ayo geser, Umi.
Astagfirullahaladzim.
- Farah, ayo. - Astagfirullah.
Istigfar, Nak.
Astagfirullah.
- Astagfirullah. - Umi!
Kenapa ini, Mi?
Astagfirullahaladzim.
Mbak Farah, istigfar, Mbak.
- Nak… - Astagfirullahaladzim.
Mbak Farah, istigfar, Mbak.
Mbak, Ya Allah…
Mereka tidak bisa melihatku.
Hanya kau yang bisa melihatku.
Karena aku disuruh olehnya untuk membodohimu!
…dari keburukan yang Dia ciptakan.
Aku berlindung dengan kalimat Allah dari keburukan yang Dia ciptakan.
Aku berlindung dengan kalimat Allah dari keburukan yang Dia ciptakan.
Aku berlindung dengan kalimat Allah dari keburukan yang Dia ciptakan.
Umi!
Aku berlindung dengan kalimat Allah dari keburukan yang Dia ciptakan.
Aku berlindung dengan kalimat Allah dari keburukan yang Dia ciptakan.
- Aku berlindung dengan kalimat Allah… - Abi! Bau, Bi!
Bau bangkai, Ustaz. Sudah tidak beres.
Aku berlindung dengan kalimat Allah dari keburukan yang Dia ciptakan.
Percuma!
Dia sudah memilih menjadi penghuni Neraka!
Farah!
Mbak Farah.
Allah… Astagfirullahaladzim.
Astagfirullahaladzim.
Astagfirullahaladzim.
Astagfirullah.
Ya Allah. Astagfirullah.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia,
Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci,
Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara,
Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan,
Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa,
Yang Mempunyai nama-nama yang indah.
Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi.
Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar!
Farah!
- Astagfirullah! Mbak Farah! - Abi!
Farah!
Wahab, bagaimana kalau Farah di sini dulu?
Malam ini saja, supaya kita tahu kondisinya.
- Umi. - Mbak Farah.
Ini istriku.
Ustaz Irfan sudah melakukan segalanya.
Sekarang giliranku membawa istriku pulang ke rumah.
Mbak Farah!
Tidak, Mbak Farah!
Mbak Farah!
- Farah… - Umi…
- Dina. - Abi!
Dina, tolong ambilkan handuk dan baju.
Abi.
Abi…
Astagfirullahaladzim.
Bi…
Umi takut, Bi.
Umi takut Farah disakiti lagi di rumah Wahab, Bi.
Bagaimana kalau misalnya pernikahan Farah sudah menjadi neraka untuknya, Bi?
Istigfar, Mi.
Kita belum ada bukti
kalau Wahab memang benar-benar melakukan ini semua ke Farah.
Jangan suuzan. Istigfar.
Bi, kita memang mengajarkan anak-anak untuk patuh sama suami dan keluarganya,
tapi bukannya kita juga mengajari mereka untuk berani melawan kebatilan, 'kan, Bi?
Istigfar, Mi.
- Istigfar. - Ya Allah…
Astagfirullahaladzim.
Astagfirullahaladzim.
Kau kira aku tidak tahu?
Lihat apa yang kau lakukan!
Jangan kau kira orang-orang itu bisa merusak rencanaku.
Aku ini suamimu.
Imammu!
Kau…
Bukan imam
yang patut dicontoh.
Sudah berani kau melawan suami?
Berani?
Tahu hukumannya apa buat istri yang berani melawan suami?
Neraka!
- Kau paling takut sama Neraka, bukan? - Aku sudah di Neraka.
Kau juga bukan suami
yang bisa bawa aku ke Surga.
Kau…
Bukan laki-laki
yang pantas dapat hormat
dari… siapa pun.
Bilang apa kau?
Bilang apa?
Bilang lagi, Farah!
Bilang apa?
Allah juga membuat perumpamaan
bagi orang-orang yang beriman,
yaitu istri Firaun.
Dan Allah menjadikan istri Firaun, Asiyah,
sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman.
Asiyah berdoa kepada Allah,
"Ya Allah, bangunkanlah aku rumah di dalam Surgamu
dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya.
Selamatkan aku
dari kaum yang zalim."
Anak-anakku semua,
beliau perempuan yang kuat, yang sabar
dalam menghadapi cobaan rumah tangganya.
Selama kita beriman kepada Allah dan berserah diri kepada Allah,
Allah juga yang akan menolong kita dari segala kezaliman.
- Paham, ya? - Ya, Umi.
Barakallah. Alhamdulillah.
Astagfirullahaladzim.
Mbak Farah.
Kita harus keluar malam ini, Bu.
Bu Farah bisa, ya?
Embok akan…
Embok.
Asalamualaikum.
Pak Ustaz.
Sebenarnya… Sebenarnya Bu Farah…
Siapkan dia malam ini juga.
Tidak ada waktu lagi!
Astagfirullahaladzim.
Bagaimana, Bi?
Teleponnya terputus, Mi.
Ya Allah.
- Umi! Abi! - Din?
Umi dengar, 'kan, tadi?
Mbak Farah tadi sempat baca surat At-Tahrim ayat 11.
- Ya. - Terus, Dina berpikir
bagaimana kalau ternyata selama ini Mbak Farah menikah sama laki-laki
yang seperti Firaun, Mi?
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.Bi.
Bagaimana kalau ternyata selama ini Mas Wahab zalim sama Mbak Farah?
Kita harus tolong sekarang, Mi! Cepat, sebelum terlambat, Mi! Abi!
- Dina. - Sebelum terlambat!
Sekarang kita siap-siap. Kita ke rumah Farah.
Umi, tolong sekarang berdoa.
- Tidak! - Abi yakin masih ada yang belum selesai.
- Kondisi Abi belum pulih! - Ini lebih penting, Umi!
Dina, Farah, semua santriwati di sini
sudah seperti anak kandung kita sendiri, Umi!
- Tapi, Bi… - Tugas kita ikhtiar.
Kita lihat cara Allah. Sudah, bismillah.
Abi ikut cara Allah.
Di mana kunci mobilnya? Astagfirullahaladzim.
Astagfirullahaladzim.
Laa ilaaha illallah.
Asalamualaikum, Ustaz.
Alaikum…
Bisa bicara sebentar?
Mau ke mana, Ustaz?
Kita lewat sini saja, Bu Farah.
Bu Farah, pegang Embok. Pegang Embok.
- Awas. - Hei!
- Embok! - Bu Farah!
Lepaskan!
- Mas… - Bu Farah!
Jangan…
Umi… Umi sebaiknya minta bantuan. Tolong Abi, ya?
Dina harus tolong Mbak Farah. Oke?
- Hati-hati ya, Nak. - Ya.
- Tidak apa-apa. Asalamualaikum. - Ya Allah…
Alaikum salam.
Bismillah.
KAWASAN TERLARANG HANYA UNTUK YANG BERKEPENTINGAN
Kau…
Sudah bersekutu sama jin.
Farah.
Dia…
Dia yang telah mengembalikan kuasa kepadaku.
Kami cuma butuh perempuan sepertimu
untuk merelakan tubuhmu.
Kau tega…
- Buat istrimu sendiri menjadi tumbal… - Sut…
Diam!
Diam!
Aku tidak butuh suaramu, Sayang.
Ya Allah. Astagfirullahaladzim.
Aduh…
Oke.
Wahai jiwa yang tenang,
kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
Maka masukkanlah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku
dan masukkanlah ke dalam Surga-Ku.
Mas Wahab…
Maka masukkanlah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku
dan masukkanlah ke dalam Surga-Ku.
Aduh…
Seperti punya Mbak Farah.
Ini bukan salahmu, Farah.
Bukan salahmu.
Laa ilaaha illallah.
Mbak Farah!
- Din! - Mbak Farah!
Ya Allah! Mbak Farah!
Kenapa bisa seperti ini?
Mbak tidak kuat lagi. Mbak tidak kuat.
Mbak Farah jangan bicara seperti itu!
Sudah, kita sekarang keluar.
Tidak. Dina akan menolong Mbak Farah keluar dari sini.
Ayo. Bismillahirrahmanirrahim.
Ayo, Mbak. Ayo.
Ayo.
Dina…
Kalian…
Tidak akan pernah bisa
menggagalkan rencanaku.
- Zalim! - Kalian akan mati!
Lepaskan!
Din!
Dina!
Dina!
Dina!
Aduh…
Jangan melawan suami!
Din…
Dina.
Kau milik aku!
Laa ilaaha
illallah.
Dina!
Dina! Din!
Dina!
Dina!
Dina!
Can't find what you're looking for?
Get subtitles in any language from opensubtitles.com, and translate them here.